15 Poin Rencana Damai Trump Ditolak Iran, Apa Isinya?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran menunjukkan keinginan kuat untuk melakukan negosiasi di tengah konflik yang masih berlangsung.
Pernyataan itu disampaikan Trump pada Selasa (24/3/2026), dengan menyebut bahwa pihak Iran bahkan telah memberikan sebuah “hadiah” yang signifikan kepada Amerika Serikat.
Trump mengatakan, “hadiah” tersebut berkaitan dengan minyak dan gas serta Selat Hormuz, meski tidak menjelaskan lebih rinci.
Iran Bantah Adanya Negosiasi
Di sisi lain, Iran membantah klaim tersebut dan menegaskan tidak ada perundingan formal yang tengah berlangsung dengan Amerika Serikat.
“Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan fakenews digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta melarikan diri dari kubangan yang menjebak AS dan Israel,” tulis Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf di media sosial X.
Meski demikian, komunikasi tidak langsung diakui terjadi melalui sejumlah negara perantara, termasuk Pakistan yang memiliki hubungan baik dengan kedua pihak.
Kontak ini dinilai berbeda dengan negosiasi resmi, yang kemungkinan menjadi alasan Iran tetap menampik adanya pembicaraan formal.
Di tengah situasi tersebut, muncul laporan mengenai 15 butir rencana perdamaian yang diusulkan Trump untuk mengakhiri perang, termasuk komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz.
Namun, Iran langsung menolak proposal tersebut, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Press TV.
Baca Juga: Tangki BBM Diserang Drone Iran, Bandara Kuwait Dilalap Api
Isi Rencana Damai Versi Trump
Sejumlah media internasional mengungkap sebagian isi dari proposal yang disebut-sebut diajukan oleh Trump.
Menurut laporan Channel 12 Israel, rencana itu mencakup kewajiban Iran untuk tidak pernah mengembangkan senjata nuklir, membongkar fasilitas nuklir, serta menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya kepada Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Selain itu, Iran juga diminta membatasi program rudalnya, baik dari segi jangkauan maupun jumlah.
Iran juga harus menghentikan dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan Timur Tengah seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, dan Houthi di Yaman.
Dalam proposal tersebut, Iran juga diwajibkan membuka kembali Selat Hormuz sebagai koridor maritim bebas.
Sebagai imbalannya, Amerika Serikat disebut akan membantu pengembangan proyek nuklir sipil di Bushehr serta mencabut seluruh sanksi internasional terhadap Iran.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi terkait detail lengkap proposal tersebut.
Respons Gedung Putih
Gedung Putih memberikan tanggapan hati-hati terkait bocoran rencana perdamaian tersebut.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut laporan yang beredar masih bersifat spekulatif.
Ia mengatakan sebagian informasi yang dipublikasikan tidak sepenuhnya akurat, meski mengakui ada unsur kebenaran di dalamnya.
Leavitt juga menegaskan tidak akan membahas detail percakapan yang sedang berlangsung antara kedua pihak.
Saat ditanya mengenai kemungkinan pengerahan pasukan AS ke daratan Iran, ia enggan memberikan jawaban tegas, namun menyebut langkah tersebut tidak memerlukan persetujuan formal dari Kongres.
Ia juga menyampaikan bahwa Amerika Serikat mengklaim berada “di depan jadwal” dalam upaya penyelesaian konflik.
Baca Juga: Trump Tawarkan Gencatan Senjata ke Iran lewat Pakistan
Proposal Tandingan dari Iran
Iran pada awalnya menolak seluruh isi proposal perdamaian tersebut. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut bahwa sejumlah gagasan telah disampaikan kepada pejabat terkait.
“Jika diperlukan sikap resmi terkait gagasan ini, sikap tersebut pasti akan ditentukan,” ujar Araghchi..
Dia menegaskan bahwa Iran saat ini belum berniat untuk melakukan negosiasi.
Ia juga mengonfirmasi bahwa pihak Amerika Serikat telah mengirimkan berbagai pesan melalui perantara.
Sebelumnya, Iran juga mengajukan lima syarat untuk mengakhiri konflik, termasuk penghentian agresi militer, jaminan tidak adanya perang lanjutan, serta tuntutan ganti rugi.
Selain itu, Iran menuntut hak penuh untuk mengendalikan Selat Hormuz dan meminta Israel menghentikan serangan terhadap sekutunya di kawasan.
Jarak Kesepakatan Masih Jauh
Sejumlah analis menilai peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran masih sangat kecil.
Meskipun kedua pihak sama-sama menyatakan ingin mengakhiri konflik, masing-masing memiliki syarat yang sulit diterima pihak lawan.
Iran dinilai masih berada dalam posisi yang cukup kuat, meski mengalami kerugian militer besar.
Negara tersebut tetap mampu mempertahankan operasional militernya, termasuk meluncurkan drone dan rudal serta menguasai Selat Hormuz.
Kondisi ini membuat Iran tidak merasa perlu memberikan konsesi kepada Amerika Serikat maupun pihak lainnya.
Di sisi lain, pernyataan optimistis dari Gedung Putih justru dinilai dapat memperkecil peluang Iran untuk menyepakati perundingan dalam waktu dekat.
