Putin Tawarkan Bantuan Rusia untuk Mediasi Perang Timur Tengah
Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesiapan Moskwa untuk membantu upaya mediasi konflik Timur Tengah yang telah berlangsung selama berbulan-bulan tanpa mencapai penyelesaian.
Tawaran tersebut disampaikan Putin kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian melalui percakapan telepon pada Rabu (7/10/2026).
Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, melaporkan bahwa Putin mendukung berbagai upaya diplomatik yang dilakukan sejumlah negara untuk meredakan ketegangan di kawasan tersebut.
“Iran dapat yakin bahwa Moskwa juga siap berperan dan memberikan bantuan dalam upaya tersebut,” kata Putin sebagaimana dikutip IRNA.
Pernyataan itu disampaikan ketika perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel masih mengalami kebuntuan, dengan Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama perselisihan.
Baca Juga: Donald Trump Dukung Turki-Pakistan Kirim Pasukan ke Saudi
Putin Dukung Upaya Mediasi Perang Timur Tengah
Dalam percakapan telepon tersebut, Putin dan Pezeshkian membahas perkembangan hubungan bilateral Rusia dan Iran serta situasi konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Menurut laporan IRNA, kedua pemimpin menilai hubungan Moskwa dan Teheran terus menunjukkan perkembangan positif serta menekankan pentingnya memperdalam kerja sama antara kedua negara.
Selain membahas hubungan bilateral, Putin menyinggung berbagai inisiatif diplomatik yang dilakukan sejumlah negara untuk membantu mengakhiri kebuntuan konflik.
IRNA melaporkan bahwa Putin “menyinggung upaya sejumlah negara untuk melakukan mediasi dan membantu meredakan ketegangan, seraya menyatakan bahwa Rusia mendukung upaya tersebut”.
Putin juga menegaskan kesiapan Rusia untuk ikut membantu proses diplomatik tersebut.
Namun, laporan IRNA tidak merinci bentuk bantuan yang akan diberikan Moskwa maupun langkah mediasi yang kemungkinan ditempuh selanjutnya.
Negara-negara yang upaya mediasinya mendapat dukungan Putin dalam percakapan tersebut juga tidak disebutkan.
Pernyataan itu kembali menegaskan kesediaan Rusia untuk berperan dalam upaya meredakan konflik Timur Tengah.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga menyampaikan kesiapan Moskwa untuk membantu menciptakan stabilitas di kawasan yang terdampak perang.
Rusia Sebelumnya Tawarkan Bantuan di Selat Hormuz
Pada September 2026, Lavrov menyampaikan sikap Rusia terhadap konflik Timur Tengah dalam pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Saat itu, Lavrov mengatakan bahwa Moskwa siap membantu menstabilkan situasi di Selat Hormuz dan kawasan Teluk secara lebih luas.
Tawaran tersebut muncul ketika perang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan belum menunjukkan penyelesaian.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama perselisihan setelah Iran memberlakukan blokade di jalur perairan strategis tersebut, sementara Amerika Serikat menerapkan blokade balasan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Situasi itu meningkatkan pentingnya upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan antara kedua negara.
Di tengah kondisi tersebut, Rusia kembali menyatakan dukungannya terhadap upaya diplomatik melalui komunikasi langsung antara Putin dan Pezeshkian.
Meski demikian, belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai kemungkinan keterlibatan langsung Moskwa dalam proses perundingan.
Baca Juga: Budi Gunadi Sadikin Ingin AS Kembali ke WHO bila Terpilih
Hubungan Rusia dan Iran Semakin Erat
Tawaran Putin untuk membantu mediasi konflik Timur Tengah juga muncul di tengah semakin eratnya hubungan Rusia dan Iran.
Kedua negara sama-sama menghadapi berbagai sanksi internasional. Hubungan militer dan perdagangan Moskwa dengan Teheran juga semakin berkembang selama invasi Rusia ke Ukraina, sehingga keduanya kian bergantung satu sama lain.
Perkembangan hubungan tersebut turut menjadi pembahasan dalam percakapan telepon antara Putin dan Pezeshkian.
Menurut IRNA, kedua pemimpin membicarakan “arah perkembangan hubungan yang positif dan terus meluas” antara Rusia dan Iran.
Putin dan Pezeshkian juga menegaskan perlunya memperkuat hubungan bilateral pada masa mendatang.
Pembahasan mengenai kerja sama kedua negara berlangsung bersamaan dengan diskusi mengenai upaya meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Adapun perang di kawasan tersebut dimulai pada akhir Februari 2026 setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Serangan itu menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Sejak konflik berlangsung, Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama ketegangan setelah Iran memberlakukan blokade yang kemudian dibalas Amerika Serikat dengan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Di tengah kebuntuan tersebut, Putin kembali menyatakan dukungan Rusia terhadap upaya mediasi yang dilakukan sejumlah negara dan menawarkan bantuan untuk meredakan konflik.
