Trump Janji Tak Serang Iran Sebelum Pemilu AS, tetapi…
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan Washington tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu atau midterm elections pada 3 November 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di media sosial Truth Social pada Kamis (8/10/2026), sekaligus mengisyaratkan adanya komunikasi antara Washington dan Teheran.
“Kami tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum pemilihan paruh waktu,” kata Trump.
Ia juga menyebut AS tengah menggelar “diskusi produktif” dengan Iran.
Pernyataan ini muncul sehari setelah Trump mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintahannya sedang mempertimbangkan kemungkinan kembali menyerang Iran sebelum pemilu.
Baca Juga: Kabut Asap Sumatra Membuat Polusi Singapura Memburuk
Sikap tersebut sempat memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik dan mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent lebih dari 4 persen hingga menembus 104 dollar AS per barel pada perdagangan Kamis.
Meski menjanjikan tidak akan melancarkan serangan sebelum pemilu, Trump menegaskan blokade laut AS terhadap Iran tetap berlaku.
Ia juga kembali memperingatkan bahwa Teheran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir.
Janji Trump Muncul di Tengah Tekanan Politik
Pernyataan terbaru Trump menunjukkan perubahan nada dibandingkan ucapannya dalam kampanye pada Rabu malam. Saat itu, ia mengatakan kesepakatan dengan Iran “sebenarnya bukan sesuatu yang ingin saya lakukan.”
Pergeseran sikap tersebut terjadi ketika pemilih mulai memberikan suara dalam pemilu paruh waktu dan dukungan masyarakat AS terhadap perang dengan Iran terus melemah.
Survei Reuters/Ipsos pada Agustus menunjukkan, hanya 31 persen warga AS mendukung aksi militer terhadap Iran, turun dari 37 persen pada Maret. Sementara itu, sebanyak 83 persen responden memperkirakan konflik akan berlangsung lama.
Perang juga mendorong kenaikan biaya bahan bakar yang menambah tekanan politik bagi Partai Republik dalam upaya mempertahankan kendali atas Kongres.
Isu keterjangkauan biaya hidup menjadi salah satu kekhawatiran utama pemilih menjelang pemungutan suara pada 3 November.
Berdasarkan data American Automobile Association (AAA), harga bensin di AS meningkat sekitar 40 persen dibandingkan setahun sebelumnya. Rata-rata harga bensin nasional pada Kamis mencapai 4,36 dollar AS per galon, naik dari 2,98 dollar AS sebelum perang dimulai pada akhir Februari.
Dampak politik konflik tersebut juga terlihat dalam kampanye pemilu. Sejumlah kandidat Partai Republik yang bersaing ketat dalam pemilihan Kongres berusaha menjaga jarak dari Trump, terutama terkait perang dengan Iran.
Reuters pada September melaporkan, sejumlah pejabat senior di lingkaran Trump mendorong agar konflik tidak meluas hingga pemilu paruh waktu untuk membatasi potensi kekalahan Partai Republik.
Namun, mereka tetap membuka kemungkinan serangan AS yang lebih besar setelah penghitungan suara selesai.
Baca Juga: Amerika Tuduh Pejabat China Suap Warga Fiji demi Perluas Pengaruh
AS Tetap Perkuat Militer di Timur Tengah
Meski menyatakan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu, AS tetap memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.
Associated Press pekan lalu melaporkan, Washington tengah mengirim sekitar 9.000 personel pelaut dan marinir serta satu kapal induk ketiga ke wilayah tersebut.
Penambahan kekuatan itu berpotensi membuat AS mengoperasikan tiga kapal induk di Timur Tengah pada akhir Oktober.
Trump juga mengklaim pada Kamis bahwa sebanyak 22 juta barel minyak telah melewati Selat Hormuz dalam semalam, tanpa ada minyak yang berasal dari Iran ataupun dikirim ke negara tersebut.
Namun, CNBC menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen angka yang disampaikan Trump.
Sementara itu, data Kpler menunjukkan sekitar 11,3 juta barel minyak mentah dan produk minyak keluar melalui Selat Hormuz setiap hari selama pekan yang berakhir pada Selasa.
Adapun total aliran minyak dari kawasan tersebut tercatat mencapai 20,4 juta barel per hari.
Dengan demikian, janji Trump untuk menahan serangan hingga pemilu belum berarti tekanan militer terhadap Iran berakhir. Washington masih mempertahankan blokade laut dan memperkuat kekuatan militernya di kawasan, sementara kemungkinan langkah selanjutnya setelah pemilu tetap terbuka.
