Perang Iran Bikin Trump Serba Salah, Maju Mundur Berisiko
Mengakhiri konflik tanpa kesepakatan resmi dengan Iran, dinilai berisiko menimbulkan dampak strategis besar bagi stabilitas kawasan Timur Tengah. Negara-negara Teluk disebut khawatir bahwa Iran justru akan keluar dari konflik dengan posisi yang lebih kuat apabila perang dihentikan tanpa hasil konkret.
Kekhawatiran tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington berencana mengakhiri perang dengan Iran dalam waktu relatif singkat. Bahkan, ia membuka kemungkinan bahwa penghentian konflik dapat dilakukan tanpa kesepakatan formal antara kedua pihak.
Jika perang benar-benar dihentikan tanpa kesepakatan, Iran dinilai tetap memiliki pengaruh kuat terhadap jalur pasokan energi di kawasan. Di sisi lain, negara-negara produsen minyak di Teluk berpotensi menanggung dampak konflik yang sebenarnya bukan mereka inisiasi.
Alih-alih melemahkan Iran, skenario tersebut justru dapat memperkuat posisi Teheran, setelah mampu bertahan dari serangan Amerika Serikat dan Israel selama beberapa pekan. Selain itu, kemampuan Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Teluk, serta mengganggu pasar energi global melalui penutupan Selat Hormuz, menunjukkan kekuatan strategis yang tidak bisa diabaikan.
Baca Juga : Harga BBM Tidak Naik, Anggaran Subsidi Bisa Tembus Rp 100T
Dalam wawancara dengan Reuters sebelum pidato nasional pada Rabu (1/4/2026), Trump mengatakan AS akan mengakhiri perang dengan Iran “cukup cepat”, dan sebelumnya memberi sinyal bahwa konflik bisa dihentikan meski tidak ada kesepakatan.
Pengakhiran perang tanpa kepastian kondisi pasca konflik dilihat sebagai ancaman serius bagi keamanan kawasan Teluk. Negara-negara di wilayah tersebut berpotensi menghadapi konsekuensi jangka panjang dari konflik yang berakhir tanpa kejelasan arah.
“Masalahnya adalah penghentian perang tanpa hasil nyata,” kata Mohammed Baharoon, direktur B’huth Research Center di Dubai. “Dia [Trump] mungkin menghentikan perang, tetapi itu tidak berarti Iran akan melakukannya.”
Menurut Baharoon, selama kehadiran militer Amerika Serikat masih berada di pangkalan-pangkalan kawasan Teluk, Iran akan tetap melihat wilayah tersebut sebagai target potensial. Hal ini menjadi sumber utama kekhawatiran negara-negara Teluk, karena Iran dapat keluar dari konflik tanpa mengalami kekalahan, bahkan dengan pengaruh yang semakin besar.
Baharoon juga menyoroti bahwa kebebasan navigasi di kawasan menjadi isu penting. Ia memperingatkan bahwa Iran dapat memperkuat kontrol terhadap jalur perairan strategis, termasuk Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi energi global.
“Ini melampaui Hormuz,” katanya. “Iran telah menempatkan tangannya pada titik tekanan ekonomi global.”
Kemampuan Iran untuk mengganggu distribusi energi global juga dinilai sebagai pesan strategis kepada pihak mana pun yang mempertimbangkan tindakan militer di masa mendatang.
Situasi ini menjelaskan mengapa banyak negara Teluk memilih tidak terlibat langsung dalam konflik. Para pejabat di kawasan menyebut bahwa prioritas utama mereka adalah mencegah konflik berkembang menjadi benturan sektarian antara kelompok Sunni dan Syiah yang berpotensi membentuk ulang dinamika politik Timur Tengah dalam jangka panjang.
Salah Perhitungan Strategis
Risiko eskalasi konflik juga dipengaruhi oleh kesalahan perhitungan strategis yang dilakukan Amerika Serikat terkait respon Iran terhadap serangan yang menargetkan kepemimpinannya.
Pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada fase awal konflik, yang awalnya dimaksudkan sebagai pukulan strategis besar, justru memicu dinamika baru. Posisi tersebut kemudian diisi oleh putranya, Mojtaba Khamenei, dan tindakan yang diharapkan melemahkan sistem justru berubah menjadi pemicu perlawanan lebih besar.
“Dalam satu langkah, Trump dan Benjamin Netanyahu telah mengubah konflik geopolitik menjadi konflik religius dan peradaban,” kata pakar Timur Tengah Fawaz Gerges, dilansir Reuters. “Mereka telah mengangkat Khamenei dari pemimpin yang diperdebatkan menjadi seorang martir.”
Sejumlah analis menilai bahwa kematian Ali Khamenei justru memperkuat legitimasi kelompok garis keras di Iran. Kepemimpinan ulama dan Garda Revolusi semakin solid dalam membangun narasi perlawanan yang dianggap sebagai perjuangan eksistensial.
Mereka juga menilai bahwa asumsi penghilangan pemimpin utama akan memecah sistem pemerintahan Iran kurang memperhitungkan kekuatan institusi yang berlapis serta pengalaman panjang Iran menghadapi konflik dan sanksi internasional.
Akibatnya, yang muncul bukan pelemahan, melainkan peningkatan radikalisasi serta sikap perlawanan yang lebih keras dari Iran.
“Khamenei adalah seorang Ayatollah, ini bukan sesuatu yang Anda lakukan, terlebih kekuatan asing membunuh seorang Ayatollah,” kata Alex Vatanka. “Namun ini Trump… seorang pria yang tidak punya rem, dan bagi lembaga ulama Syiah… dia melanggar setiap norma dan protokol.”
Baca Juga : APBN Masih Aman, Purbaya Ungkap Negara Masih Punya Tabungan!
“Senjata” Energi Iran
Para pengambil keputusan di Amerika Serikat dan Israel dinilai tidak sepenuhnya mengabaikan kekuatan ideologis Iran, tetapi disebut meremehkan ketahanan struktural negara tersebut, menurut pakar terorisme Magnus Ranstorp.
Ia menjelaskan bahwa strategi awal didasarkan pada dominasi udara dengan target fasilitas militer dan tokoh penting Iran. Tujuannya adalah menciptakan keunggulan strategis dengan membatasi kemampuan lawan.
Namun dalam praktiknya, sistem pemerintahan Iran justru menunjukkan ketahanan yang kuat karena didukung oleh berbagai institusi paralel yang dirancang untuk bertahan dalam kondisi tekanan berat.
Selain itu, Washington juga dinilai salah memperhitungkan kemampuan balasan asimetris Iran. Teheran tidak perlu memenangkan perang secara militer di medan tempur, melainkan cukup menciptakan tekanan ekonomi yang besar.
Selama beberapa dekade, Iran telah mengembangkan strategi untuk memanfaatkan titik-titik vital, terutama infrastruktur energi dan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Melalui serangan terhadap fasilitas energi serta ancaman terhadap jalur distribusi minyak, Iran mampu mendorong lonjakan harga energi global, memicu inflasi, serta meningkatkan tekanan terhadap negara-negara Barat.
Tujuan utama strategi tersebut bukan kemenangan militer langsung, melainkan menciptakan tekanan ekonomi yang berkepanjangan.
Penghentian perang secara terburu-buru tanpa jaminan keamanan dinilai berpotensi membuat negara-negara Teluk semakin rentan. Iran juga masih memiliki kemampuan untuk mengaktifkan jaringan global yang telah dibangun selama puluhan tahun.
“Mereka belum memulainya, tetapi mereka memiliki kemampuan besar untuk menghukum AS dan Israel,” kata Ranstorp, menggambarkan Iran sebagai ancaman seperti hydra dengan tentakel yang bisa diaktifkan jauh melampaui Timur Tengah.
Ancaman tersebut terus membayangi setiap kemungkinan penarikan pasukan Amerika Serikat dari kawasan. Jika Washington benar-benar menarik diri, sementara operasi Israel sangat bergantung pada dukungan AS, Iran tidak akan melihat situasi tersebut sebagai kekalahan.
Baca Juga: Trump Ngaku Presiden Iran Ajukan Gencatan Senjata, Benarkah?
