Terungkap! Ini Alasan Negara Arab Dukung Invasi Darat AS ke Iran
Sejumlah negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk, yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), dilaporkan mendorong Presiden Donald Trump agar melanjutkan operasi militer terhadap Iran. Mereka menilai serangan udara yang telah berlangsung selama sekitar satu bulan, belum cukup untuk melemahkan kekuatan Teheran secara signifikan.
Menurut pejabat dari Amerika Serikat, negara-negara Teluk, dan Israel, beberapa sekutu regional awalnya mengeluhkan kurangnya pemberitahuan sebelum operasi militer AS-Israel dimulai. Mereka juga sempat memperingatkan bahwa perang berpotensi membawa dampak luas bagi stabilitas kawasan. Namun seiring berjalannya waktu, sejumlah negara tersebut justru melihat konflik ini sebagai peluang penting untuk menekan kekuatan pemerintahan ulama di Teheran secara permanen.
6 Alasan Negara-negara Arab Diam-diam Dukung AS Gelar Invasi Darat ke Iran
1. Ingin Ada Perubahan Signifikan di Iran
Mengutip laporan PBS, pejabat dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain dalam komunikasi tertutup menyampaikan bahwa operasi militer tidak seharusnya dihentikan sebelum terjadi perubahan besar dalam kepemimpinan Iran atau perubahan drastis dalam kebijakan negara tersebut.
Baca Juga : Perdagangan RI dengan China Rugi! Tetapi dengan AS Untung!
Tekanan dari negara-negara Teluk muncul saat Presiden Trump berada di persimpangan antara menyatakan bahwa kepemimpinan Iran telah melemah dan membuka peluang negosiasi, atau justru meningkatkan eskalasi militer jika kesepakatan damai tidak tercapai dalam waktu dekat.
2. Berani Melawan Balik Iran
Di sisi lain, Trump menghadapi tantangan dalam memperoleh dukungan publik domestik terhadap perang yang telah menewaskan lebih dari 3.000 orang di berbagai wilayah Timur Tengah serta memicu guncangan ekonomi global.
Tetapi, Trump tetap menunjukkan keyakinan bahwa negara-negara sekutu di Timur Tengah masih memberikan dukungan kuat terhadap kebijakan militernya.
“Arab Saudi melawan balik dengan keras. Qatar melawan balik. UEA melawan balik. Kuwait melawan balik. Bahrain melawan balik,” kata Trump kepada wartawan di Air Force One pada Minggu malam saat ia menuju Washington dari rumahnya di Florida.
3. Memberikan Dukungan dengan Berbagai Tingkatan
Sejumlah negara Teluk diketahui menyediakan fasilitas pangkalan militer dan menampung pasukan AS yang digunakan untuk mendukung operasi terhadap Iran, meskipun tidak seluruhnya terlibat langsung dalam serangan ofensif.
Dukungan dari negara-negara tersebut bervariasi. Seorang diplomat Teluk mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan pandangan di antara negara-negara kawasan, meskipun secara umum mereka mendukung langkah Washington. Dalam hal ini, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab disebut sebagai pihak yang paling aktif mendorong peningkatan tekanan militer terhadap Iran.
4. UEA Paling Agresif Dorong Invasi Darat AS ke Iran
Uni Emirat Arab disebut sebagai negara yang paling vokal dalam mendorong opsi invasi darat terhadap Iran. Menurut seorang diplomat, Kuwait dan Bahrain juga mendukung langkah serupa.
UEA disebut semakin frustasi, karena negaranya telah menghadapi lebih dari 2.300 serangan rudal dan drone yang diduga berasal dari Iran. Serangan-serangan tersebut dinilai berpotensi merusak citra UEA sebagai pusat perdagangan, dan destinasi pariwisata yang aman dan stabil di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, Oman dan Qatar cenderung mengambil posisi berbeda dengan lebih menekankan pentingnya jalur diplomasi sebagai solusi konflik.
Diplomat tersebut juga menyebut bahwa Arab Saudi berargumen kepada Washington bahwa penghentian perang secara dini berpotensi menghasilkan kesepakatan yang tidak menjamin keamanan negara-negara Arab di sekitar Iran.
5. Saudi Ingin Program Nuklir Iran Dinetralisir
Arab Saudi menilai bahwa setiap penyelesaian konflik harus mencakup penghentian program nuklir Iran, penghancuran kemampuan rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan.
Selain itu, Riyadh juga menekankan pentingnya memastikan bahwa Iran tidak dapat kembali menutup Selat Hormuz di masa depan. Jalur laut tersebut sebelumnya dilalui oleh sekitar 20 persen distribusi minyak dunia sebelum konflik meningkat.
Sejumlah pejabat Uni Emirat Arab juga meningkatkan retorika terhadap Iran.
“Rezim Iran yang meluncurkan rudal balistik ke rumah-rumah, mempersenjatai perdagangan global, dan mendukung proksi bukanlah lagi ciri yang dapat diterima dalam lanskap regional,” tulis Noura Al Kaabi, seorang menteri negara di Kementerian Luar Negeri UEA, dalam sebuah kolom yang diterbitkan Senin oleh surat kabar berbahasa Inggris yang berafiliasi dengan negara, The National.
Ia juga menambahkan, bahwa yang diinginkan adalah jaminan dari berbagai serangan rudal Iran, gangguan terhadap jalur perdagangan global, serta dukungan terhadap kelompok proksi tidak kembali terulang.
Baca Juga : Purbaya Sebut Pertamina Akan Tanggung Beban Sementara, Kenapa?
6. MBS Ingin Iran Melayani Kepentingan Timur Tengah
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, yang merupakan pemimpin de facto kerajaan, dilaporkan telah menyampaikan kepada pejabat Gedung Putih bahwa melemahkan kemampuan militer, dan kepemimpinan Iran akan memberikan manfaat jangka panjang bagi stabilitas kawasan Teluk.
Namun di sisi lain, pemerintah Saudi juga menyadari bahwa konflik berkepanjangan dapat meningkatkan risiko serangan terhadap infrastruktur energi mereka, yang merupakan tulang punggung ekonomi nasional.
Seorang pejabat pemerintah Saudi menegaskan, bahwa kerajaan tetap menginginkan solusi politik untuk mengakhiri konflik, tetapi prioritas utama tetap pada perlindungan masyarakat serta infrastruktur vital negara.
