AS Cabut Izin Penjualan Minyak Iran, Sanksi Berlaku Lagi
Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi mencabut izin yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak di pasar internasional.
Keputusan tersebut diambil setelah serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial di sekitar Selat Hormuz yang menurut pejabat AS terkait dengan Iran.
Langkah ini sekaligus mengakhiri lebih cepat masa pelonggaran sanksi yang sebelumnya diberikan sebagai bagian dari kesepahaman sementara antara Washington dan Teheran. Kebijakan tersebut juga mendorong kenaikan harga minyak dunia lebih dari 5 persen.
AS Cabut Lisensi Penjualan Minyak Iran
Dikutip dari Anadolu, Departemen Keuangan AS pada Selasa (7/7/2026) mengumumkan pencabutan General License X, lisensi yang sebelumnya mengizinkan produksi, pengiriman, dan penjualan minyak Iran dalam kerangka Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua negara.
Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri (OFAC) menyatakan lisensi tersebut dicabut menyusul meningkatnya insiden keamanan di sekitar Selat Hormuz.
Seorang pejabat AS mengatakan bahwa manfaat yang diberikan dalam kesepahaman dengan Iran bergantung pada perilaku Teheran.
“Iran hanya akan memperoleh manfaat jika menunjukkan perilaku yang baik. Tindakan Iran di Selat Hormuz sama sekali tidak dapat diterima oleh AS dan akan menghadapi konsekuensi,” ungkap pejabat tersebut.
Baca Juga: Bahrain-Kuwait Diserang Iran usai AS Gempur 80 Target
Masa Pelonggaran Sanksi Berakhir Lebih Cepat
Menurut Reuters, Departemen Keuangan AS sebelumnya memberikan izin sementara bagi Iran untuk tetap menjual minyak hingga 21 Agustus 2026 sebagai bagian dari kesepahaman yang dicapai bulan lalu.
Namun, dengan dicabutnya General License X, masa transisi tersebut dipercepat dan akan berakhir pada 17 Juli 2026. Artinya, sanksi terhadap sektor minyak Iran kembali berlaku lebih awal dari jadwal semula.
Meski demikian, seorang pejabat AS menyebut proses negosiasi dengan Iran masih terus berlangsung.
Menurut dia, para perunding tetap berupaya mencapai kesepakatan yang lebih luas dengan itikad baik, meskipun situasi keamanan di kawasan semakin memburuk.
Serangan di Selat Hormuz Jadi Pemicu
Keputusan Washington diambil setelah tiga kapal komersial dilaporkan terkena proyektil saat melintas di sekitar Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir.
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyebut ketiga kapal mengalami kerusakan, namun tidak terdapat laporan korban jiwa dalam insiden tersebut.
Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan indikasi awal menunjukkan proyektil tersebut ditembakkan oleh Iran.
Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan komentar resmi maupun mengklaim bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Baca Juga: Prediksi Netanyahu soal Iran Meleset, Pejabat AS Kecewa
Harga Minyak Dunia Melonjak
Pemberlakuan kembali sanksi terhadap Iran langsung memicu reaksi pasar energi global. Harga minyak dunia dilaporkan naik lebih dari 5 persen karena meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi internasional.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia yang berada di antara Iran dan Oman.
Sebelum meningkatnya ketegangan di kawasan, sekitar 20 persen pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melintasi jalur tersebut setiap hari.
Gangguan terhadap lalu lintas energi di kawasan itu dikhawatirkan dapat mendorong kenaikan harga energi global dan memperbesar beban biaya bagi pemerintah maupun konsumen.
Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, menilai perkembangan terbaru menunjukkan bahwa gencatan senjata yang menjadi dasar kesepahaman antara AS dan Iran tidak sekuat yang sebelumnya diperkirakan pasar.
Menurut dia, pelaku pasar kini kembali harus memperhitungkan risiko geopolitik yang lebih besar dalam menentukan prospek harga energi ke depan.
Di sisi lain, ekspor minyak tetap menjadi salah satu sumber pendapatan utama Iran. Meski berada di bawah sanksi AS selama bertahun-tahun, Teheran masih mampu meningkatkan ekspor minyaknya, terutama ke China, sehingga sektor energi tetap menjadi penopang penting bagi perekonomian negara tersebut.

[…] AS Cabut Izin Penjualan Minyak Iran, Sanksi Berlaku Lagi […]
[…] AS Cabut Izin Penjualan Minyak Iran, Sanksi Berlaku Lagi […]