AS Gempur Iran usai Serangan Kapal di Selat Hormuz
Amerika Serikat (AS) melancarkan serangkaian serangan militer terhadap Iran sebagai respons atas insiden penyerangan terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (Centcom) pada Selasa (7/7/2026) mengumumkan telah memulai operasi militer yang menyasar sejumlah target di Iran. Dalam pernyataannya, sebagaimana dikutip BBC, Centcom menjelaskan bahwa operasi tersebut dilakukan untuk memberikan konsekuensi kepada Iran atas serangan terhadap kapal-kapal dagang di perairan internasional yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata.
“Iran menunjukkan agresi yang tidak beralasan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran yang jelas terhadap gencatan senjata,” demikian pernyataan Centcom.
Sebelumnya, Washington telah memperingatkan akan memberikan respons atas serangan terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz yang disebutnya tidak dapat diterima.
Baca Juga : PM India Janjikan Tuntaskan Restorasi Candi Prambanan Sebelum 2029
Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan serangan AS menghantam Pulau Qeshm, Bandar Abbas, dan Sirik. Laporan tersebut menyebut sejumlah warga mengalami luka akibat pecahan proyektil, namun hingga kini belum ada laporan mengenai korban jiwa.
Iran Sebut AS Langgar Nota Kesepahaman
Wakil Menteri Luar Negeri Iran mengecam operasi militer tersebut dan menyebut tindakan AS sebagai pelanggaran terhadap Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang disepakati kedua negara bulan lalu.
Ia menegaskan bahwa Iran akan mengambil langkah yang dianggap perlu untuk menjaga kepentingan nasional dan keamanan negaranya.
Sebelum melancarkan serangan, Departemen Keuangan AS lebih dahulu mencabut pengecualian sementara terhadap sanksi minyak Iran pada Selasa. Sebelumnya, lisensi tersebut memungkinkan Iran mengekspor minyak dan produk bahan bakar sebagai bagian dari implementasi nota kesepahaman.
Kementerian Luar Negeri Iran menilai pencabutan pengecualian tersebut merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan serta mencerminkan itikad buruk, inkonsistensi, dan ketidakdapatdipercayaan Pemerintah AS.
Meski demikian, seorang pejabat AS yang berbicara secara anonim sebelum pengumuman operasi militer mengatakan para negosiator Washington tetap berupaya melanjutkan pembicaraan guna mencapai kesepakatan akhir dengan Iran.
Iran Dituding Serang Kapal Qatar dan Arab Saudi
Qatar dan Arab Saudi secara terpisah menuduh Iran menyerang kapal tanker milik mereka saat melintasi atau berada di sekitar Selat Hormuz.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, menyatakan Iran bertanggung jawab atas dugaan serangan terhadap kapal Al Rekayyat.
Qatar juga mendesak Iran segera menghentikan tindakan yang dinilai mengganggu stabilitas kawasan dan membahayakan pasokan energi dunia.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyebut kapal tanker Wadyan menjadi sasaran saat melintasi Selat Hormuz.
Riyadh menilai insiden tersebut sebagai ancaman terhadap keamanan pelayaran internasional sekaligus pasokan energi global.
Iran membantah tuduhan tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan tudingan Qatar bertentangan dengan prinsip hubungan bertetangga yang baik.
Ia juga menyatakan kapal-kapal komersial yang berlayar tanpa berkoordinasi dengan Iran atau mematikan sistem pelacakannya berisiko mengalami serangan dan dapat mengganggu upaya Teheran menjaga keselamatan pelayaran di Selat Hormuz.
Muncul Laporan Serangan Lain
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker mengalami kebakaran setelah ruang mesinnya terkena proyektil tak dikenal pada Senin.
Dalam dua insiden terpisah pada Selasa, satu kapal tanker dilaporkan diserang saat keluar dari Selat Hormuz, namun masih mampu melanjutkan pelayaran menuju pelabuhan tujuan.
Sementara itu, kapal tanker lainnya mengalami kerusakan struktural ringan setelah dihantam proyektil.
Isi Kesepakatan AS-Iran
Nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran yang disepakati bulan lalu memperpanjang gencatan senjata kedua negara.
Kesepakatan yang terdiri dari 14 poin tersebut mencakup komitmen mengakhiri konflik di berbagai front, memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, serta pembentukan dana pembangunan dan rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp5.386 triliun, meski Washington tidak diwajibkan memberikan kontribusi pendanaan.
Baca Juga : Rupiah Kembali Sentuh 18.000 per Dolar, Purbaya Suruh ke Bank Sentral
Sebagai bagian dari kesepakatan itu, Iran dan Oman juga diminta menggelar pembicaraan dengan negara-negara Teluk terkait tata kelola dan layanan maritim di Selat Hormuz.
Sebelumnya, Iran sempat menutup secara efektif Selat Hormuz setelah serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari.
Selama konflik berlangsung, Teheran berupaya menegaskan kedaulatannya atas jalur pelayaran tersebut, termasuk dengan membentuk Persian Gulf Strait Authority yang diklaim akan mengatur perizinan pelayaran secara aman.
Menurut kantor berita Fars, berdasarkan kesepakatan terbaru dengan Amerika Serikat, pengelolaan Selat Hormuz nantinya akan dilakukan bersama Oman, termasuk membuka peluang penerapan biaya layanan bagi kapal-kapal yang melintasi jalur strategis tersebut.
