AS Serang Bushehr, Yordania Cegat Rudal Iran di Udara
Amerika Serikat (AS) dilaporkan kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Iran pada Kamis (9/7/2026), termasuk ke Provinsi Bushehr yang berada di pesisir selatan negara tersebut.
Serangan itu terjadi setelah Washington sebelumnya mengklaim telah menggempur puluhan target militer Iran dalam operasi yang dilakukan semalaman.
Hingga Kamis siang waktu setempat, militer AS belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait laporan serangan terbaru tersebut.
Menurut kantor berita pemerintah Iran, IRNA, salah satu lokasi yang menjadi sasaran berada di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr.
“Dermaga untuk kapal nelayan di pantai juga terkena serangan,” sebut seorang pejabat regional yang dikutip oleh IRNA, dilansir dari CNN.
CNN menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen klaim tersebut.
Baca Juga: Iran Balas Trump: Hinaan Tidak Dijawab Kata-kata, Tapi Aksi
Ledakan Terdengar di Bushehr
Selain laporan mengenai area sekitar PLTN Bushehr, warga Kota Chaghadak juga melaporkan adanya sejumlah ledakan pada siang hari.
Kota tersebut diketahui menjadi lokasi pangkalan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang sebelumnya pernah menjadi sasaran serangan pada fase awal konflik.
Kantor berita semi-resmi Fars mengutip kesaksian warga yang mendengar suara ledakan di wilayah tersebut.
“Terdengar suara beberapa ledakan,” tulis Fars.
Meski demikian, belum ada keterangan resmi mengenai lokasi pasti ledakan yang terjadi. Kantor berita Mehr juga melaporkan bahwa informasi mengenai serangan baru muncul sekitar satu jam setelah warga mendengar rentetan dentuman.
Pemerintah Iran kemudian melayangkan protes keras atas serangan yang disebut tidak hanya menyasar wilayah pesisir selatan, tetapi juga dua jembatan kereta api pada jalur menuju Kota Mashhad di timur laut Iran.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut operasi militer tersebut sebagai pelanggaran serius dan menuduh Washington telah mengabaikan kesepakatan yang sebelumnya dibuat untuk mengakhiri konflik.
Teheran juga menilai AS telah melanggar Pasal 1 dan Pasal 5 nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) yang menjadi dasar penghentian perang.
Ketegangan meningkat sejak Presiden AS Donald Trump pada 8 Juli menyatakan secara sepihak bahwa kesepakatan tersebut telah berakhir.
Baca Juga: Iran Salah Disebut Trump Jadi Jepang di KTT NATO, Viral!
Yordania Tingkatkan Kesiagaan
Dampak konflik yang terus meluas mulai dirasakan negara-negara di kawasan. Yordania mengumumkan status siaga setelah sejumlah rudal yang disebut berasal dari Iran melintas di wilayah udaranya.
Sirene peringatan serangan udara sempat berbunyi di beberapa wilayah sebelum sistem pertahanan negara itu melakukan pencegatan.
Pemerintah Yordania memastikan seluruh rudal yang memasuki wilayah udara negara tersebut berhasil ditangani dan tidak menimbulkan ancaman lebih lanjut.
Melalui unggahan di media sosial X, Juru Bicara Pemerintah Mohammad Al Momani menegaskan kesiapan militer Yordania untuk menghadapi segala kemungkinan.
“Angkatan Bersenjata Yordania yang gagah berani berada dalam keadaan siaga tinggi, siap menghadapi ancaman apa pun yang dihadapi Kerajaan, dan mengerahkan seluruh upaya untuk menjaga keamanan negara dan keselamatan warganya,” tulis Al Momani.
