Trump Briefing Netanyahu Usai AS Serang Iran Lagi di Teluk
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan briefing kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai langkah-langkah terbaru Washington di kawasan Teluk pada Kamis (9/7/2026). Pengarahan melalui sambungan telepon itu dilakukan tidak lama setelah militer AS melancarkan serangan terbaru ke wilayah Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan menyerang pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan Teluk.
“Sebagai bagian dari kontak berkelanjutan antara keduanya, Presiden Trump memberitahu Perdana Menteri tentang langkah-langkah Amerika di Teluk,” kata kantor Netanyahu dalam unggahan di X.
Seorang pejabat AS mengkonfirmasi percakapan telepon tersebut, tetapi tidak mengungkapkan rincian lebih lanjut. Kantor Netanyahu menyatakan Trump dan Netanyahu sepakat untuk terus berkoordinasi.
Baca Juga : IMF Prediksi Ekonomi RI Tumbuh pada 2026
“Antara negara-negara di berbagai arena,” imbuh kantor tersebut.
Netanyahu: Perang Iran Belum Berakhir
Sebelumnya pada Kamis, saat menghadiri upacara kelulusan Angkatan Udara di Pangkalan Udara Hatzerim, Israel selatan, Netanyahu menegaskan konflik dengan Iran masih jauh dari selesai.
“Perang Iran belum berakhir. Ada tantangan baru.”
“Mempertahankan superioritas udara adalah pilar fundamental doktrin keamanan nasional Israel. Ini adalah kunci untuk menjaga stabilitas di Timur Tengah yang bergejolak,” katanya seperti dikutip dari surat kabar Yedioth Ahronoth, Jumat (10/7/2026).
Pernyataan senada disampaikan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir. Ia menyebut militer telah menyiapkan rencana lanjutan menghadapi kemungkinan eskalasi.
“Di atas kertas ada rencana baru. Operasi besar masih diperkirakan akan terjadi di depan kita. Bersiaplah,” katanya dalam pernyataan singkat.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan negaranya siap kembali menyerang Iran apabila situasi mengharuskannya.
“Tentara siap dan siaga untuk melanjutkan pertempuran, guna merebut kembali superioritas udara dan menyerang Iran lagi, untuk menghilangkan ancaman, termasuk untuk ketiga kalinya jika perlu,” kata Katz.
Serangan di Selat Hormuz Jadi Pemicu
Serangan terbaru AS disebut sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz pada awal pekan ini. Sejumlah kapal dari Qatar dan Arab Saudi dilaporkan terkena rudal ketika melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Baca Juga : Prabowo Tegaskan Komitmen Anti Korupsi usah Penggeledahan yang Ramai
Iran sebelumnya bersikeras agar seluruh kapal menggunakan rute yang berada lebih dekat dengan wilayah pantainya. Di sisi lain, negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial maupun wilayah negara-negara Teluk.
Di balik ketegangan itu, Washington dan Teheran juga memiliki pandangan berbeda mengenai masa depan pelayaran di Selat Hormuz. Trump menginginkan lalu lintas kapal segera kembali normal demi menekan harga energi menjelang pemilu paruh waktu di AS. Sebaliknya, Iran menolak langkah apa pun yang dinilai dapat mengurangi kendalinya atas jalur pelayaran tersebut.
Serangan terhadap kapal-kapal komersial memicu reaksi keras dari Trump. Ia menyebut kepemimpinan Iran sebagai “sampah” dan menyatakan nota kesepahaman (MoU) antara kedua negara telah “berakhir”. Namun, hingga kini baik Washington maupun Teheran belum secara resmi menarik diri dari kesepakatan tersebut.
