Iran Siapkan 4 Strategi Baru Hadapi Konflik dengan AS
Iran disebut tengah mengubah pendekatan strategisnya dalam menghadapi Amerika Serikat (AS) setelah kembali pecahnya konflik bersenjata antara kedua negara.
Jika sebelumnya mengandalkan kekuatan rudal dan drone, Teheran kini dinilai lebih fokus memanfaatkan posisi geografisnya yang strategis untuk menekan kepentingan ekonomi Washington dan sekutunya.
Laporan The Telegraph pada Kamis (9/7/2026) menyebut para pemimpin Iran menyimpulkan bahwa kekuatan terbesar negara tersebut tidak hanya terletak pada persenjataannya, tetapi juga pada letaknya yang menguasai jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Perubahan strategi itu muncul ketika gencatan senjata yang sempat disepakati kembali berubah menjadi konflik terbuka.
Sebelumnya, AS dilaporkan menyerang sekitar 90 target di Iran yang menyebabkan lebih dari selusin korban jiwa.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain.
Teheran menyebut serangan tersebut sebagai “fase pertama respons hukuman terhadap pelanggaran Amerika”.
Baca Juga: Usai AS Serang Iran Lagi, Netanyahu Gelar Rapat Darurat
Posisi Geografis Jadi Senjata Utama
Setelah menghadapi dua gelombang serangan dari AS dan Israel, Iran disebut mulai menyiapkan langkah untuk mengganggu dua jalur pelayaran strategis dunia, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Kedua jalur tersebut memiliki peran vital dalam distribusi minyak dunia serta perdagangan internasional.
Strategi baru itu semakin menguat setelah muncul dugaan kebocoran intelijen AS yang mengindikasikan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab diam-diam membantu operasi militer terhadap Iran pada awal tahun ini.
Jika informasi tersebut terbukti benar, Teheran disebut tidak lagi memandang kedua negara itu sebagai pihak netral dalam konflik.
Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, memperingatkan bahwa setiap tindakan baru dari AS akan mendapat respons keras dari Teheran.
Ia menegaskan bahwa setiap ancaman terhadap keamanan Iran akan dibalas secara langsung.
Empat Strategi yang Disiapkan Iran
Kantor berita Fars yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran mengungkap empat langkah utama yang disiapkan apabila konflik terus meningkat.
Pertama, Iran berpotensi menutup Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia.
Langkah tersebut dapat dilakukan melalui serangan terhadap kapal tanker, pemasangan ranjau laut, maupun serangan ke fasilitas energi negara-negara tetangga.
Penutupan jalur tersebut dinilai dapat memberikan tekanan besar terhadap pasokan energi global dan perekonomian negara-negara Barat.
Kedua, Iran disebut akan memperluas tekanan ke Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden.
Upaya ini diperkirakan dilakukan melalui kelompok Houthi di Yaman yang selama ini menjadi sekutu Teheran.
Apabila Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb terganggu secara bersamaan, Iran berpotensi memiliki pengaruh besar terhadap arus perdagangan antara Timur Tengah, Asia, dan Eropa.
Ketiga, Teheran berupaya meningkatkan biaya ekonomi dan militer yang harus ditanggung AS.
Strategi ini dilakukan melalui serangan asimetris yang bertujuan membuat biaya perang menjadi lebih besar dibandingkan manfaat yang diperoleh Washington.
Serangan rudal dan drone terhadap pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait disebut sebagai bagian awal dari pendekatan tersebut.
Keempat, Iran disebut menerapkan konsep “ambiguitas strategis” dengan memperluas pilihan respons yang dapat diambil jika kembali diserang.
Melalui strategi ini, Teheran ingin menciptakan ketidakpastian sehingga lawan kesulitan memperkirakan bentuk maupun tingkat respons yang akan dilakukan.
Baca Juga: Kenapa Jenazah Khamenei Dibawa ke Lima Kota? Ini Alasannya
Kekuatan Militer Tetap Diperkuat
Di tengah perubahan strategi tersebut, Iran dilaporkan tetap memperkuat kemampuan militernya.
Negara itu masih mengoperasikan berbagai rudal balistik, termasuk Kheibar Shekan dan rudal hipersonik Fattah, serta armada drone Shahed yang selama ini menjadi andalan.
Selain itu, sistem pertahanan udara Iran terus dibangun kembali dengan memanfaatkan sistem Bavar-373 buatan dalam negeri, sistem S-300 buatan Rusia yang masih beroperasi, serta jaringan radar peringatan dini di sepanjang wilayah pesisir.
Seorang pejabat Iran yang dilansir dari The Telegraph mengatakan bahwa persiapan militer justru semakin ditingkatkan setelah gencatan senjata.
Menurutnya, pembangunan rudal, drone, program pertahanan, hingga pemulihan sistem pertahanan udara terus dipercepat guna menghadapi kemungkinan konflik yang lebih besar di masa mendatang.
