Dua Raksasa Minyak AS Raih Cuan Jumbo dari Perang AS-Iran
Dua raksasa minyak asal Amerika Serikat (AS), ExxonMobil dan Chevron, membukukan keuntungan fantastis pada kuartal II-2026. Lonjakan harga minyak dunia akibat perang AS-Iran menjadi salah satu faktor utama yang mendongkrak kinerja kedua perusahaan tersebut.
ExxonMobil mencatat laba sebesar US$14,5 miliar atau sekitar Rp259,5 triliun sepanjang kuartal II-2026. Dengan capaian tersebut, perusahaan diperkirakan menghasilkan sekitar US$160 juta atau Rp2,8 triliun setiap harinya selama periode tersebut.
Sementara itu, Chevron yang merupakan perusahaan minyak terbesar kedua di AS membukukan laba sebesar US$12,1 miliar atau sekitar Rp216,5 triliun. Angka tersebut melonjak lebih dari empat kali lipat dibandingkan laba pada periode yang sama tahun sebelumnya, yakni US$2,5 miliar atau sekitar Rp44,7 triliun.
“Perusahaan-perusahaan ini mencetak uang karena harga minyak melonjak di seluruh dunia,” ujar Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow, dikutip dari CNN, Sabtu (8/8/2026).
Harga minyak mentah global diketahui telah meningkat lebih dari 40% sepanjang 2026 akibat terganggunya pasokan dari kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut memberikan keuntungan tambahan bagi perusahaan minyak yang memiliki fasilitas pengolahan sendiri seperti ExxonMobil dan Chevron.
Baca Juga : Iran Bakal Buka Selat Hormuz, Kompensasi Perang Jadi Salah Satu Syarat
Menurut Lipow, kapasitas penyulingan minyak global yang hilang diperkirakan mencapai 6-7 juta barel per hari. Berkurangnya kapasitas tersebut membuat kilang yang masih beroperasi mendapatkan margin keuntungan yang lebih tinggi.
Kilang Jadi Sumber Keuntungan Besar
Kinerja positif ExxonMobil dan Chevron tidak hanya ditopang oleh tingginya harga minyak mentah. Bisnis pengolahan atau penyulingan minyak juga memberikan kontribusi besar terhadap keuntungan perusahaan.
“Exxon dan Chevron memiliki kilang yang beroperasi dengan sangat baik. Kami berada pada margin penyulingan tertinggi untuk bensin, bahan bakar jet, dan diesel,” kata Lipow.
Performa bisnis hilir Chevron menjadi salah satu contohnya. Divisi yang mencakup kegiatan pengolahan minyak tersebut berhasil berbalik dari kerugian US$817 juta atau Rp14,6 triliun pada tahun sebelumnya menjadi laba US$4,9 miliar atau sekitar Rp87,6 triliun pada kuartal II-2026.
Baca Juga : Prabowo Sebut Nilai Presiden 98, Nilai 100 Hanya Milik Tuhan
Kondisi ini menunjukkan bahwa gangguan pasokan minyak global tidak selalu berdampak negatif bagi seluruh pelaku industri. Perusahaan yang memiliki jaringan kilang dan mampu mengolah minyak secara optimal justru dapat memperoleh margin yang lebih besar ketika kapasitas penyulingan global menurun.
Shell Ikut Raup Laba Besar
Tren keuntungan besar juga terlihat pada perusahaan energi global lainnya. Shell melaporkan laba hampir US$10 miliar atau sekitar Rp178,97 triliun pada kuartal II-2026.
Capaian tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan keuntungan Shell pada periode yang sama tahun sebelumnya. Bahkan, laba tersebut menjadi rekor laba kuartalan tertinggi kedua dalam sejarah perusahaan.
Kenaikan keuntungan perusahaan-perusahaan minyak besar tersebut memperlihatkan bagaimana gejolak pasar energi akibat konflik geopolitik dapat menciptakan keuntungan besar bagi produsen dan perusahaan pengolahan minyak tertentu.
Di sisi lain, kenaikan harga energi juga berpotensi meningkatkan biaya bahan bakar dan berbagai produk turunan minyak bagi konsumen serta sektor industri di berbagai negara.
