Milisi Irak Ancam Balas Serangan Saudi-AS, Ini Alasannya
Pemimpin milisi Harakat Hizballah al-Nujaba Irak, Akram al-Kaabi, menyatakan akan melakukan pembalasan atas serangan gabungan Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS) yang terjadi bulan lalu. Serangan tersebut menyasar fasilitas Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak, organisasi induk yang menaungi Harakat Hizballah al-Nujaba.
Dalam pernyataannya, al-Kaabi menilai jalur diplomasi dengan Arab Saudi tidak lagi efektif. Ia bahkan menyerukan agar Riyadh mendapat balasan melalui tindakan militer sebagai respons atas serangan terhadap PMF.
“Rudal hanya bisa dilawan dengan rudal dan api hanya bisa dibalas dengan api,” ujar al-Kaabi, dikutip dari Al Jazeera.
Klaim Serangan Balasan Arab Saudi
Serangan gabungan Arab Saudi dan Komando Pusat AS pada bulan lalu disebut menyasar kelompok milisi yang mendapat dukungan Iran di Irak. Riyadh dan Washington menuding kelompok tersebut berada di balik serangkaian serangan terhadap pasukan AS serta fasilitas energi Arab Saudi.
Baca Juga : Jelang Pemilihan Presiden FIFA, 5 Negara Cabut Dukungan
PMF, pasukan paramiliter yang menjadi bagian dari struktur keamanan Irak, menyatakan serangan tersebut menewaskan sedikitnya 20 anggotanya dan menyebabkan 32 orang lainnya terluka.
Ketegangan tersebut masih menjadi perhatian pemerintah Irak. Pada Jumat (7/8/2026), Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi bertemu dengan Kepala Intelijen Arab Saudi Khalid bin Ali Al Humaidan di Baghdad.
Dalam pertemuan tersebut, al-Zaidi kembali menegaskan komitmen pemerintah Irak untuk memastikan wilayah negaranya tidak digunakan sebagai titik awal serangan terhadap negara lain.
Al-Humaidan juga kembali mengundang al-Zaidi untuk berkunjung ke Riyadh. Undangan tersebut disampaikan setelah sang perdana menteri membatalkan rencana kunjungannya ke Arab Saudi sebagai dampak dari serangan sebelumnya.
Perubahan Sikap Arab Saudi
Serangan udara tersebut menunjukkan perubahan pendekatan Arab Saudi setelah selama sekitar enam bulan memilih mengambil posisi yang relatif berhati-hati sejak konflik kawasan pecah pada Februari lalu.
Baca Juga : Trump Ancam Penjarakan Pembocor Stok Amunisi AS
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyebut serangan tersebut sebagai tindakan balasan atas serangan yang menyasar sejumlah fasilitas minyak strategis milik kerajaan dalam beberapa hari sebelumnya.
“Kerajaan menegaskan bahwa pihaknya tidak mencari eskalasi, tetapi akan menanggapi setiap bentuk agresi yang mengancam kedaulatan,” kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan Saudi Mayor Jenderal Turki al-Malki, dikutip dari The New York Times.
Meski demikian, pemerintah Arab Saudi tampaknya berusaha menempatkan operasi tersebut sebagai respons terbatas terhadap serangan tertentu. Sikap itu berbeda dengan upaya mengaitkannya secara langsung sebagai bagian dari konflik yang lebih luas antara AS dan Israel dengan Iran.
