Taiwan Siapkan Strategi “Neraka Drone” untuk Hadapi Ancaman China
Taiwan menyiapkan strategi pertahanan berbasis drone untuk menghadapi potensi invasi China. Taipei bahkan berencana menjadikan wilayah di sekitar Taiwan sebagai “neraka drone” bagi pasukan Beijing.
Strategi tersebut dikembangkan seiring meningkatnya kemampuan militer China di sekitar Taiwan. Beijing diketahui terus mengerahkan kapal perang, pesawat, rudal, dan drone dalam berbagai latihan serta patroli di sekitar pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut.
Taiwan sendiri telah meningkatkan investasi pada teknologi drone dan berbagai sistem senjata nirawak.
Strategi itu salah satunya terinspirasi dari pengalaman perang Rusia-Ukraina, ketika drone berbiaya relatif murah digunakan untuk mendeteksi, melacak, hingga menyerang posisi pasukan lawan.
Baca Juga: Rp54 Triliun Dikucurkan Trump untuk Mineral Kritis AS
Mengutip laporan The New York Times, Senin (10/8/2026), konsep “neraka drone” Taiwan dirancang untuk menggunakan drone dalam mendeteksi pasukan China, memantau pergerakan mereka, serta melakukan serangan sebelum pasukan Beijing berhasil membangun pijakan di Taiwan.
“Upaya kami dalam bidang drone dan penanggulangan drone dimulai relatif terlambat. Pada awalnya, kami mencoba berbagai hal sambil terus belajar dari pengalaman,” kata Letnan Jenderal Huang Wen-chi, seorang petinggi militer Taiwan, kepada The New York Times.
Strategi tersebut mulai diterapkan dalam latihan militer Taiwan. Dalam latihan Han Kuang selama 10 hari yang dimulai pada Rabu pekan lalu, pasukan Taiwan berlatih menggunakan drone untuk melakukan pengintaian sekaligus mendeteksi dan menghancurkan drone milik lawan.
Taiwan mempelajari pendekatan “David vs Goliath” yang digunakan Ukraina dalam menghadapi Rusia. Drone yang relatif murah dinilai mampu memberikan keuntungan besar dalam mendeteksi dan menyerang pasukan lawan yang memiliki kekuatan militer lebih besar.
Baca Juga: Amunisi AS Dikuras Perang Iran, Rusai dan China Mengintai
Pendekatan serupa ingin diterapkan Taiwan untuk menghadapi China.
China berjarak sekitar 177 kilometer dari Taiwan dan menganggap pulau tersebut sebagai bagian dari wilayahnya.
Beijing menyatakan lebih memilih reunifikasi secara damai, tetapi tetap tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer.
Di sisi lain, aktivitas militer China di sekitar Taiwan terus meningkat. Selain mengerahkan kapal perang, pesawat, rudal, dan drone, Beijing juga meningkatkan patroli penjaga pantai serta latihan militer.
Mick Ryan, pensiunan mayor jenderal Australia yang mempelajari perang di Ukraina dan situasi Taiwan, mengatakan, “Taiwan telah menyadari bahwa drone akan menjadi penting di semua ranah dan dalam semua tahapan, dalam kemungkinan perang dengan China.”
Taiwan Targetkan Produksi 100.000 Drone per Bulan
Untuk memperkuat strategi tersebut, pemerintah Taiwan juga ingin menjadikan negaranya sebagai salah satu pusat manufaktur drone dunia.
Taipei menargetkan produksi hingga 100.000 drone per bulan pada 2030. Sekitar setengah dari produksi tersebut nantinya ditujukan untuk pasar ekspor.
Militer Taiwan juga ditargetkan memiliki lebih dari 210.000 drone udara dan drone berbasis laut. Namun, penguatan teknologi tersebut juga membutuhkan perubahan dalam cara pasukan beroperasi di medan perang.
Tentara Taiwan harus mampu bergerak cepat, berbagi informasi yang diperoleh dari drone, serta tidak terlalu lama bertahan di satu lokasi. Pergerakan yang lambat dinilai dapat membuat pasukan lebih mudah menjadi sasaran serangan.
Shu Hsiao-Huang, peneliti senior di Institute for National Defense and Security Research di Taipei, mengatakan, “Operasi militer pasukan di garis depan harus mengalami perubahan total dibandingkan masa lalu. Dalam Perang Rusia-Ukraina, jika Anda menembakkan satu peluru, Anda mungkin tidak akan mendapat kesempatan untuk menembakkan peluru kedua jika hanya tetap berada di posisi tersebut tanpa bergerak.”
Taiwan juga mulai mengubah struktur militernya. Salah satu langkahnya adalah membentuk Littoral Combat Command yang menggabungkan drone, rudal bergerak, dan artileri untuk memperkuat pertahanan di wilayah pesisir.
Pemerintah Taiwan telah mengusulkan anggaran sebesar 6,5 miliar dollar AS selama lima tahun untuk pengembangan teknologi drone.
Taipei tidak hanya ingin memperkuat kebutuhan militernya sendiri, tetapi juga berupaya menjadi pemasok penting komponen dan drone bagi negara lain.
Pada tiga bulan pertama 2026, nilai ekspor drone Taiwan mencapai 115 juta dollar AS. Angka tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan total ekspor drone sepanjang 2025.
Republik Ceko menjadi salah satu tujuan ekspor terbesar drone Taiwan. Sejumlah produk drone buatan Taiwan juga telah dikirim ke Ukraina.
Pengembangan industri drone tersebut menjadi bagian dari strategi Taiwan untuk memperkuat kemampuan pertahanan sekaligus membangun industri teknologi dalam negeri di tengah meningkatnya tekanan militer China.
