Danantara Investasi Rp44,75 Triliun ke JBS, Apa Dampaknya?
Danantara Indonesia melalui Danantara Investment Management (DIM) mengalokasikan investasi sebesar US$2,5 miliar atau sekitar Rp44,75 triliun untuk membangun kemitraan strategis jangka panjang dengan JBS Group, salah satu perusahaan protein terbesar dunia.
Melalui kerja sama tersebut, DIM akan memperoleh 25% kepemilikan dalam perusahaan patungan (joint venture/JV) baru yang mengelola kegiatan operasional JBS di Australia dan Selandia Baru.
Kemitraan ini ditujukan untuk mengembangkan ekosistem protein Indonesia sekaligus memperkuat jaringan pasokan protein di kawasan Asia Tenggara.
JV tersebut juga memiliki peluang mendapatkan tambahan modal hingga US$2,5 miliar secara bertahap. Dengan demikian, total dana yang berpotensi tersedia mencapai US$5 miliar.
Baca Juga : Dana Asing di Pinjol RI Tembus Puluhan Triliun
Modal tersebut nantinya dapat digunakan untuk mendanai akuisisi maupun proyek greenfield di Indonesia, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru.
Investasi JBS Belum Tentu Kurangi Impor Sapi
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kerja sama ini memiliki nilai strategis karena Indonesia dapat memperoleh akses terhadap pengalaman manajemen JBS, teknologi, standar operasional internasional, serta jaringan pasokan Australia dan Selandia Baru.
Kedua negara tersebut selama ini menjadi salah satu sumber pasokan daging sapi bagi Indonesia.
Namun, Yusuf mengingatkan bahwa investasi tersebut tidak secara otomatis membuat ketergantungan Indonesia terhadap impor sapi dan daging sapi berkurang.
Pasalnya, produksi sapi dalam negeri hingga kini masih belum mencukupi kebutuhan nasional. Kondisi tersebut membuat impor tetap menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan daging.
“Jika investasi lebih banyak digunakan untuk memperkuat rantai pasok JBS di luar negeri atau memperlancar masuknya produk impor ke Indonesia, dampaknya lebih besar pada penguatan akses terhadap pasokan global, bukan peningkatan kapasitas produksi dalam negeri,” ujar Yusuf kepada Kontan, Minggu (9/8/2026).
Menurut Yusuf, kontribusi investasi terhadap ketahanan protein nasional akan sangat ditentukan oleh arah penggunaan modal tersebut. Investasi akan memberikan dampak lebih besar apabila masuk ke sektor hulu, seperti pembibitan, penyediaan pakan, penggemukan, dan pengolahan yang melibatkan peternak rakyat.
Potensi tambahan modal hingga US$5 miliar dinilai cukup signifikan untuk meningkatkan kapasitas industri sekaligus membuka peluang transfer teknologi.
Meski demikian, industri peternakan nasional masih menghadapi berbagai kendala struktural. Beberapa di antaranya adalah produktivitas ternak yang rendah, mahalnya biaya pakan, keterbatasan lahan, dominasi peternak skala kecil, hingga belum meratanya infrastruktur rantai dingin.
“Jika investasi hanya masuk ke hilir atau penggemukan berbasis sapi bakalan impor, kapasitas industri memang bisa meningkat, tetapi ketergantungan terhadap impor belum tentu berkurang,” katanya.
Sebaliknya, investasi yang diarahkan pada pembibitan, perbaikan kualitas genetik ternak, pengembangan pakan lokal, serta kemitraan bersama peternak rakyat dinilai berpotensi meningkatkan produksi dalam negeri secara lebih berkelanjutan.
Yusuf juga mendorong pemerintah menetapkan target investasi domestik yang jelas dan terukur sejak awal, khususnya pada sektor hulu. Target tersebut perlu disertai mekanisme transfer teknologi dan pelibatan peternak lokal.
Selain itu, diperlukan kebijakan pendukung seperti penyederhanaan perizinan, insentif investasi, pengembangan riset pembibitan dan pakan, serta peningkatan infrastruktur logistik dan cold chain.
Investasi tersebut juga dinilai perlu diselaraskan dengan agenda ketahanan pangan nasional dan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan begitu, peningkatan kapasitas industri protein dapat benar-benar diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.
Danantara Gandeng Operator Kelas Dunia
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Patria Sjahrir, sebelumnya mengatakan kerja sama dengan JBS merupakan bagian dari strategi Danantara untuk menggandeng perusahaan global yang memiliki pengalaman dan kapasitas operasional kelas dunia.
Baca Juga : Dua Raksasa Minyak Untung Banyak Berkat Perang AS-Iran
Menurut Pandu, kemitraan tersebut juga sejalan dengan mandat investasi Danantara dalam mencari peluang penciptaan nilai dalam jangka panjang.
“Kemitraan strategis ini mencerminkan komitmen Danantara Indonesia dalam membangun kolaborasi dengan mitra global yang sejalan dengan mandat investasi kami,” ujar Pandu dalam keterangan resmi, Jumat (7/8/2026).
Ia menambahkan, kerja sama tersebut akan memberikan DIM akses terhadap ekosistem bisnis internasional yang sudah berkembang serta pengalaman dan jaringan distribusi JBS.
“Selain mendapatkan akses terhadap ekosistem bisnis yang telah mapan di pasar internasional yang maju, kemitraan ini diharapkan dapat memanfaatkan pengalaman sekaligus jalur distribusi dari perusahaan protein global terkemuka yang dapat berkontribusi terhadap pengembangan jangka panjang sektor protein Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, Global Chief Executive Officer JBS Gilberto Tomazoni mengatakan kolaborasi dengan Danantara merupakan bagian dari rencana ekspansi jangka panjang perusahaan di kawasan Asia Tenggara.
Menurutnya, kegiatan JBS di Australia dan Selandia Baru memiliki standar operasional kelas dunia sekaligus peluang pertumbuhan yang masih besar.
“Bersama Danantara, kami berada pada posisi yang tepat untuk memperluas kehadiran kami di Indonesia dan Asia Tenggara, memperkuat rantai pasok protein regional, memperluas akses pasar, serta mempercepat pengembangan sektor protein Indonesia,” kata Tomazoni.
