Trump Sebut Kuba Negara Gagal, Delegasi Walk Out di PBB
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Kuba dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (22/9/2026).
Trump menyebut Kuba sebagai negara gagal dan memperkirakan pemerintahan komunis di negara tersebut akan runtuh. Ia juga mengatakan pemerintahannya tengah mendorong perubahan mendasar terhadap situasi di Kuba. Pernyataan tersebut dilaporkan Reuters dalam pemberitaan mengenai pidato Trump di PBB.
“Ini benar-benar negara gagal, gagal seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan akan runtuh,” kata Trump dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB, seperti dikutip Reuters.
Baca Juga : Perkuat Rupiah, BI Siapkan Strategi Baru Hadapi Dolar AS
Trump kemudian menegaskan pandangannya mengenai sistem politik Kuba dengan mengatakan, “Komunisme tidak akan pernah datang ke Amerika, tetapi kebebasan akan datang ke Kuba.”
Pernyataan tersebut mendapat respons langsung dari delegasi Kuba. Mereka melakukan aksi walk out dari ruang Sidang Majelis Umum PBB ketika Trump menyampaikan kritik terhadap pemerintahan komunis Kuba.
Diaz-Canel Tegaskan Kedaulatan Kuba
Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, merespons pernyataan Trump dengan menegaskan bahwa negaranya akan mempertahankan kedaulatannya.
Melalui unggahan di media sosial X, Diaz-Canel menuduh pemerintahan Trump menggambarkan Kuba sebagai ancaman untuk membenarkan kebijakan AS yang lebih keras terhadap negaranya.
Pernyataan Trump di PBB disampaikan ketika hubungan Washington dan Havana kembali berada dalam tekanan. AS telah mempertahankan embargo perdagangan terhadap Kuba selama lebih dari enam dekade, sementara pemerintahan Trump belakangan meningkatkan tekanan terhadap negara tersebut.
Krisis Energi Makin Menekan Kuba
Di tengah meningkatnya tekanan dari AS, Kuba juga menghadapi persoalan energi. Negara tersebut mengalami kekurangan bahan bakar dan pemadaman listrik yang berkepanjangan.
Reuters melaporkan jaringan listrik Kuba kembali mengalami keruntuhan total pada 18 September 2026. Gangguan tersebut berdampak pada jutaan warga dan menjadi keruntuhan jaringan listrik nasional yang keenam sejak Januari. Kondisi tersebut dikaitkan dengan persoalan infrastruktur yang telah lama bermasalah serta kekurangan bahan bakar.
Baca Juga : Jepang Minta Penghapusan Label “Negara Musuh” ke PBB!
AS sendiri telah mempertahankan embargo perdagangan terhadap Kuba selama lebih dari 60 tahun. Pada masa pemerintahan Trump, tekanan terhadap Havana kembali diperkuat.
Trump juga sebelumnya pernah menyebut Kuba sebagai negara gagal. Pada Juni 2026, ia mengatakan AS memiliki rencana untuk Kuba dan akan mengambil langkah terkait negara tersebut.
Hubungan AS dan Kuba telah lama mengalami ketegangan, terutama sejak Revolusi Kuba yang dipimpin Fidel Castro pada 1959. Hingga kini, persoalan sistem politik, embargo, dan kebijakan luar negeri kedua negara masih menjadi sumber ketegangan dalam hubungan Washington-Havana.
