AS-China Perpanjang Gencatan Dagang hingga Januari 2027
Amerika Serikat (AS) dan China sepakat memperpanjang “gencatan senjata” perang dagang selama dua bulan hingga 10 Januari 2027.
Perpanjangan tersebut membuat batas waktu gencatan dagang yang sebelumnya berakhir pada November 2026 kembali ditunda.
Kesepakatan itu diumumkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Rabu (23/9/2026), di sela-sela penyambutan kenegaraan Presiden China Xi Jinping oleh Presiden AS Donald Trump di Washington DC.
“Perpanjangan hingga 10 Januari dilakukan untuk memberi kami lebih banyak waktu guna melihat apa yang dapat kami capai di bidang ekonomi,” terang Bessent, dikutip dari New York Times.
“Kedua pihak berupaya mengurangi tarif impor senilai 30 miliar dollar AS dan berpeluang membuat pengumuman terkait layanan keuangan,” sambungnya.
Baca Juga: Mamdani Kecam Pidato Netanyahu di PBB, ICC Disinggung
AS-China Tunda Pembatasan Ekspor Tanah Jarang
Perpanjangan gencatan dagang tersebut memberi kesempatan bagi Washington dan Beijing untuk melanjutkan negosiasi mengenai pemangkasan tarif impor senilai 30 miliar dollar AS.
Kesepakatan itu juga menunda pemberlakuan aturan ketat China mengenai ekspor mineral tanah jarang yang sebelumnya dijadwalkan mulai berlaku pada 10 November.
Aturan tersebut mewajibkan izin khusus dari Beijing untuk setiap produk ekspor global yang mengandung sedikitnya 0,1 persen material tanah jarang.
Bessent sebelumnya menyebut rencana pembatasan tersebut sebagai “serangan bazooka ke basis industri dunia bebas”.
Penundaan itu dinilai dapat membantu menjaga pasokan bahan mentah yang dibutuhkan industri otomotif, pesawat terbang, hingga semikonduktor di AS.
Gencatan dagang yang bermula dari KTT di Korea Selatan tahun lalu juga menangguhkan pengenaan tarif balasan antara kedua negara.
Selain perdagangan barang dan komoditas pertanian, perpanjangan waktu negosiasi tersebut mencakup pembahasan regulasi dan mitigasi risiko teknologi kecerdasan buatan (AI).
Pembahasan tersebut antara lain berkaitan dengan potensi bahaya agen AI yang tidak terkendali serta risiko peretasan siber lintas negara.
Meski aturan ekspor tanah jarang ditangguhkan, pelaku usaha di Eropa dan Asia masih mengkhawatirkan ketidakpastian jangka panjang.
Presiden Kamar Dagang Uni Eropa di China Jens Eskelund mengatakan dunia usaha membutuhkan kepastian untuk menyusun rencana bisnis dan investasi.
“Perpanjangan singkat selama dua bulan ini tidak cukup menjawab kekhawatiran komunitas bisnis Eropa dalam mencari solusi yang memberikan transparansi serta prediktabilitas perencanaan bisnis,” kata Jens Eskelund.
Baca Juga: 8 Pelaut Amerika Coba Bunuh Diri Saat Jalani Misi Perang Iran
Perpanjangan masa negosiasi juga memberi waktu bagi AS dan China untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah agenda politik kedua negara.
AS akan menghadapi pemilu sela pada November 2026 dan KTT G20 di Miami pada Desember.
Sementara itu, China memiliki agenda Sidang Pleno Komite Sentral Partai Komunis serta KTT APEC di Shenzhen.
Jika pertemuan kenegaraan Trump dan Xi di Washington berlangsung sesuai rencana, keduanya diproyeksikan kembali bertemu di Shenzhen dan Miami.
Pertemuan tersebut berpotensi menjadi kesempatan bagi AS dan China untuk menandatangani kesepakatan dagang komprehensif sebelum batas waktu gencatan dagang berakhir pada Januari 2027.
