Trump Sebut AS Punya Dua Pilihan untuk Iran: Berdamai atau Hancurkan
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan Washington memiliki dua pilihan dalam menghadapi Iran, yakni mencapai kesepakatan atau menghancurkan Republik Islam tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Trump pada Rabu malam waktu Washington ketika ditanya mengenai cara dirinya dapat bernegosiasi dengan para pemimpin Iran yang selama ini disebutnya sebagai “orang-orang gila”.
“Kita harus mengambil keputusan: kita hancurkan mereka atau membuat kesepakatan,” kata Trump, dilansir Gulf News, Kamis (1/10/2026).
Saat kembali ditanya bagaimana dirinya dapat mencapai kesepakatan dengan para pejabat Iran, Trump menjawab, “Mungkin kita hancurkan mereka.”
“Ini akan segera berakhir, dengan satu cara atau cara lainnya,” ujarnya kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih.
Baca Juga : Iran Bantah IRGC di Balik Kemenangan Militer Houthi
Trump mengatakan perkembangan di Iran akan terlihat dalam waktu dekat. Ia menggambarkan kampanye militer AS sebagai “kemenangan militer total”.
Trump juga mengeklaim Iran telah “hampir hancur” secara militer dan ekonomi. Menurutnya, AS kini memiliki “kendali hampir total” atas Selat Hormuz.
Secara terpisah, Menteri Perang AS Pete Hegseth mengatakan kepada pasukan di Quantico bahwa militer Amerika telah menghancurkan sebagian besar kekuatan militer Iran.
Menurut Hegseth, kekuatan yang terdampak mencakup Angkatan Laut, Angkatan Udara, sistem pertahanan, kepemimpinan, hingga kapasitas industri militer Iran.
Hegseth juga mengatakan kemampuan pertahanan konvensional dan ambisi nuklir Teheran telah “dilumpuhkan”. Ia memuji pasukan AS karena, menurutnya, telah memastikan Iran tidak akan pernah mendapatkan senjata nuklir.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyerukan kepada masyarakat Amerika agar menekan pemerintah mereka untuk mengakhiri perang.
Baca Juga : AS Tarik Ribuan Tentara dari Irak, Era Militer Berakhir?
Namun, para pejabat AS meremehkan seruan tersebut dan menyebutnya sebagai “tabir asap” propaganda.
Pemerintah Iran sendiri mengonfirmasi telah menerima proposal dari AS untuk mengakhiri perang. Proposal tersebut kemudian dibahas di tingkat kabinet.
Perkembangan itu terjadi ketika kelompok garis keras dan media pemerintah Iran masih menggambarkan konflik tersebut sebagai “kegagalan” AS. Mereka juga mengejek klaim Washington mengenai tekanan ekonomi terhadap Teheran.
