Defisit Perdagangan AS Tembus US$105,6 Miliar pada Agustus
Defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi dalam 17 bulan pada Agustus 2026. Kenaikan tersebut terjadi meski pemerintahan Presiden Donald Trump telah menerapkan tarif tinggi terhadap berbagai barang impor.
Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS yang dirilis Selasa (6/10/2026) dan dikutip New York Times, defisit perdagangan AS mencapai 105,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp1.888 triliun pada Agustus.
Angka tersebut naik 13,7 persen dibandingkan Juli. Defisit perdagangan merupakan selisih antara nilai barang dan jasa yang dibeli suatu negara dari luar negeri dengan nilai barang dan jasa yang dijual ke negara lain.
Pemerintahan Trump selama ini menjadikan pengurangan defisit perdagangan sebagai salah satu indikator keberhasilan kebijakan ekonominya.
Kenaikan defisit pada Agustus terutama dipicu oleh impor yang tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan ekspor. Nilai impor AS mencapai rekor 420,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp7.523 triliun, meningkat 4,3 persen dari Juli.
Baca Juga : Bandara Riyadh Diserang Houthi, Perang Yaman Memanas
Defisit pada Agustus juga menjadi yang terbesar sejak sebelum Trump memberlakukan tarif global pada April 2025. Nilainya bahkan melampaui defisit perdagangan bulanan mana pun pada tahun terakhir pemerintahan Presiden Joe Biden.
AS Masih Bergantung pada Barang Impor
Kepala Ekonom FWDBONDS Christopher Rupkey mengatakan AS masih sangat bergantung pada barang yang diproduksi di luar negeri meski kebijakan tarif Trump telah meningkatkan harga sejumlah produk impor.
Menurut Rupkey, konsumen AS tidak memiliki banyak alternatif selain tetap membeli produk dari luar negeri. Biaya tenaga kerja di AS dinilai terlalu tinggi untuk memproduksi banyak barang dengan harga yang terjangkau konsumen.
Selain itu, pembangunan pabrik baru di dalam negeri juga membutuhkan waktu yang tidak singkat.
“Amerika masih bergantung pada barang yang diproduksi di luar negeri seperti sebelumnya,” kata Rupkey.
Pemerintahan Trump memandang tingginya defisit perdagangan sebagai salah satu indikasi lemahnya sektor manufaktur AS. Karena itu, pemerintah memberlakukan tarif terhadap berbagai produk yang dibuat di luar AS, mulai dari mainan, baja, drone hingga suku cadang kendaraan.
Namun, peningkatan impor juga dipengaruhi oleh kebutuhan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang terus berkembang.
Impor Chip AI Melonjak
Perusahaan-perusahaan AS kini mengimpor lebih banyak chip komputer untuk membangun pusat data yang dibutuhkan dalam pengembangan teknologi AI. Sebagian besar chip tersebut diproduksi di Asia.
Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan nilai impor semikonduktor telah mencapai lebih dari 90 miliar dollar AS atau sekitar Rp1.609 triliun selama delapan bulan pertama 2026.
Nilai tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan impor chip menjadi salah satu faktor yang membuat tarif belum mampu menekan defisit perdagangan AS secara signifikan.
Sejumlah ekonom juga mempertanyakan efektivitas tarif jika digunakan sebagai satu-satunya cara untuk mengurangi defisit perdagangan. Menurut mereka, defisit tidak hanya ditentukan oleh jumlah barang yang masuk dari luar negeri, tetapi juga oleh kondisi ekonomi AS secara keseluruhan.
Saat ini, perekonomian AS masih tumbuh, pemerintah mengalami defisit anggaran, sementara konsumen tetap membeli banyak produk dari luar negeri.
Kebijakan Tarif Trump Berubah-ubah
Pemerintahan Trump sebelumnya menyebut perubahan kebijakan tarif sebagai salah satu faktor yang menyebabkan defisit perdagangan bergerak naik-turun.
Mahkamah Agung AS pada Februari membatalkan banyak tarif yang diberlakukan Trump setelah menyatakan bahwa presiden menyalahgunakan undang-undang darurat untuk menerapkan kebijakan tersebut.
Setelah keputusan itu, pemerintahan Trump memberlakukan tarif yang lebih rendah, yakni sekitar 10 hingga 12,5 persen untuk banyak produk.
Pemerintah AS kemudian kembali berupaya menerapkan tarif yang lebih tinggi. Pada Juli, pemerintahan Trump memberlakukan tarif baru terhadap lebih dari 80 negara dan berencana mengenakan tarif tambahan yang dapat mencakup lebih dari 40 negara.
Baca Juga : WHO Pantau Kontak Peneliti yang Meninggal di Rusia, Kenapa?
Perubahan kebijakan tersebut turut membuat defisit perdagangan AS bergerak naik-turun selama masa jabatan kedua Trump.
Setelah Trump terpilih, importir AS sempat mempercepat pembelian barang dari luar negeri untuk menambah persediaan sebelum tarif diberlakukan. Kondisi itu menyebabkan defisit perdagangan melonjak pada bulan-bulan awal pemerintahan Trump.
Setelah Trump menerapkan tarif global yang disebut sebagai “Liberation Day” pada tahun lalu, impor dan defisit perdagangan kemudian kembali menurun.
Namun, secara rata-rata, defisit perdagangan bulanan sejak Trump kembali menjabat mencapai 74,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp1.331 triliun. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata bulanan 73,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp1.319 triliun pada tahun terakhir pemerintahan Biden.
Ekonom AS dari Oxford Economics, Grace Zwemmer, mengatakan data perdagangan tersebut berpotensi memberikan tekanan cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal ketiga.
Menurut Zwemmer, impor kemungkinan masih akan tetap tinggi dalam waktu dekat. Salah satu pendorongnya adalah meningkatnya permintaan terhadap teknologi AI. Selain itu, perusahaan-perusahaan juga masih perlu mengisi kembali persediaan barang mereka.
