Rusia Siapkan Pinjaman Rp 18 Triliun untuk Iran di Tengah Sanksi AS
Rusia telah menyelesaikan persiapan untuk memberikan pinjaman sebesar 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 18 triliun kepada Iran.
Dana tersebut disebut siap ditransfer setelah Pemerintah Iran memberikan rincian rekening bank yang diperlukan.
Namun, proses pencairan pinjaman masih tertunda karena sejumlah lembaga pemerintah Iran belum menyepakati penggunaan dana tersebut.
Kabar mengenai kesiapan pencairan pinjaman Rusia itu dilaporkan kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency, pada Selasa (6/10/2026).
Baca Juga: Hizbullah Disebut Terima Rp3,5 Triliun dari Iran
Penggunaan Dana Belum Disepakati
Menurut Fars, proses pembayaran pinjaman telah rampung, tetapi perbedaan pendapat di antara sejumlah lembaga pemerintah Iran membuat transfer dana belum dapat dilakukan.
Organisasi Perencanaan dan Anggaran Iran menginginkan dana tersebut digunakan untuk mengimpor kendaraan.
Sementara itu, Kementerian Perminyakan Iran mengusulkan agar pinjaman digunakan untuk membeli peralatan industri minyak.
Adapun Kementerian Pertanian Iran menginginkan dana tersebut dialokasikan untuk mengimpor kebutuhan pokok.
Belum adanya keputusan mengenai penggunaan dana membuat pemerintah Iran belum memberikan rincian rekening yang dibutuhkan untuk proses transfer.
Rencana pinjaman tersebut pertama kali dilaporkan pada Juni 2026 dan disebut sebagai tahap awal dari rencana pinjaman Rusia senilai 20 miliar dollar AS kepada Iran.
Iran dan Rusia sebelumnya telah berupaya mempererat hubungan ekonomi dan keuangan, termasuk dengan meningkatkan penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan bilateral.
Kedua negara juga berupaya mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan yang dikuasai negara-negara Barat.
Pada Juni 2026, Iran mengumumkan rencana pembentukan bursa perdagangan rubel sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama perbankan dan moneter dengan Rusia.
Seorang anggota parlemen Iran saat itu mengatakan Moskwa diperkirakan memberikan pinjaman senilai 20 miliar dollar AS dalam denominasi rubel kepada Teheran dengan bunga tahunan 6 persen.
Baca Juga: Budi Gunadi Sadikin Ingin AS Kembali ke WHO jika Terpilih
Kerja sama tersebut berlangsung ketika Iran masih menghadapi berbagai sanksi Amerika Serikat yang menyasar ekspor minyak, sektor perbankan, dan akses ke sistem keuangan internasional.
Washington juga meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran dalam beberapa bulan terakhir, termasuk melalui sanksi sekunder terhadap entitas asing yang dituduh membantu transaksi Iran.
Pada September 2026, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap VTB Bank asal Rusia terkait hubungan perbankan koresponden dengan lembaga keuangan Iran yang terkena sanksi.
Amerika Serikat juga menargetkan jaringan keuangan yang dituduh membantu Iran memindahkan dana dan menghindari sanksi.
