Hizbullah Disebut Terima Rp3,5 Triliun dari Iran
Kelompok Hizbullah dilaporkan memperoleh suntikan dana senilai US$200 juta atau sekitar Rp3,5 triliun dari Iran. Dana tersebut disebut akan digunakan untuk membantu warga Lebanon yang kehilangan tempat tinggal akibat perang dengan Israel tahun ini.
Dilansir Reuters, Kamis (8/10/2026), dua sumber yang mengetahui langsung proses transfer menyebut dana tersebut menjadi bantuan besar pertama yang disiapkan Hizbullah bagi para pendukungnya yang paling terdampak konflik.
Namun, klaim tersebut dibantah pemerintah Amerika Serikat (AS). Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott menyatakan dana tersebut “tidak ada”. Ia juga menuduh Hizbullah berupaya menutupi kondisi sebenarnya dengan menyebarkan informasi palsu mengenai masuknya uang tunai dari Iran.
Juru bicara Departemen Keuangan AS turut menyatakan Iran “kehabisan uang dan cara untuk memindahkan uang”. Ia menegaskan Teheran “tidak memiliki uang untuk mendanai kampanye terornya”.
Kedua sumber mengatakan dana tersebut diterima Hizbullah pada bulan lalu, ketika tekanan ekonomi Washington terhadap Teheran semakin diperketat. Situasi ini membuat pengiriman uang Iran kepada kelompok yang menjadi sekutunya di Lebanon semakin sulit.
Proses pemindahan dana tersebut juga disebut membutuhkan biaya tinggi. Para perantara yang membawa uang dilaporkan meminta komisi hingga 20% karena risiko yang dianggap besar dalam berurusan dengan Hizbullah. Salah satu sumber bahkan menyebut tarif itu sekitar empat kali lebih mahal dibandingkan biaya normal.
Baca Juga : Trump Singgung Migrasi dan Islam Usai Ricuh Demo Prancis
Seorang pejabat Hizbullah mengatakan sejumlah dana memang telah berhasil diamankan. Menurutnya, kelompok tersebut akan mengumumkan mekanisme penyaluran bantuan dalam beberapa hari mendatang. Namun, ia tidak mengungkapkan dari mana dana tersebut berasal.
Hingga berita ini ditulis, Kementerian Luar Negeri Iran, perwakilan tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, serta pemerintah Lebanon belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Bantu 50.000 Keluarga
Dana tersebut disebut akan digunakan untuk memberikan bantuan awal sebesar US$3.000 atau sekitar Rp53 juta kepada setiap keluarga yang terdampak.
Prioritas bantuan akan diarahkan kepada keluarga yang berasal dari desa-desa yang mengalami kehancuran parah atau wilayahnya masih sulit diakses akibat pendudukan Israel.
Salah satu sumber memperkirakan terdapat sekitar 50.000 keluarga yang memenuhi kriteria tersebut.
Konflik terbaru pecah setelah Hizbullah ikut terlibat dalam perang regional untuk mendukung Iran pada 2 Maret. Israel kemudian melakukan serangkaian serangan hingga menginvasi Lebanon.
Rangkaian serangan tersebut memaksa ratusan ribu warga, terutama dari komunitas Muslim Syiah yang menjadi basis dukungan Hizbullah, meninggalkan rumah mereka.
Meski demikian, sebagian besar warga yang kehilangan tempat tinggal disebut belum menerima bantuan yang berarti dari Hizbullah. Kelompok bersenjata yang didirikan Korps Garda Revolusi Islam Iran pada 1982 itu sendiri telah mengalami kerugian besar akibat dua perang melawan Israel sejak 2024.
Pemerintah AS juga memasukkan Hizbullah ke dalam daftar organisasi teroris.
Pigott menyatakan aktivitas Hizbullah telah membawa dampak buruk bagi masyarakat Lebanon, sementara kelompok tersebut sendiri mengalami kerusakan besar akibat perang. Pada saat bersamaan, Iran sebagai pendukung utama Hizbullah juga menghadapi tekanan ekonomi akibat pembatasan AS terhadap ekspor minyak.
“Amerika Serikat akan terus mencekik keuangan Hizbullah melalui sanksi, sembari mendukung kemampuan pemerintah Lebanon yang sah untuk membangun kembali wilayah Selatan,” ujar Pigott.
Selama bertahun-tahun, Iran tetap memberikan dukungan finansial kepada Hizbullah meski berada di bawah sanksi berat Amerika Serikat.
Departemen Keuangan AS memperkirakan Teheran mengirimkan sekitar US$1 miliar kepada Hizbullah hanya dalam 10 bulan pertama 2025.
Pemerintah Iran tidak pernah secara terbuka mengakui pemberian dana tersebut. Kebijakan Teheran dalam mendukung kelompok-kelompok yang menjadi sekutunya di kawasan juga sebelumnya memicu kritik dari dalam negeri.
Persoalan tersebut berpotensi menjadi semakin sensitif ketika perekonomian Iran menghadapi tekanan yang lebih berat.
Sebelumnya, Iran juga disebut menjanjikan tambahan pendanaan bagi Hizbullah setelah mencapai kesepakatan sementara dengan Washington pada Juni yang memungkinkan Teheran kembali menjual minyak.
Namun, Reuters melaporkan kesepakatan tersebut tidak bertahan lama dan runtuh pada Juli.
Washington kemudian memperbesar tekanan terhadap Iran melalui pengetatan sanksi serta pemberlakuan blokade laut yang bertujuan menghambat pengiriman minyak Iran.
Pemimpin Hizbullah Naim Qassem dalam pidatonya bulan lalu mengatakan kelompok tersebut akan segera mengambil bagian dalam program penyediaan tempat tinggal bagi ribuan warga yang kehilangan rumah akibat perang.
Namun, ia hanya menyebut proyek itu akan dibiayai melalui “sumber daya yang tersedia dan sumbangan”, tanpa memberikan rincian mengenai sumber pendanaannya.
Kemampuan Hizbullah dalam menyediakan layanan sosial selama ini menjadi salah satu faktor yang membantu mempertahankan dukungan terhadap kelompok tersebut.
Setelah perang dengan Israel pada 2006, Hizbullah diketahui segera menyalurkan bantuan tunai dalam jumlah besar kepada warga yang terdampak. Kelompok tersebut juga bergerak cepat dalam membantu pembangunan kembali kawasan pinggiran selatan Beirut yang merupakan salah satu basis utamanya.
Kondisinya berbeda dalam perang kali ini. Hingga sekarang, belum terlihat pembangunan kembali dalam skala besar.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengatakan pada bulan lalu bahwa kebutuhan dana untuk memulihkan kerusakan akibat dua perang sejak 2024 dapat mencapai US$27 miliar.
Perang Menguras Dana Hizbullah
Dua sumber yang dikutip Reuters tidak mengungkap secara detail jalur yang digunakan untuk membawa dana tersebut masuk ke Lebanon.
Salah satu sumber mengatakan Hizbullah kini menghadapi kesulitan yang semakin besar dalam memindahkan uang melalui jaringan perusahaan keuangan yang sebelumnya digunakan untuk transaksi serupa.
Baca Juga : AS Desak Rusia Terkait Transparansi Kematian Teknisi Laboratorium
Sejumlah perusahaan yang beroperasi dari Irak dan Dubai disebut tidak lagi dapat dimanfaatkan. Perusahaan-perusahaan di Turki juga mulai menghadapi tekanan.
Para pihak yang berseberangan dengan Hizbullah menilai uang kini menjadi “oksigen” bagi kelompok tersebut, kata sumber tersebut.
Meski akses terhadap sumber pendanaan semakin sulit, Hizbullah disebut masih mempertahankan pembayaran bagi para pejuangnya serta keluarga anggota yang meninggal dalam pertempuran.
Dampak perang juga sangat besar bagi komunitas Muslim Syiah Lebanon yang selama ini menjadi basis utama dukungan Hizbullah.
Israel telah menghancurkan sejumlah desa di wilayah luas yang dikuasainya di Lebanon selatan. Israel menyatakan langkah tersebut diperlukan untuk mencegah serangan Hizbullah terhadap wilayah utara negaranya.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon, lebih dari 4.300 orang telah tewas akibat serangan Israel sejak 2 Maret. Data tersebut tidak memisahkan korban sipil dan kombatan.
Hizbullah sendiri belum mengumumkan secara resmi jumlah anggotanya yang tewas dalam konflik tersebut. Namun, laporan Reuters pada 4 Mei menyebut beberapa ribu pejuang Hizbullah telah terbunuh selama perang.
