Kerusuhan di Prancis Rusak 1.500 Toko, Macron Angkat Bicara
Kerusuhan melanda sejumlah wilayah di Prancis setelah ratusan ribu orang menggelar demonstrasi untuk memprotes kenaikan biaya hidup, upah rendah, dan pemangkasan anggaran layanan publik, termasuk pendidikan.
Aksi yang semula menyuarakan tuntutan ekonomi tersebut berujung pada penjarahan toko, pembakaran balai kota, perusakan bangunan, serta bentrokan dengan aparat keamanan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan tindakan anarkis setelah negara tersebut dilanda kerusuhan yang disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
“Melihat gambar-gambar ini, kita semua bertanya pada diri sendiri: Apa yang ada di benak mereka? Bagaimana mungkin orang Prancis melakukan ini pada Prancis?” kata Macron dalam pidato yang disiarkan secara nasional, seperti dikutip dari Reuters, Senin (19/10/2026).
“Tidak ada yang bisa membenarkannya, tidak ada yang bisa menjelaskannya, tidak ada yang bisa memaafkannya. Malam ini, kita semua merasakan kemarahan dan rasa malu,” sambungnya.
Dalam kerusuhan tersebut, ribuan orang ditangkap setelah sejumlah balai kota dibakar, toko dan butik barang mewah dijarah, serta kendaraan dan bangunan dirusak.
Dampak kerusuhan juga menimbulkan kerugian ekonomi yang hingga kini masih dihitung. Sejumlah pemilik usaha telah melaporkan kerusakan dengan nilai mencapai jutaan hingga puluhan juta euro.
Baca Juga: Netanyahu Bandingkan Israel dengan Belanda di Indonesia soal Palestina
1.500 Toko Rusak, Kerugian Bisnis Capai Puluhan Juta Euro
Federasi Perdagangan dan Ritel Prancis melaporkan sedikitnya 1.500 toko dan pengecer mengalami kerusakan akibat kerusuhan tersebut, sebagaimana diberitakan BBC.
Salah satu perusahaan yang terdampak adalah Carrefour. CEO Carrefour Alexandre Bompard mengatakan kepada stasiun televisi Prancis BFMTV bahwa 50 toko perusahaan mengalami kerusakan, dengan 20 di antaranya dijarah.
Kerusakan tersebut diperkirakan menyebabkan kerugian hingga puluhan juta euro.
Di Paris, sejumlah toko desainer ternama, termasuk Ralph Lauren, Gucci, dan Versace, menjadi sasaran penjarahan. Pada Minggu (18/10/2026) pagi, pecahan kaca masih terlihat berserakan di depan sejumlah toko.
Para pemilik usaha mulai membersihkan tempat mereka dengan menyapu pecahan kaca dan mengumpulkan puing-puing. Sementara itu, truk sampah menyusuri sejumlah jalan utama untuk membersihkan sisa kerusakan.
Sejumlah bangunan juga dipenuhi coretan grafiti, beberapa di antaranya bertuliskan “pajaki orang kaya” dan “makan orang kaya”.
BBC turut melaporkan kondisi sebuah toko pakaian di dekat Place de la Republique yang dijarah hingga pakaian dan perabotan berserakan di lantai.
Pemilik toko tersebut mengaku melihat para penjarah melalui kamera pengawas atau CCTV yang berada di tokonya selama lebih dari satu setengah jam. Dalam kurun waktu tersebut, ia mengatakan tidak melihat polisi datang ke lokasi.
Baca Juga: Bahlil Ungkap Data Center Butuh Tambahan Listrik 20 GW
Pemerintah Prancis Janji Bantu Pelaku Usaha
Menteri Perekonomian Prancis Roland Lescure berjanji memberikan dukungan kepada para pemilik usaha yang mengalami kerugian akibat demonstrasi dan kerusuhan.
Namun, Lescure belum merinci bentuk bantuan yang akan diberikan pemerintah kepada sektor usaha terdampak.
Ia juga menegaskan bahwa pelaku perusakan harus bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan.
“Mereka yang merusak barang akan membayar, memperbaiki kerusakan, dan dimintai pertanggungjawaban atas niat mereka untuk menebar kekacauan,” kata Lescure dalam sebuah pernyataan pada Minggu (18/10/2026).
Pemerintah kini menghadapi tantangan untuk menangani dampak kerusuhan sekaligus merespons ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan anggaran publik.
Sementara itu, nilai keseluruhan kerugian akibat penjarahan dan perusakan masih dalam proses penghitungan.

[…] Kerusuhan di Prancis Rusak 1.500 Toko, Macron Angkat Bicara […]
[…] Kerusuhan di Prancis Rusak 1.500 Toko, Macron Angkat Bicara […]