Trump Pulang dari China Tanpa Deal Jumbo seperti 2017
Para petinggi perusahaan besar Amerika Serikat pulang dari lawatan Presiden Donald Trump ke China tanpa membawa banyak kesepakatan bisnis baru.
Meski dihadiri sejumlah bos perusahaan teknologi dan industri terbesar AS, kunjungan ke Beijing kali ini lebih banyak difokuskan untuk menjaga stabilitas hubungan politik dan meredakan ketegangan bilateral antara Washington dan Beijing.
Seperti dikutip Reuters, sejumlah tokoh bisnis yang ikut dalam rombongan Trump antara lain Elon Musk, Jensen Huang, serta eksekutif dari Apple, Meta, Boeing, Goldman Sachs, dan Cargill.
Namun hingga kunjungan berakhir pada Jumat, belum banyak hasil konkret yang diumumkan kepada publik.
Baca Juga: 4 Triliun untuk Flyover dan Underpass Perlintasan KA Disiapkan Kementerian PU
Berbeda dengan Kunjungan Trump pada 2017
Kondisi tersebut berbeda dengan lawatan Trump ke China pada November 2017 yang menghasilkan komitmen kerja sama senilai sekitar 250 miliar dollar AS.
Saat itu, Trump dan Presiden China Xi Jinping mengumumkan berbagai kesepakatan di sektor penerbangan, energi, teknologi, hingga manufaktur.
Salah satu kesepakatan terbesar berasal dari Boeing yang menjual sekitar 300 pesawat kepada maskapai dan perusahaan leasing China dengan nilai lebih dari 37 miliar dollar AS.
Di sektor energi, Alaska Gasline Development Corporation juga menandatangani nota kesepahaman proyek LNG senilai 43 miliar dollar AS bersama mitra China.
Sementara itu, Qualcomm mengamankan kesepakatan penjualan chip senilai 12 miliar dollar AS kepada produsen ponsel China seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo.
“Beijing tidak pernah mendekati pertemuan puncak kepemimpinan semacam ini dari perspektif transaksional semata,” kata pendiri Hutong Research Feng Chucheng.
“Saya tidak akan menggunakan besarnya kesepakatan untuk mengukur hasil dari pertemuan puncak tersebut.”
Banyak Hasil Masih Menggantung
Feng menilai pemerintah China saat ini lebih fokus membangun “pagar pengaman” hubungan bilateral agar konflik dengan Amerika Serikat tidak berkembang lebih jauh.
Meski para CEO AS mendapat akses bertemu pejabat tinggi China, sejumlah hasil yang diharapkan dunia usaha seperti pembukaan akses pasar, persetujuan regulasi, dan peluang investasi baru masih belum terlihat jelas.
Beberapa eksekutif bahkan memilih tetap berada di China setelah Trump pulang untuk melanjutkan pembicaraan bisnis.
Salah satu kesepakatan yang mulai mencuat ialah rencana pembelian 200 pesawat Boeing oleh China.
Namun, jumlah tersebut masih jauh di bawah ekspektasi awal yang mencapai 500 unit.
Di sektor teknologi, Nvidia juga belum memperoleh kepastian terkait penjualan chip AI H200 ke pasar China.
Saat ditanya Reuters mengenai hasil negosiasi tersebut, Jensen Huang hanya memberi jawaban singkat.
“Saya suka China, saya bersenang-senang.”
Direktur The Asia Group di Shanghai Han Shen Lin menilai kunjungan Trump kali ini lebih menonjolkan simbol perbaikan hubungan dibanding capaian bisnis nyata.
“Pertemuan puncak ini lebih banyak diwarnai suasana positif daripada hasil konkret, atau setidaknya hal-hal yang akan diakui secara resmi oleh China,” ujarnya.
Han juga memperingatkan minimnya hasil konkret berpotensi memperburuk hubungan kedua negara jika Trump merasa tidak membawa kemenangan politik maupun ekonomi dari Beijing.
“Hal ini pasti akan membawa kita pada jalan menuju eskalasi,” kata Han.
Baca Juga: Standar Keamanan CNG 3 Kg Disusun Pemerintah, untuk Pengganti LPG

[…] Trump Pulang dari China Tanpa Deal Jumbo seperti 2017 […]
[…] Trump Pulang dari China Tanpa Deal Jumbo seperti 2017 […]