Pimpinan BI Yakin Rupiah Menguat Lagi usai Sentuh Rp17.600
Gubernur BI, Perry Warjiyo, optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan kembali menguat pada Juli hingga Agustus 2026, setelah mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Pelemahan rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar AS pada Senin (18/5/2026).
Perry mengatakan secara year-to-date nilai tukar rupiah saat ini berada di kisaran Rp16.900 per dolar AS. Ia meyakini pergerakan rupiah nantinya akan kembali masuk dalam rentang asumsi makro pemerintah, yakni Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS.
Baca Juga : Trump Pulang dari China Tanpa Kantongi Deal Jumbo seperti 2017
Menurut Perry, pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi faktor musiman. Pada April hingga Juni biasanya terjadi peningkatan kebutuhan valuta asing untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri sehingga permintaan dolar AS melonjak.
“Sehingga kenapa meyakini nanti Insya Allah ada pengalaman dari kami. Kebetulan saya tidak ingin sombong, kebetulan saya memang hidup dari krisis ke krisis. 1997-1998 juga saya ikut di sana, 2008 global seperti itu, taper tantrum juga seperti itu, Covid juga begitu, memang tekanan-tekanan nilai tukar itu umumnya kalau Juli, Agustus, dan semuanya itu akan menguat,” jelas Perry dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin (18/5/2026).
Ia menambahkan, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi situasi global yang sedang bergejolak. Perry mencontohkan kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan pada Februari tahun lalu sempat mendorong rupiah menyentuh Rp17.000 per dolar AS sebelum akhirnya kembali menguat.
“Nah, sekarang Februari tahun ini, terus ada perang Timur Tengah, sehingga menunjukkan risiko geopolitiknya tinggi banget. Yaitu tercermin kenapa CDS kita naik, itu risiko. Itu memang globalnya, saya tidak ingin menyalahkan global, ini semua negara menghadapi itu, global,” ujarnya.
Di pasar spot, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 1,08% ke posisi Rp17.656 per dolar AS pada perdagangan Senin (18/5/2026). Posisi tersebut menjadi level penutupan terlemah rupiah sepanjang sejarah.
Tekanan terhadap rupiah kali ini dinilai bukan hanya reaksi jangka pendek akibat gejolak global. Pelemahan yang terjadi secara konsisten sejak pekan lalu mencerminkan meningkatnya persepsi risiko terhadap aset Indonesia secara keseluruhan.
Baca Juga : Trump Layangkan Ancaman Lagi ke Iran “Tak Akan Ada Lagi yang Tersisa”
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih memilih dolar AS sebagai aset aman dibanding mempertahankan eksposur investasi di pasar domestik.

[…] Pimpinan BI Yakin Rupiah Menguat Lagi usai Sentuh Rp17.600 […]