Cetak Rekor! IHSG Tembus 9.000, Kapitalisasi Pasar Rp 16.434 Triliun
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) resmi mencatatkan rekor sejarah baru pada perdagangan Kamis (8/1/2026) dengan menembus level psikologis 9.000. Capaian ini menjadi bukti ketangguhan pasar modal Indonesia yang mampu bangkit secara drastis setelah sempat terpuruk ke level 5.800-an pada April 2025 lalu.
Dalam kurun waktu hanya 146 hari sejak menyentuh angka 8.000 pada Agustus 2025, IHSG telah melonjak sebesar 12,5%.
Kebangkitan ini dinilai sangat dramatis mengingat pasar saham tanah air sempat dihantam sentimen negatif global bertajuk “Liberation Day” dari Presiden AS Donald Trump pada April 2025.
Saat itu, proteksionisme agresif dan ancaman perang dagang memicu kepanikan investor. Namun, fundamental ekonomi domestik yang kokoh berhasil membalikkan keadaan hingga membawa indeks ke posisi puncaknya hari ini.
Kinerja gemilang ini didorong oleh serangkaian kebijakan ekonomi strategis yang dikenal sebagai “Purbaya Effect” di bawah arahan Purbaya Yudhi Sadewa.
Kebijakan pro-pertumbuhan tersebut meliputi pengetatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) serta pengaturan ulang bea keluar komoditas emas dan batubara yang terbukti memperkuat cadangan devisa.
Baca Juga: Prabowo Bawa Misi Penting di Forum Ekonomi Dunia, Apa Itu? – Economix
Selain itu, pembatalan kenaikan cukai rokok turut memberi angin segar bagi emiten sektor konsumsi karena dinilai efektif menjaga daya beli masyarakat dan roda konsumsi domestik.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai lonjakan ini tak lepas dari optimisme pelaku pasar terhadap realisasi APBN 2025 yang solid. Hal ini memicu derasnya arus dana asing (foreign inflow) sejak Desember 2025 hingga Januari 2026.
Para investor global kembali melirik aset Indonesia karena valuasi yang menarik, prospek laba emiten yang menjanjikan, serta kenaikan PDB nasional di tengah ketidakpastian geopolitik.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa meski IHSG menyentuh angka 9.002, hal ini membuka peluang menuju level 10.000.
Menurutnya, pelaku pasar cenderung bersikap optimis dengan memperhatikan akselerasi ekonomi nasional, optimalisasi program andalan, serta ruang pemangkasan suku bunga baik dari Bank Indonesia maupun The Fed.
Namun, ia memperingatkan bahwa tensi geopolitik antara Taiwan dan China masih menjadi ancaman, dengan harapan koreksi IHSG tidak jatuh di bawah level 8.775.
Salah satu fenomena krusial dalam pencapaian rekor ini adalah dominasi investor ritel domestik yang kini memegang kendali signifikan dengan porsi transaksi mencapai sekitar 50% dari total perdagangan harian. Kekuatan investor lokal ini menjadi bantalan likuiditas utama di pasar.
Baca Juga: Malaysia Minta Ekspor Beras, Indonesia Utamakan Stok Nasional – Economix
