Pengamat Sebut Perang Iran Bisa Jadi Bumerang bagi AS
Perang yang dijalankan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dinilai berpotensi menjadi bumerang bagi Washington.
Dua pengamat geopolitik menilai konflik tersebut justru memperlihatkan melemahnya dominasi global AS, karena biaya perang yang semakin besar tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
Pandangan itu disampaikan Jeffrey Sachs, profesor sekaligus Direktur Pusat Pembangunan Berkelanjutan Universitas Columbia, bersama Sybil Fares, penasihat Timur Tengah dan Afrika untuk Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan PBB. Dalam opini yang dikutip Al Jazeera, keduanya menyebut konflik Iran dapat berakhir dengan kemunduran Amerika Serikat.
Baca Juga : Danantara Sebut MSCI Bukan Penyebab Pelemahan IHSG!
“Perang melawan Iran kemungkinan besar akan berakhir dengan mundurnya Amerika,” tulis keduanya.
Strategi AS-Israel Dinilai Gagal
Menurut Sachs dan Fares, strategi awal Washington dan Tel Aviv bertumpu pada skenario “serangan pemenggalan kepala” untuk melumpuhkan elite politik dan militer Iran. Operasi tersebut ditujukan untuk menghancurkan struktur komando, melemahkan program nuklir, hingga memicu jatuhnya pemerintahan Teheran.
Rencana itu disebut didorong oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Direktur Mossad David Barnea kepada Presiden Donald Trump. Namun setelah dua bulan perang berlangsung, hasil yang diharapkan dinilai tidak tercapai.
Pemerintah Iran justru disebut tetap solid. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperketat keamanan domestik, sementara masyarakat Iran disebut semakin bersatu menghadapi tekanan luar negeri.
“Dua bulan berlalu, Trump dan Netanyahu tidak memiliki pemerintahan pengganti Iran di bawah kendali mereka, tidak ada penyerahan diri Iran untuk mengakhiri perang, dan tidak ada jalur militer menuju kemenangan,” tulis Sachs dan Fares.
Iran Dinilai Lebih Tangguh dari Perkiraan
Dalam analisis tersebut, Washington dianggap keliru membaca kekuatan Iran. Negara itu disebut memiliki nasionalisme kuat, sejarah panjang, serta kemampuan teknologi militer yang berkembang pesat meski terus terkena sanksi Barat.
“Iran telah membangun industri pertahanan domestik yang mampu memproduksi rudal balistik, drone tempur, hingga sistem peluncuran orbital sendiri,” muat keduanya.
Mereka juga menyoroti perubahan pola perang modern yang dinilai lebih menguntungkan Iran dari sisi biaya operasional. Drone Iran disebut hanya bernilai sekitar US$20.000, sedangkan rudal pencegat milik AS bisa mencapai US$4 juta per unit.
“Teknologi perang yang mendasarinya telah bergeser melawan AS,” tulis mereka.
Dominasi AS Dinilai Mulai Memudar
Sachs dan Fares turut mengkritik proses pengambilan keputusan di Washington yang disebut semakin tertutup dan dipengaruhi lingkaran loyalis Trump. Mereka bahkan menyinggung pengunduran diri Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS Joe Kent pada Maret 2026 yang disebut memperingatkan adanya “ruang gema” dalam proses kebijakan perang.
Menurut keduanya, perang ini lebih didorong ambisi mempertahankan dominasi global AS dan pengaruh regional Israel dibanding kebutuhan strategis nyata.
“Amerika Serikat berusaha mempertahankan dominasi global yang tidak lagi dimilikinya,” tulis mereka.
Baca Juga : UEA Dikabarkan Serang Iran Diam-diam, Konflik Memanas
Ke depan, mereka memperkirakan perang hanya akan mengembalikan situasi mendekati kondisi sebelum konflik, namun dengan perubahan penting seperti meningkatnya pengaruh Iran di Selat Hormuz, bertambah kuatnya daya gentar militer Teheran, dan berkurangnya kehadiran jangka panjang militer AS di kawasan Teluk.
“Kekaisaran Amerika tidak dapat memenangkan perang melawan Iran dengan biaya finansial, militer, dan politik yang dapat diterima,” tutup mereka.
