Purbaya Sebut AS Mulai Kewalahan, Rakyat Mulai Marah akibat Perang
Serangan Amerika Serikat (AS) bersama Israel ke Iran berdampak luas, termasuk memicu lonjakan harga minyak global yang kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat AS.
Kondisi tersebut bahkan disebut membuat Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan besar, terutama setelah Iran merespons dengan menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dunia.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, dampak kenaikan harga energi sudah terasa signifikan di Amerika Serikat.
“Sekarang saja Amerika sudah kelabakan kan? 100 dolar aja di sana BBM-nya naik hampir 100%, rakyatnya mulai marah,” jelas Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (26/3/2026).
Ia menilai tekanan tersebut membuat Trump mulai mencari cara untuk menstabilkan harga minyak, termasuk dengan meminta bantuan sejumlah negara agar Selat Hormuz kembali dibuka.
“Makanya si Trump langkahnya agak berbeda kan? Bisa sampai 150? Jatuh Trump sudah. Bukan kita yang jatuh, tapi di sana,” papar dia.
Baca Juga: Hilirisasi Dikebut, Prabowo Siapkan 13 Proyek Baru yang Tembus Rp239 Triliun
Dampak Kenaikan Harga Energi ke Politik dan Ekonomi AS
Mengutip The Economist, lonjakan harga minyak global dengan cepat merambat ke dalam negeri AS, terutama melalui kenaikan harga bensin yang langsung terlihat di SPBU dan mudah dirasakan masyarakat.
Harga yang berubah dalam waktu singkat menjadikan isu ini sangat sensitif bagi para pemilih, karena menyangkut kebutuhan harian.
Dampak ini bahkan disebut lebih terasa di wilayah basis Partai Republik, di mana struktur pajak membuat harga BBM di tingkat konsumen lebih cepat mengikuti pergerakan harga global.
Secara historis, lonjakan harga energi kerap berdampak pada turunnya dukungan politik terhadap pemerintah yang sedang berkuasa.
Kondisi serupa mulai terlihat, di mana dukungan terhadap kebijakan perang mulai melemah, termasuk di kalangan basis pemilih Trump sendiri.
Kelompok muda dan komunitas Latino disebut menjadi yang paling cepat merasakan tekanan, karena porsi pengeluaran energi mereka relatif lebih besar.
Dampak ekonomi juga menjalar ke sektor riil, mulai dari kenaikan biaya operasional usaha hingga tekanan pada sektor pertanian.
Harga solar yang meningkat membuat ongkos produksi naik, sementara sektor pertanian menghadapi kekhawatiran tambahan akibat potensi kenaikan harga pupuk berbasis gas alam.
Situasi ini turut memengaruhi dinamika politik menjelang pemilu paruh waktu di AS, dengan isu biaya hidup menjadi salah satu perhatian utama di sejumlah negara bagian kunci.
Baca Juga: Prabowo Optimis Ekonomi RI 8 Persen, Fokus ke MBG, Kopdes, dan Sekolah
