RI Rugi Dagang dengan China, Tapi Untung dari Amerika
Indonesia kembali mencatatkan kinerja positif pada neraca perdagangan dengan membukukan surplus sebesar US$1,27 miliar pada Februari 2026. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukkan capaian tersebut didorong oleh nilai ekspor yang mencapai US$22,17 miliar, sementara impor tercatat sebesar US$20,89 miliar.
Dengan hasil tersebut, Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus neraca perdagangan selama 70 bulan berturut-turut, mencerminkan daya tahan sektor perdagangan di tengah dinamika ekonomi global.
Baca Juga : Harga BBM Tidak Naik, Ini Daftar Harganya per 1 April!
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa surplus perdagangan Indonesia sebagian besar berasal dari kontribusi perdagangan dengan tiga negara utama, yakni Amerika Serikat, India, dan Filipina.
Hubungan perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat sepanjang Januari hingga Februari 2026 mencatatkan surplus sebesar US$3,53 miliar. Nilai tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$2,63 miliar.
Selain itu, perdagangan dengan India juga memberikan kontribusi positif dengan surplus mencapai US$2,29 miliar, meningkat dibandingkan Januari–Februari 2025 yang tercatat sebesar US$2,01 miliar.
Sementara itu, perdagangan dengan Filipina menghasilkan surplus sebesar US$1,54 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$1,48 miliar.
“Penyumbang surplus terbesar pertama AS sebesar US43,53 miliar. Penyumbang surplus kedua India US$2,29 miliar serta ketiga Filipina US$1,54 miliar,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Selain dari tiga negara utama tersebut, Indonesia juga masih mencatatkan surplus perdagangan dengan negara-negara di kawasan ASEAN sebesar US$1,56 miliar.
Tidak hanya itu, perdagangan dengan kawasan Uni Eropa juga mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar US$520 juta, menunjukkan masih kuatnya permintaan produk Indonesia dari pasar regional dan internasional.
Baca Juga : Akhiri Konflik di Timteng Tidak Semudah Klaim Trump, Ini Alasannya
Di sisi lain, Indonesia masih mengalami defisit perdagangan dengan sejumlah negara mitra utama. Defisit terbesar tercatat dengan Tiongkok yang mencapai US$5,23 miliar, lebih dalam dibandingkan periode Januari–Februari 2025.
Selain Tiongkok, defisit juga tercatat dalam perdagangan dengan Australia sebesar US$1,58 miliar, serta dengan Singapura sebesar US$800 juta.
“Sedangkan penyumbang defisit terdalam pertama Tiongkok, yang kedua Australia dan Singapura,” ujarnya.

[…] RI Rugi Dagang dengan China, Tapi Untung dari Amerika […]
[…] RI Rugi Dagang dengan China, Tapi Untung dari Amerika […]