Mojtaba Khamenei Absen di Pemakaman, Israel Jadi Sorotan
Prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, masih berlangsung dan dijadwalkan berakhir pada 9 Juli 2026. Meski demikian, perhatian publik tertuju pada absennya Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, dalam rangkaian upacara tersebut.
Mengutip Al Jazeera, Senin (6/7/2026), hingga hari kedua prosesi pemakaman, tiga putra Ali Khamenei, yakni Mostafa, Meysam, dan Masoud Khamenei, telah tampil di hadapan publik untuk memberikan penghormatan terakhir.
Televisi pemerintah Iran menayangkan ketiganya sedang memanjatkan doa di belakang peti jenazah Ali Khamenei yang disemayamkan di kompleks Imam Khomeini Grand Mosalla, Teheran. Di lokasi yang sama juga terdapat empat peti jenazah anggota keluarga lainnya, yaitu putri, menantu laki-laki, menantu perempuan, serta cucu perempuan Ali Khamenei yang berusia 14 bulan.
Ancaman Keamanan Diduga Jadi Alasan
Mengutip laporan The New York Times, ketidakhadiran Mojtaba Khamenei diduga berkaitan dengan ancaman keamanan yang masih tinggi. Sejak ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada Maret 2026, Mojtaba belum pernah tampil di depan publik.
Baca Juga : Drone Ukraina Hantam Rusia di Tengah Krisis
Sejumlah analis menilai keputusan tersebut diambil demi menjaga keselamatannya dari potensi serangan Israel.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth sempat mengatakan pada Maret bahwa Mojtaba kemungkinan mengalami luka serius akibat serangan udara pada 28 Februari yang menewaskan ayahnya.
Reuters kemudian melaporkan pada April bahwa Mojtaba tengah menjalani pemulihan akibat cedera parah di bagian wajah dan kaki. Bahkan, laporan tersebut menyebut ia berpotensi kehilangan salah satu kakinya akibat serangan tersebut.
Seorang analis dari Center for International Policy mengatakan bahwa menghindari kemunculan di depan publik juga merupakan bagian dari strategi politik Iran.
“Menghindari kemunculan di depan umum juga menghalangi proyeksi gambaran kerentanan pada saat negara sedang mencoba untuk menunjukkan ketahanan, persatuan, dan kekuatan.”
Analis tersebut juga menambahkan, “Setelah pembunuhan ayahnya pada awal perang, Pemimpin Tertinggi yang baru akan menjadi salah satu target bernilai tertinggi bagi Israel, sehingga membuat penampilan publik menjadi berisiko.”
Belum Pernah Tampil Sejak Menjabat
Ketidakhadiran Mojtaba Khamenei tidak hanya terjadi dalam prosesi pemakaman. Ia juga tidak pernah muncul selama masa gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat yang membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai prosesi pemakaman seharusnya menjadi momentum penting bagi pemerintah Iran untuk menunjukkan stabilitas politik dan keberlanjutan kepemimpinan pasca-wafatnya Ali Khamenei.
“Namun, sebenarnya pemakaman tersebut merupakan kesempatan untuk meyakinkan masyarakat domestik dan regional bahwa transisi dapat dikendalikan,” kata pengamat tersebut.
Baca Juga : Ribuan Warga Antre 10 Jam untuk Beri Penghormatan Terakhir ke Khamenei
Seruan Balas Dendam Menggema
Di tengah prosesi pemakaman, suasana duka juga diwarnai seruan balas dendam dari para pelayat.
Massa terdengar meneriakkan slogan seperti “Balas dendam, balas dendam,” serta “Tidak ada kompromi, tidak ada penyerahan, hanya balas dendam.”
Penyair Iran, Mohammad Rasouli, dalam pidatonya di depan jenazah Ali Khamenei bahkan menyerukan kematian Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
“Memalukan bagi kami jika kami tidak membunuh pembunuh Anda,” kata Rasouli saat menyampaikan penghormatan kepada mendiang Ali Khamenei.
