Menlu Iran Klaim Israel Pernah Incar Juru Runding Damai
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi laporan yang menyebut Israel diduga pernah berupaya membunuh para juru runding utama Iran guna menggagalkan perundingan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Dugaan tersebut berkaitan dengan pembicaraan damai yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada April 2026.
Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran pada Jumat (3/7/2026), Araghchi mengungkapkan bahwa dirinya telah mengetahui adanya ancaman tersebut sebelum berangkat menghadiri perundingan.
“Kami adalah bangsa Iran, kami tidak takut mati demi negara kami,” kata Araghchi, sebagaimana dilansir Euronews.
Araghchi Kritik Keras Pihak di Balik Ancaman
Araghchi juga melontarkan kritik tajam terhadap pihak yang diduga berada di balik rencana tersebut. Meski tidak menyebut Israel secara langsung dalam pernyataannya, ia menyinggung tindakan yang menurutnya bertujuan menggagalkan upaya perdamaian.
“Para pengecut menyerang dari belakang. Kami datang untuk perdamaian regional. Sekarang kalian lihat siapa sebenarnya yang menjadi kanker itu,” ujarnya.
Baca Juga : Dubes RI di Teheran Jadi Perwakilan dalam Pemakaman Khamenei
Perundingan di Islamabad yang sebagian dimediasi oleh Wakil Presiden AS JD Vance akhirnya menghasilkan kerangka kesepakatan yang ditandatangani Iran dan AS pada 17 Juni 2026.
Saat ini kedua negara masih menjalani masa gencatan senjata yang diperpanjang selama 60 hari untuk memberi ruang bagi penyusunan kesepakatan damai permanen.
Laporan Media AS Soal Dugaan Target Israel
Isu ancaman terhadap keselamatan delegasi Iran sebelumnya diungkap oleh The New York Times dan The Washington Post. Kedua media tersebut melaporkan bahwa pemerintah AS khawatir Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf berpotensi menjadi sasaran serangan Israel selama proses negosiasi berlangsung.
Menurut laporan itu, Washington bahkan meminta sejumlah sekutu regional untuk memperingatkan Teheran mengenai potensi ancaman terhadap kedua pejabat tersebut.
Sementara itu, The Wall Street Journal pada Maret juga melaporkan bahwa Araghchi dan Ghalibaf sempat masuk dalam daftar target Israel selama operasi militer terhadap sejumlah pejabat senior Iran. Belakangan, keduanya disebut telah dikeluarkan sementara dari daftar tersebut.
Iran Tingkatkan Pengamanan Delegasi
Mengutip laporan The New York Times, pemerintah Iran menerapkan langkah pengamanan ekstra bagi para delegasi yang terlibat dalam perundingan.
Saat Mohammad Bagher Ghalibaf melakukan perjalanan ke Islamabad untuk bertemu JD Vance, pesawat yang ditumpanginya dilaporkan dikawal jet tempur Pakistan sejak memasuki wilayah udara Pakistan hingga tiba di tujuan.
Dalam perjalanan pulang, pesawat delegasi Iran disebut sempat melakukan pendaratan darurat di Mashhad akibat ancaman militer Israel. Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Teheran melalui jalur darat.
Baca Juga : Trump Bantu Iran Cegah Ancaman Israel
Menurut narasi pemerintah Iran, konflik antara Iran dengan AS dan Israel bermula pada 28 Februari ketika serangan gabungan ke Teheran menewaskan Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah pejabat senior Iran.
Hingga kini, baik pemerintah Amerika Serikat maupun Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait tudingan mengenai dugaan rencana pembunuhan terhadap para juru runding Iran tersebut.
