Filipina Perkuat Militer di Pulau Sengketa China-AS Memanas
Angkatan Udara Filipina mengumumkan rencana besar untuk meningkatkan fasilitas pangkalan militer di dua pulau strategis yang berada di wilayah sengketa dengan China. Langkah ini menjadi bagian dari program modernisasi militer Manila di tengah meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan.
Mengutip laporan Newsweek, Senin (6/7/2026), Filipina juga akan menambah sejumlah armada udara, termasuk pesawat patroli jarak jauh, helikopter Black Hawk tambahan, serta Bell 412EPX untuk misi pencarian dan penyelamatan (SAR). Selain itu, radar pengawas canggih juga akan diakuisisi untuk memperkuat pemantauan wilayah maritim.
Komandan Angkatan Udara Filipina, Letnan Jenderal Arthur Cordura, menegaskan bahwa modernisasi ini bertujuan meningkatkan kesiapan operasional dan kerja sama dengan sekutu.
Baca Juga : 40 Ribu Kopdes Merah Putih Ditargetkan Rampung Oktober 2026
“Angkatan Udara tetap berkomitmen pada modernisasi terlepas dari berbagai tantangan, dengan fokus yang lebih besar pada kesiapan misi, interoperabilitas dengan sekutu, dan membangun kekuatan multi-domain yang kredibel,” kata Letjen Arthur Cordura dalam peringatan hari jadi ke-79 AU Filipina.
Dua Pulau Strategis Jadi Fokus Utama
Dua lokasi utama yang menjadi prioritas penguatan adalah Pulau Thitu (Pag-asa/Zhongye Dao) di Kepulauan Spratly dan Santa Ana di Provinsi Cagayan, dekat Selat Luzon.
Pulau Thitu merupakan pulau terbesar kedua di Spratly yang dihuni warga sipil sekaligus menjadi titik militer penting Filipina. Sementara Santa Ana dinilai strategis karena dekat jalur laut vital menuju Taiwan.
Lokasi ini juga masuk dalam skema Perjanjian Kerja Sama Pertahanan yang Ditingkatkan (EDCA), yang memberikan akses rotasi bagi militer Amerika Serikat untuk latihan dan penyimpanan logistik.
Ketegangan China-AS di Indo-Pasifik
Filipina merupakan sekutu lama Amerika Serikat melalui perjanjian pertahanan bersama. Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama militer kedua negara semakin intens, termasuk latihan militer besar Balikatan, patroli bersama, hingga pengerahan sistem senjata AS di wilayah dekat Laut China Selatan.
China menilai langkah tersebut sebagai upaya provokatif yang memperkuat kehadiran militer AS di kawasan. Beijing juga menuduh Manila menjadi bagian dari strategi geopolitik Washington untuk membendung pengaruh China di Indo-Pasifik.
Namun, sejumlah analis di China menilai keterlibatan AS di Filipina lebih bersifat strategis daripada komitmen intervensi langsung dalam konflik besar.
Baca Juga : Ribuan Warga Iran Antre 10 Jam dalam Pemakaman Khamenei
“Tujuan utama dari penguatan akses militer ini bukanlah persiapan nyata untuk perang, melainkan sebuah sikap strategis, pembendungan, dan atrisi: memanfaatkan keunggulan geografis Filipina untuk memperkuat posisi pasukan AS di sekitar Laut China Selatan dan Selat Taiwan,” tulis lembaga kajian South China Sea Strategic Situation Probing Initiative.
Dengan langkah modernisasi ini, Filipina semakin menegaskan posisinya dalam dinamika geopolitik kawasan yang terus memanas antara Amerika Serikat dan China di Indo-Pasifik.
