Trump Klaim AS Bisa “Habisi” Pemimpin Iran, Picu Ketegangan Baru
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait Iran di tengah berlangsungnya prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Teheran.
Dalam wawancara dengan Axios pada Sabtu (4/7/2026), Trump mengklaim bahwa Washington sebenarnya memiliki kemampuan untuk menghabisi seluruh pemimpin Iran dalam satu serangan, namun memilih tidak melakukannya demi kepentingan diplomasi.
“Mereka semua ada di sana. Satu tembakan (dan kami bisa menghabisi mereka semua), tetapi kami tidak akan melakukannya karena nanti kami tidak punya siapa pun untuk diajak bernegosiasi,” kata Trump dalam wawancara tersebut, seperti dikutip The National.
Baca Juga : Menlu Iran Sebut Israel Incar Juru Runding Teheran
Trump juga menyatakan dirinya terkejut melihat besarnya respons publik Iran atas wafatnya Khamenei. Ia mengaku awalnya mengira rakyat Iran tidak menyukai pemimpin mereka.
“Mungkin itu air mata palsu,” ujar Trump.
Respons Keras dari Iran
Pernyataan tersebut langsung menuai reaksi dari Kedutaan Besar Iran di Armenia melalui platform X. Dalam unggahannya, pihak kedutaan menilai Trump tidak memahami rakyat Iran.
Mereka menyebut Trump tidak memiliki “peradaban, sejarah, maupun kehormatan”, sebagai balasan atas pernyataannya yang dianggap provokatif.
Pernyataan Trump muncul di tengah prosesi pemakaman besar-besaran Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, yang dihadiri jutaan pelayat. Massa memenuhi kompleks Grand Mosalla dengan pakaian hitam, membawa foto, dan mengibarkan bendera Iran.
Suasana duka berubah emosional dengan seruan anti-AS yang menggema di lokasi pemakaman, termasuk teriakan “Matilah Amerika”.
Di lokasi yang sama, turut disemayamkan anggota keluarga Khamenei, termasuk putrinya, menantu, hingga cucu yang masih bayi.
Baca Juga : Rusia Diserang di Tengah Krisis, Hantaman Drone Ukraina Menggila
Ketegangan Politik Masih Berlanjut
Di sisi lain, laporan media internasional menyebut pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, tidak hadir dalam prosesi pemakaman karena alasan keamanan. Ia disebut khawatir menjadi target serangan lanjutan.
Rangkaian pemakaman Khamenei sendiri akan berlangsung selama tujuh hari, dengan prosesi lanjutan di Qom, Najaf, Karbala, hingga Mashhad sebelum dimakamkan secara permanen.
Pernyataan Trump ini menambah panas hubungan Amerika Serikat dan Iran yang kembali tegang pascakonflik bersenjata dan dinamika politik terbaru di kawasan Timur Tengah.
