Iran Diduga Kirim Pesan Keras ke Saudi-Turkiye di Pemakaman
Iran diduga menyampaikan pesan politik secara simbolis kepada delegasi Arab Saudi dan Turkiye yang menghadiri prosesi penghormatan terakhir bagi Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Dugaan tersebut muncul dari pemilihan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan untuk menyambut masing-masing delegasi di Grand Mosalla, Teheran.
Mengutip The Wall Street Journal, Senin (6/7/2026), delegasi Arab Saudi disambut dengan ayat yang merujuk pada Perang Badar, ketika pasukan Nabi Muhammad memperoleh kemenangan atas musuh yang jumlahnya lebih besar berkat pertolongan Allah.
Ayat tersebut berbunyi, “Sungguh telah ada tanda bagimu pada dua golongan yang berhadapan. Satu golongan berperang di jalan Allah dan golongan lainnya adalah orang-orang kafir.”
Baca Juga : Iran Disebut Tembakkan Rudal ke Kapal yang Berada di Hormuz
Sementara itu, delegasi Turkiye menerima ayat berbunyi, “Orang-orang mukmin yang tinggal di rumah tidak sama dengan mereka yang berjihad di jalan Allah.” Ayat tersebut dinilai sebagai sindiran terhadap sikap netral Ankara selama konflik Iran.
Sekutu Iran Terima Pesan Bernada Dukungan
Berbeda dengan Arab Saudi dan Turkiye, Iran memberikan pesan yang lebih mendukung kepada kelompok-kelompok sekutunya.
Delegasi Hizbullah Lebanon disambut dengan ayat yang menggambarkan bahwa kemunduran dalam peperangan merupakan bagian dari kehendak Tuhan untuk memilih para syuhada dan menguji keimanan.
Sementara itu, delegasi Hamas menerima ayat yang memuji orang-orang yang tetap menepati janji mereka kepada Allah.
Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di lembaga kajian Chatham House, Sanam Vakil, menilai penggunaan ayat-ayat tersebut merupakan cara Iran menyampaikan pesan politik secara simbolis kepada para tamu internasional.
Di sisi lain, analis Iran dari Center for International Policy, Sina Toossi, mengatakan prosesi pemakaman juga dimaksudkan untuk memperkuat legitimasi pemerintahan baru sekaligus menunjukkan bahwa masih banyak rakyat Iran yang mendukung arah politik yang diwariskan Khamenei.
“Iran sedang mengirimkan sinyal bahwa mereka tidak akan mundur,” ujarnya.
Menurut Toossi, sikap tersebut juga tercermin dalam perundingan Iran dengan Amerika Serikat mengenai Selat Hormuz. Meski pembicaraan untuk menjamin kelancaran pelayaran masih berlangsung, Teheran tetap bersikeras mempertahankan kendali penuh atas jalur strategis tersebut.
Kehadiran Negara Teluk Lebih Terbatas
Kehadiran negara-negara Teluk dalam pemakaman Khamenei tercatat lebih terbatas dibandingkan saat pemakaman Presiden Iran Ebrahim Raisi pada 2024.
Qatar hanya mengirim Ketua Parlemennya, sedangkan Arab Saudi diwakili Wakil Menteri Luar Negeri.
Sementara itu, Uni Emirat Arab dan Kuwait tidak mengirim delegasi ke acara tersebut.
Sebagai perbandingan, ketika Raisi meninggal akibat kecelakaan helikopter pada 2024, Qatar mengirim emirnya. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait juga mengirim menteri luar negeri masing-masing.
Jutaan Warga Hadiri Prosesi Pemakaman
Prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei yang dimulai sejak Sabtu (4/7/2026) dihadiri jutaan pelayat di Teheran.
Baca Juga : Kontrak Senjata Bernilai Miliaran Dolar Diumumkan NATO
Otoritas Iran mengklaim sekitar 11 juta orang menggunakan transportasi umum untuk menghadiri rangkaian acara tersebut.
Televisi pemerintah Iran menayangkan lautan pelayat yang mengiringi truk hitam pembawa peti jenazah Khamenei beserta beberapa anggota keluarganya. Massa tampak mengibarkan bendera Iran serta membawa spanduk merah yang menyerukan pembalasan atas kematian Khamenei.
Salah satu poster bertuliskan, “Kami tidak memaafkan dan tidak melupakan.”
Di tengah kerumunan juga terlihat aksi pelemparan batu ke arah foto Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Adapun Khamenei meninggal dunia dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari, yang kemudian menjadi awal pecahnya perang di Iran.
