NATO Umumkan Kontrak Senjata Bernilai Miliaran Dolar
Negara-negara anggota NATO mengumumkan sejumlah kontrak persenjataan bernilai miliaran dolar pada hari pertama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara, Turkiye, Selasa (7/7/2026).
Komitmen tersebut menjadi bagian dari target NATO untuk meningkatkan belanja pertahanan hingga 5 persen dari produk domestik bruto (PDB). Langkah ini juga dilakukan di tengah tekanan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang terus meminta negara-negara Eropa mengambil tanggung jawab lebih besar dalam menjaga keamanan kawasan.
Dilansir AFP, peningkatan komitmen pertahanan itu juga dipandang sebagai upaya sekutu meredakan ketegangan dengan Trump terkait sikap sejumlah negara Eropa dalam konflik Iran.
NATO Umumkan Kontrak Persenjataan Baru
Menjelang kedatangan Trump di Ankara, NATO mengawali agenda KTT melalui forum industri pertahanan yang diisi dengan pengumuman berbagai proyek militer baru.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan negara-negara anggota bersama industri pertahanan di kedua sisi Atlantik akan menandatangani kontrak bernilai miliaran dolar.
Baca Juga : Trump Ancam Iran Mau Berdamai atau Operasi Militer
“Para sekutu dan industri dari kedua sisi Atlantik akan mengumumkan proyek-proyek besar baru dan menandatangani kontrak yang nilainya benar-benar mencapai miliaran dollar,” kata Rutte.
Menurutnya, investasi tersebut tidak hanya memperkuat kemampuan pertahanan negara-negara anggota, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian melalui penciptaan ratusan ribu lapangan kerja.
Sejumlah kontrak awal yang diumumkan mencakup pengadaan drone, pesawat pengisian bahan bakar di udara, serta pesawat pengintai untuk memperkuat kemampuan pertahanan Eropa.
Rutte menilai peningkatan anggaran militer menunjukkan negara-negara Eropa mulai memenuhi komitmennya untuk mengambil peran lebih besar dalam menjaga keamanan kawasan, terutama menghadapi ancaman dari Rusia.
Trump Masih Soroti Sikap Eropa
Meski NATO berupaya menunjukkan kemajuan dalam bidang pertahanan, Trump tetap melontarkan kritik kepada sekutu-sekutunya menjelang KTT berlangsung.
Presiden AS tersebut masih menyoroti keputusan sejumlah negara Eropa yang membatasi penggunaan pangkalan militer mereka oleh pasukan AS dalam operasi terhadap Iran.
Pekan lalu, Trump bahkan menyampaikan kritik melalui Truth Social.
“Konyol jika AS terus berada di jalur yang berat sebelah ketika hubungan ini tidak bersifat timbal balik. Mereka tidak ada untuk kita!!!” tulis Trump.
Para pemimpin Eropa memilih menghindari konfrontasi terbuka dengan Trump karena khawatir perselisihan baru dapat mengganggu soliditas NATO.
Kekhawatiran tersebut muncul setelah Trump beberapa kali mempertanyakan komitmen Washington dalam memberikan perlindungan kepada negara-negara sekutu.
Sejumlah diplomat berharap hubungan pribadi Trump dengan Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, serta pendekatan yang dilakukan Mark Rutte, dapat membantu menjaga suasana KTT tetap kondusif.
Namun demikian, hubungan Trump dengan beberapa pemimpin Eropa belakangan diketahui mengalami ketegangan, termasuk dengan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni.
Eropa Siap Memikul Tanggung Jawab Lebih Besar
Sebagai respons terhadap situasi di Iran, Prancis dan Inggris memimpin penyusunan rencana pengerahan misi angkatan laut di Selat Hormuz.
Beberapa negara Eropa juga mulai menggeser kapal-kapal perang mereka lebih dekat ke kawasan tersebut sebagai langkah antisipasi apabila situasi keamanan memburuk.
Meski demikian, negara-negara tersebut masih menunggu perkembangan negosiasi damai antara AS dan Iran sebelum mengirimkan armada secara penuh.
Di sisi lain, para pemimpin Eropa mulai menerima bahwa AS secara bertahap mengurangi perannya dalam aliansi pertahanan tersebut.
Washington sebelumnya telah menegaskan bahwa negara-negara Eropa harus memimpin pertahanan konvensional di wilayah mereka sendiri. Pemerintah AS juga mengumumkan pengurangan sejumlah aset militer yang selama ini disediakan untuk komandan NATO.
Rutte menilai perubahan tersebut mencerminkan transformasi besar dalam aliansi.
“Semua ini merupakan bukti adanya perubahan pola pikir yang nyata. Inilah NATO 3.0. Eropa yang lebih kuat di dalam NATO yang lebih kuat,” ujarnya.
Dukungan Militer untuk Ukraina Berlanjut
Selain memperkuat pertahanan internal, negara-negara Eropa juga terus meningkatkan dukungan militer kepada Ukraina setelah pemerintahan Trump mengurangi bantuan dari AS.
Baca Juga : Menlu Buka Suara Tak Kirim Delegasi Awal di Pemakaman Khamenei
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dijadwalkan menghadiri jamuan makan malam para pemimpin NATO pada Selasa malam sekaligus bertemu Trump di sela-sela KTT.
Dalam pertemuan tersebut, negara-negara sekutu diperkirakan akan berkomitmen menyalurkan sedikitnya 70 miliar euro atau sekitar Rp1.436 triliun bantuan militer kepada Kyiv setiap tahun selama 2026 hingga 2027.
Zelensky juga kembali mendesak NATO mengambil langkah konkret untuk memperkuat sistem pertahanan udara Ukraina setelah serangan besar Rusia menewaskan hampir 30 orang.
Ia berharap dapat meyakinkan Trump bahwa Ukraina mulai memperoleh keuntungan di medan perang sehingga Washington perlu meningkatkan tekanan terhadap Moskwa agar kembali terlibat dalam perundingan damai secara serius.
