Netanyahu Gelar Rapat Darurat Usai AS Serang Iran Lagi
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu,bersama Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, membatalkan agenda publik pada Rabu (8/7/2026) malam untuk menggelar rapat keamanan darurat di tengah memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Langkah tersebut diambil setelah AS melancarkan serangan terhadap lebih dari 80 target di Iran. Teheran kemudian membalas dengan menargetkan puluhan sasaran di Bahrain dan Kuwait.
Situasi semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran pada dasarnya telah berakhir.
Netanyahu Batalkan Agenda Publik
Mengutip Ynet News, Netanyahu dan Katz membatalkan kehadiran mereka dalam upacara kelulusan National Security College untuk mengikuti pembahasan keamanan yang semula dijadwalkan membahas nota kesepahaman Israel-AS.
Baca Juga : B50 Mulai Berlaku, BahliL Sebut RI Tak Lagi Impor Solar
Namun, rapat tersebut kemudian difokuskan pada perkembangan terbaru terkait konflik Iran.
Sementara itu, Presiden Israel Isaac Herzog dan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Letjen Eyal Zamir, tetap dijadwalkan menghadiri acara tersebut.
Di Yerusalem, para pejabat menyatakan Israel berada dalam status siaga tinggi sambil mempersiapkan berbagai kemungkinan apabila konflik kembali meningkat dalam waktu dekat.
Meski demikian, penilaian sementara pemerintah Israel menyebut bentrokan antara AS dan Iran saat ini diperkirakan belum berkembang menjadi perang berskala besar, setidaknya sebelum pemilu sela di Amerika Serikat.
IDF Tingkatkan Kesiagaan
The Times of Israel melaporkan bahwa lembaga pertahanan Israel terus memantau perkembangan situasi karena khawatir eskalasi konflik dapat menyeret negara itu ke dalam peperangan.
Menurut laporan tersebut, IDF telah meningkatkan kesiagaan untuk menghadapi berbagai skenario, baik operasi pertahanan maupun ofensif.
Militer Israel juga disebut telah menyiapkan rencana operasional, menempatkan pesawat tempur dalam kondisi siap diterbangkan, serta memperbarui daftar target berdasarkan informasi intelijen terbaru.
Selain itu, IDF terus berkoordinasi secara intensif dengan Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) untuk mengantisipasi kemungkinan eskalasi mendadak.
Israel Nilai Tekanan Ekonomi terhadap Iran Harus Dipertahankan
Seorang pejabat senior Israel mengatakan pemerintahan Trump kini lebih mengedepankan tekanan ekonomi terhadap Iran dibandingkan pendekatan lainnya.
Menurut pejabat tersebut, Israel menilai tekanan ekonomi selama operasi militer terhadap Iran telah memperburuk kondisi ekonomi Teheran tanpa mengurangi tuntutan Washington terkait program nuklir Iran.
Ia menambahkan, nilai mata uang rial terus melemah sehingga tekanan ekonomi dinilai menjadi faktor penting untuk melemahkan pemerintahan Iran.
Menurutnya, Israel tetap memandang tekanan ekonomi sebagai strategi utama, sedangkan opsi militer hanya menjadi salah satu alternatif apabila diperlukan.
Konflik Dipicu Serangan di Selat Hormuz
Eskalasi terbaru bermula setelah Iran menyerang tiga kapal yang melintasi Selat Hormuz melalui jalur yang tidak diakui Teheran.
Sebagai balasan, AS melancarkan serangan terhadap lebih dari 80 sasaran di Iran pada malam harinya.
Iran kemudian mengklaim menyerang lebih dari 85 target di Bahrain dan Kuwait.
Teheran juga menyatakan satu anggota Garda Revolusi Iran (IRGC) bersama dua orang lainnya tewas akibat serangan militer AS.
Sementara itu, kantor berita pemerintah Kuwait melaporkan militernya berhasil mencegat dua rudal balistik dan 13 drone tanpa menimbulkan kerusakan.
Di sisi lain, pejabat Iran menegaskan serangan terhadap kapal-kapal komersial hanya akan dihentikan apabila kewenangan Teheran atas pengelolaan Selat Hormuz diakui.
Trump Kembali Ancam Iran
Dalam pernyataannya di sela-sela KTT NATO di Ankara, Trump mengatakan dirinya tidak lagi menganggap gencatan senjata dengan Iran masih berlaku.
Baca Juga : Prabowo Percaya Masa Depan RI Cerah Berkat B50
Ia menyebut AS telah menghantam Iran dengan sangat keras sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
Trump juga menilai negosiasi dengan Iran hanya membuang waktu dan menuduh Teheran tidak dapat dipercaya.
Beberapa jam kemudian, saat tampil bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Trump kembali memperingatkan bahwa AS siap melancarkan serangan baru terhadap Iran pada malam hari apabila diperlukan.
Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga membatalkan kunjungannya ke Israel yang sebelumnya telah dijadwalkan.
