AS Tuding China Bantu Iran, Ketegangan Timur Tengah Kian Memanas
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat seiring berlanjutnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Di tengah eskalasi tersebut, Washington turut menyoroti peran China yang dinilai tidak cukup tegas dalam membatasi aliran barang yang berpotensi mendukung kemampuan militer Teheran dan kelompok Houthi.
Tudingan itu disampaikan Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, dalam sidang Dewan Keamanan PBB pada Selasa (14/7/2026) malam.
Baca Juga: Trump Disindir Iran soal Tarif 20 Persen di Selat Hormuz
AS Tuduh China Gagal Hentikan Aliran Barang ke Iran
Dalam pernyataannya, Waltz menilai sejumlah perusahaan dan entitas di China telah berkontribusi terhadap pelanggaran resolusi PBB terkait Iran tanpa menghadapi konsekuensi yang berarti.
“Negara-negara seperti Iran dan sampai batas tertentu perusahaan dan entitas di China, telah melanggar (resolusi PBB) tanpa konsekuensi yang berarti,” kata Waltz.
Ia menjelaskan bahwa barang yang dimaksud merupakan produk berteknologi ganda, termasuk citra satelit dan perangkat lain yang memiliki fungsi sipil tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan militer.
“Iran dan Houthi yang, tentu saja, memiliki kegunaan sipil, tetapi juga telah digunakan untuk mengancam mitra kami, pesawat sipil, dan pelayaran komersial,” ujar dia.
Pernyataan tersebut memperlihatkan semakin meluasnya dimensi konflik, yang kini tidak hanya melibatkan Iran dan AS, tetapi juga menyeret China ke dalam perdebatan diplomatik di tingkat internasional.
China Balik Tuding AS Picu Ketidakstabilan
Menanggapi tuduhan tersebut, Duta Besar China untuk PBB Sun Lei membantah negaranya telah melanggar aturan internasional atau membiarkan ekspor barang yang dapat digunakan untuk kepentingan militer Iran.
“China menerapkan kontrol ketat terhadap ekspor semacam itu,” ungkap Sun Lei.
Sun justru menilai tindakan militer Amerika Serikat terhadap Iran telah memperburuk situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.
“Prioritas utama saat ini adalah agar AS berhenti menciptakan konflik dan kekacauan baru di Timur Tengah,” tambah dia.
Pernyataan tersebut menegaskan perbedaan pandangan tajam antara Washington dan Beijing terkait penyebab memburuknya situasi di kawasan, sekaligus memperlihatkan meningkatnya rivalitas kedua negara di forum internasional.
Baca Juga: Putra Khamenei Diklaim Trump Hampir Tewas di Iran
Iran Tuduh AS Lakukan Kejahatan Perang
Perdebatan di PBB berlangsung di tengah operasi militer AS yang terus berlanjut terhadap Iran.
Pasukan Amerika dilaporkan memasuki hari keempat serangan berturut-turut dan kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Media Iran melaporkan sejumlah serangan baru terjadi di wilayah Provinsi Ilam dan kawasan dekat perbatasan Irak.
Selain itu, kontak senjata juga dilaporkan terjadi di Selat Hormuz, sementara Iran disebut melancarkan serangan balasan terhadap aset militer AS di negara-negara Teluk.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengecam keras serangan terbaru yang menargetkan wilayah Hormozgan. Ia menuding tindakan Washington sebagai kejahatan perang.
“Daftar kejahatan AS terhadap rakyat Iran semakin panjang setiap harinya,” ujar Baghaei.
Ia juga menuduh Amerika Serikat terus meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui serangan yang menyasar warga sipil dan fasilitas di berbagai wilayah.
“Setiap harinya, AS menampakkan lapisan baru permusuhannya terhadap Iran,” kata dia.
Menurut dia, serangan terbaru menewaskan tiga anggota keluarga seorang penjaga hutan di wilayah tersebut.
“Ini hanyalah contoh terbaru dari kejahatan perang keji AS selama empat setengah bulan terakhir, yang dimulai dengan pembunuhan para pemimpin Iran, anak-anak, perempuan, dan laki-laki di Teheran, Minab, dan Lamard,” pungkas dia.

[…] AS Tuding China Bantu Iran, Ketegangan Timur Tengah Kian Memanas […]