Media China Soroti Hubungan RI-China, Ada Apa Sebenarnya?
Hubungan ekonomi Indonesia dan China kembali menjadi sorotan media internasional. Harian asal Hong Kong, South China Morning Post (SCMP), menilai kerja sama kedua negara memasuki babak baru seiring kebijakan Indonesia yang semakin menekankan hilirisasi dan pengelolaan sumber daya alam.
Dalam laporan berjudul Can China and Indonesia’s strong financial ties withstand ‘resource nationalism?’, SCMP menilai hubungan Jakarta dan Beijing tetap erat, tetapi mulai menghadapi tantangan akibat perubahan arah kebijakan pemerintah Indonesia.
Baca Juga: Jelang Pertemuan di Gedung Putih, Trump Sempat Kesal ke Netanyahu
Hubungan Ekonomi RI-China Makin Erat
SCMP menyebut Indonesia dan China telah membangun kerja sama yang semakin luas dalam satu dekade terakhir.
Kolaborasi itu tidak hanya mencakup sektor pertambangan nikel, tetapi juga kendaraan listrik (EV), manufaktur, hingga layanan keuangan.
Salah satu perusahaan China yang berkembang pesat melalui investasi di Indonesia adalah Tsingshan Group.
Perusahaan tersebut mulai berinvestasi pada 2009 untuk mengamankan pasokan nikel, yang menjadi bahan baku penting bagi industri baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik.
Dengan memanfaatkan cadangan nikel Indonesia yang terbesar di dunia, Tsingshan berkembang menjadi salah satu produsen baja tahan karat terbesar secara global.
Pada 2025, perusahaan itu membukukan pendapatan sekitar 432 miliar yuan atau setara 63,8 miliar dollar AS.
SCMP juga mengutip pandangan Zhao Xijun, profesor keuangan dari Renmin University of China, mengenai hubungan ekonomi kedua negara.
“Indonesia menyediakan sumber daya, sementara China memberikan modal, teknologi, dan keahlian manufaktur, menciptakan ekosistem ekonomi yang semakin terintegrasi,” kata Zhao Xijun, dikutip Rabu (29/7/2026).
Di sektor kendaraan listrik, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus mendorong hilirisasi agar Indonesia tidak hanya menjadi pengekspor bahan mentah, tetapi juga produsen produk bernilai tambah, termasuk baterai dan kendaraan listrik.
Strategi tersebut mendorong sejumlah perusahaan China memperluas investasi di Indonesia. BYD, misalnya, tengah membangun pabrik kendaraan listrik di Jawa Barat dengan kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun.
Sementara itu, Azure Corporation mengumumkan pembangunan fasilitas baterai lithium berkapasitas 5 gigawatt-hour per tahun.
Baca Juga: Ini Alasan Bos BGN Bantah MBG Habiskan Anggaran
Kerja Sama Keuangan Semakin Mendalam
Selain sektor industri, hubungan Indonesia dan China juga berkembang di bidang keuangan.
Pada Juni 2026, Bank Sentral China menunjuk cabang Bank of China di Jakarta sebagai bank kliring yuan resmi di Indonesia. Pada periode yang sama, Bank Mandiri menjadi peserta langsung dalam Cross-border Interbank Payment System (CIPS), sistem pembayaran lintas negara milik China.
Bank Indonesia dan otoritas keuangan China juga memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral.
SCMP mencatat nilai transaksi melalui skema local currency settlement (LCS) antara Indonesia dan China meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2025 menjadi 13,19 miliar dollar AS, dibandingkan 4,9 miliar dollar AS pada 2024.
Nasionalisme Sumber Daya Jadi Tantangan Investor
Di sisi lain, SCMP menilai hubungan ekonomi kedua negara kini menghadapi tantangan akibat kebijakan Indonesia yang semakin memperketat pengelolaan sumber daya alam.
Media tersebut menyebut kebijakan itu sebagai bentuk resource nationalism atau nasionalisme sumber daya, yaitu upaya pemerintah memastikan manfaat terbesar dari kekayaan alam dinikmati oleh perekonomian domestik.
Salah satu kebijakan yang disorot adalah pembatasan produksi nikel nasional pada 2026 menjadi sekitar 260 juta hingga 270 juta ton atau turun sekitar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kebijakan tersebut berdampak pada sejumlah investor, termasuk Weda Bay Nickel, salah satu tambang nikel terbesar di dunia yang melibatkan Tsingshan, Eramet, dan Antam.
Operasional tambang itu sempat dihentikan karena kuota produksi telah habis.
Meski demikian, para analis menilai hubungan ekonomi Indonesia dan China tetap memiliki prospek jangka panjang.
“China tetap menjadi modal penting bagi pembangunan ekonomi Indonesia, dan pemerintah Indonesia juga memahami kenyataan tersebut,” kata Hu Jie dari Shanghai Advanced Institute of Finance.
SCMP menilai masa depan hubungan kedua negara akan bergantung pada kemampuan perusahaan-perusahaan China menyesuaikan diri dengan kebijakan Indonesia yang semakin berorientasi pada peningkatan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
“Perusahaan China harus berubah dari sekadar eksportir menjadi mitra pengembang bersama jika ingin sukses dalam jangka panjang,” tulis Shanghai Academy of Social Sciences.

[…] Media China Soroti Hubungan RI-China, Ada Apa Sebenarnya? […]
[…] Media China Soroti Hubungan RI-China, Ada Apa Sebenarnya? […]
[…] Media China Soroti Hubungan RI-China, Ada Apa Sebenarnya? […]