Tidak Dapat Dukungan AS, Reza Pahlavi Sulit Jadi Pemimpin Baru Iran?
Upaya Reza Pahlavi, putra terakhir Shah Iran yang tumbang dalam Revolusi 1979, untuk mengambil peran sebagai pemimpin masa transisi Iran menghadapi jalan terjal. Ambisinya sempat mendapat sorotan ketika perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran berlangsung, tetapi hingga kini Washington belum memberikan dukungan resmi terhadap rencananya.
Dalam wawancara dengan Reuters, Pahlavi masih menyatakan keyakinannya bahwa pemerintahan Iran berada di ambang keruntuhan. Namun, ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin menjadi pemimpin permanen dan hanya menawarkan diri sebagai figur yang mengawal masa peralihan.
“Kampanye ini sudah menjadi misi hidup saya selama 46 tahun untuk membebaskan Iran. Ini tidak pernah tentang saya, melainkan tentang rakyat Iran dan hak mereka menentukan masa depan sendiri,” ujarnya, dikutip Rabu (29/7/2026).
Baca Juga : Turis Merosot, Dubat Tawarkan Puluhan Juta untuk Warganya
“Saya bukan tujuan akhirnya, saya hanya jembatan menuju tujuan tersebut.”
Pada fase awal perang, Pahlavi sempat mengklaim mendapat permintaan dari rakyat Iran untuk memimpin proses transisi pemerintahan. Ia juga memperoleh sambutan hangat ketika tampil dalam Conservative Political Action Conference (CPAC) di Texas.
Namun, dukungan tersebut mulai menghadapi tantangan setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras yang mengancam akan “menghancurkan Iran hingga kembali ke Zaman Batu”. Pahlavi tidak segera mengecam pernyataan tersebut sehingga memicu kekecewaan dari sebagian pendukung dan donatur gerakannya.
Keraguan semakin kuat setelah pemerintahan Trump berulang kali menyatakan tidak memiliki rencana untuk menjadikan Pahlavi sebagai pemimpin Iran berikutnya. Wakil Presiden AS JD Vance bahkan menegaskan “Presiden Amerika Serikat tidak pernah mengatakan bahwa tujuannya adalah menjadikan Reza Pahlavi sebagai pemimpin baru Iran.”
Sikap Washington tersebut sejalan dengan kesepakatan gencatan senjata AS-Iran yang tidak mencantumkan agenda pergantian rezim. Kesepakatan tersebut justru menekankan penghormatan terhadap kedaulatan Iran.
Di tengah situasi itu, sejumlah donatur juga mulai mempertanyakan efektivitas gerakan Pahlavi. Berdasarkan sumber Reuters, mereka sebelumnya telah memberikan dana lebih dari US$3 juta atau sekitar Rp54 miliar dengan asumsi kurs Rp18.000 per US$ untuk mendukung gerakannya.
Para penyandang dana tersebut menilai Pahlavi belum mampu menyatukan berbagai kelompok oposisi Iran. Ia juga disebut belum cukup tegas dalam mengecam aksi intimidasi maupun kekerasan yang dilakukan sebagian pendukung garis kerasnya terhadap aktivis oposisi lainnya.
Pahlavi membantah tuduhan tersebut. Ia menyatakan tidak pernah membiarkan kekerasan dilakukan oleh para pendukungnya dan menegaskan sikap penolakannya terhadap segala bentuk tindakan tersebut.
“Saya mengutuknya. Saya menjaga jarak dari tindakan itu. Saya tidak membenarkannya dan saya meminta siapa pun yang melakukan kejahatan tersebut diproses secara hukum,” katanya.
Tak Ada Basis Politik Kuat
Tantangan Pahlavi bukan hanya berasal dari sikap Washington dan perpecahan di kalangan oposisi. Ia juga dinilai belum mempunyai fondasi politik yang kuat di dalam negeri Iran.
Kondisinya berbeda dengan sejumlah tokoh revolusioner lainnya. Pahlavi telah menjalani hampir lima dekade di pengasingan sehingga tidak mempunyai organisasi massa besar yang dapat langsung mengambil alih pemerintahan apabila rezim Iran runtuh.
Baca Juga : Ukraina Akui Serangan ke Kapal Iran Tidak Disengaja!
Pahlavi sendiri mengklaim telah berkomunikasi dengan lebih dari 1.000 kelompok di Iran. Kelompok tersebut disebut mencakup pekerja, akademisi, tokoh agama, hingga organisasi berbasis etnis. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Ia juga menegaskan tidak pernah meminta pemerintah asing untuk menentukan masa depan politik Iran. Menurutnya, keputusan mengenai siapa yang akan memimpin Iran sepenuhnya berada di tangan rakyat negara tersebut.
“Bukan pemerintah asing yang berhak menentukan siapa alternatif bagi Iran. Itu sepenuhnya hak rakyat Iran,” ujarnya.
Pahlavi turut menekankan bahwa apabila operasi militer terjadi, serangan seharusnya diarahkan kepada rezim yang berkuasa dan tidak menyasar infrastruktur sipil.
Sejumlah survei memang masih menempatkan Pahlavi sebagai salah satu figur oposisi Iran yang paling dikenal. Namun, popularitas tersebut belum otomatis memberinya jalan menuju kekuasaan.
Perpecahan oposisi, minimnya basis politik yang kuat di dalam negeri, serta sikap pemerintahan Trump yang masih membuka ruang negosiasi dengan pemerintah Iran membuat peluang Pahlavi memimpin masa depan Iran belum dapat dipastikan.
Dengan kondisi tersebut, ambisi Reza Pahlavi untuk menjadi figur utama dalam transisi pasca-Republik Islam Iran masih menghadapi tantangan besar.
