Iran Ajukan 6 Syarat, Selat Hormuz Kapan Dibuka?
Iran belum memberikan lampu hijau untuk membuka kembali Selat Hormuz meski pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS) mengenai jalur pelayaran strategis tersebut disebut telah mendekati kesepakatan.
Teheran justru mengajukan enam tuntutan kepada Washington sebagai prasyarat pembukaan kembali selat. Persyaratan tersebut mencakup penghentian perang, pencabutan sanksi, hingga pembayaran kompensasi atas kerusakan akibat konflik.
Enam tuntutan itu disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad Baqer Zolqadr dalam pernyataan yang dirilis pada Sabtu (8/8/2026).
Baca Juga : Iran Tanggapi soal Pakta Mekkah oleh Arab Saudi, Turkiye, Pakistan
Enam Tuntutan Iran kepada AS
Dikutip dari Tasnim News Agency, berikut enam syarat yang diajukan Iran sebelum Selat Hormuz dapat dibuka kembali:
- Menghentikan ancaman dan penghinaan terhadap Iran, termasuk tindakan yang dianggap menyinggung kesucian nasional dan agama negara tersebut.
- Mengakhiri secara permanen perang dan agresi terhadap Iran serta kelompok sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak.
- Mengakhiri blokade laut dan menarik pasukan AS dari kawasan sekitar Iran, termasuk kekuatan angkatan laut dan udara.
- Memberikan kompensasi penuh kepada Iran atas kerusakan yang ditimbulkan dalam dua perang yang disebut Teheran sebagai agresi dan perang yang dipaksakan.
- Mencabut seluruh sanksi yang dinilai Iran tidak adil dan ilegal terhadap rakyatnya.
- Membebaskan tanpa syarat aset Iran yang diblokir, yang oleh Teheran disebut telah dicuri.
Zolqadr menyebut keenam poin tersebut sebagai tuntutan rakyat Iran. Ia juga menegaskan bahwa Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran tidak akan mengubah pendiriannya, baik dalam menghadapi perang maupun dalam proses perundingan.
Pembukaan Selat Hormuz Masih Terganjal Syarat
Pernyataan Iran tersebut membuat peluang pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat kembali dipertanyakan.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembahasan mengenai pengaturan selat telah mendekati tahap akhir. Namun, ia menekankan bahwa pembukaan jalur pelayaran tersebut tetap bergantung pada sejumlah persyaratan lain, termasuk kompensasi yang harus diberikan AS kepada Iran.
Menurut The Telegraph, tambahan tuntutan tersebut menunjukkan posisi tawar Teheran yang semakin kuat. Iran dinilai melihat peluang untuk mendapatkan konsesi lebih besar dari Presiden AS Donald Trump.
Baca Juga : Netanyahu Tolak Rencana Gaza, Hubungan dengan Trump Memanas
Sebelumnya, nota kesepahaman yang disepakati pada Juni memang telah mencantumkan ketentuan mengenai kompensasi dari AS. Namun, perbedaan penafsiran terhadap isi kesepakatan tersebut masih berpotensi menjadi penghambat.
Trump Pertimbangkan Akhiri Perang Tanpa Kesepakatan Nuklir
Di tengah belum tercapainya kesepakatan mengenai Selat Hormuz, muncul laporan bahwa Trump mulai mempertimbangkan opsi lain untuk mengakhiri konflik dengan Iran.
Trump disebut secara pribadi mempertimbangkan untuk mengakhiri perang tanpa terlebih dahulu mencapai kesepakatan terkait program nuklir Iran.
Pejabat AS yang dikutip The Wall Street Journal mengatakan Trump berpandangan bahwa setelah Selat Hormuz kembali terbuka, Washington dapat memantau aktivitas nuklir Iran dari jarak jauh dan mengambil tindakan jika diperlukan.
Jika opsi tersebut benar-benar ditempuh, kebijakan itu akan menjadi perubahan signifikan dari tujuan utama yang selama ini digunakan Washington sebagai salah satu dasar konflik dengan Teheran.
