Trump Jawab Netanyahu yang Tolak Rencana Damai Gaza
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, akhirnya memberikan tanggapan setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka menolak proposal perdamaian Gaza yang dirancang oleh Board of Peace yang dipimpin Washington.
Dilansir Al Jazeera, Trump memastikan hubungan dirinya dengan Netanyahu masih berjalan baik. Namun, penolakan Netanyahu memperlihatkan adanya perbedaan pandangan antara pemerintah AS dan Israel mengenai langkah untuk mengakhiri konflik di Gaza.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut pada Senin (10/8/2026) setelah seorang wartawan melontarkan pertanyaan kepadanya ketika acara di Ruang Oval Gedung Putih berakhir.
Netanyahu Tolak Penarikan Pasukan Israel dari Gaza
Sikap Trump muncul sehari setelah Netanyahu secara resmi menyatakan penolakannya terhadap proposal 15 poin mengenai Gaza.
Baca Juga : China Tambah Cadangan Emas 20 Ton, Jadi Terbesar sejak 2023
Dalam rapat kabinet pada Minggu (9/8/2026), Netanyahu menegaskan Israel tidak akan menarik pasukannya dari Gaza sebelum Hamas benar-benar dilucuti.
“Militer Israel tidak akan melakukan penarikan apa pun sampai Hamas benar-benar dilucuti,” kata Netanyahu.
Ia menegaskan militer Israel akan tetap bertindak untuk mencegah ancaman yang dinilai membahayakan pasukan maupun warga Israel. Pemerintah Netanyahu juga masih melakukan pembahasan dengan pemerintahan Trump mengenai proposal tersebut.
Selain penarikan pasukan, Netanyahu turut menolak gagasan pembentukan negara Palestina. Ia menyatakan negara Palestina tidak akan berdiri selama dirinya masih memimpin pemerintahan Israel.
Rencana Trump untuk Mengakhiri Perang Gaza
Proposal tersebut sebelumnya diumumkan Trump pada akhir Juli. Saat itu, ia menyebut Hamas dan sejumlah kelompok bersenjata di Gaza telah menerima rencana bertahap yang mengharuskan mereka menyerahkan senjata kepada badan pemerintahan Palestina yang baru.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Israel akan melakukan penarikan pasukan secara bertahap dari Gaza setelah proses pelucutan senjata berjalan.
Skema tersebut dirancang untuk mengakhiri operasi militer Israel di Palestina yang telah berlangsung sejak Oktober 2023. Board of Peace kemudian secara resmi mempublikasikan rancangan 15 poin tersebut pada 31 Juli.
Netanyahu awalnya tidak langsung memberikan penolakan secara terbuka. Selama beberapa hari, ia memilih tidak banyak berkomentar meski mengakui bahwa pemerintahan Trump telah mengirim proposal tersebut kepada Israel.
Pada saat itu, Netanyahu sudah menyatakan bahwa dirinya tidak menyetujui sejumlah isi proposal. Namun, pernyataan pada Minggu menjadi kali pertama ia secara resmi menyatakan penolakan terhadap rencana tersebut.
Tekanan dari Kelompok Sayap Kanan Israel
Sikap Netanyahu juga tidak terlepas dari tekanan politik domestik. Proposal Gaza tersebut dilaporkan mendapat penolakan dari basis pendukung sayap kanan Netanyahu.
Sejumlah survei menunjukkan rencana tersebut kurang mendapat dukungan dari kelompok sayap kanan Israel. Bahkan, beberapa anggota kabinet Netanyahu yang berasal dari kelompok tersebut mendesaknya untuk membatalkan proposal tersebut.
Baca Juga : Trump Balik Tuntut Kompensasi ke Iran atas Korban Konflik
Kondisi itu membuat Netanyahu berada dalam posisi sulit karena harus menjaga hubungan dengan pemerintahan Trump sekaligus mempertahankan dukungan politik di dalam negeri.
Perbedaan Sikap AS dan Israel Semakin Terlihat
Koresponden Al Jazeera di Washington, Patty Culhane, menilai langkah Netanyahu berisiko memperbesar ketegangan dengan Trump.
Menurutnya, posisi pemerintah Israel juga semakin menghadapi tantangan di AS. Di sisi lain, Partai Demokrat disebut semakin menunjukkan dukungan terhadap perjuangan Palestina.
Meski Netanyahu menolak proposal tersebut, Board of Peace menegaskan proses perdamaian belum dihentikan.
Seorang pejabat Board of Peace mengatakan kepada Reuters pada Senin bahwa pembahasan masih terus berjalan, termasuk komunikasi dengan pemerintah Israel.
