Iran Tiru Taktik Ukraina untuk Jebol Pertahanan AS
Iran terus mengembangkan strategi untuk menghadapi sistem pertahanan udara Amerika Serikat (AS) dalam perang yang berlangsung sejak 28 Februari 2026. Salah satu strategi yang kini dipelajari adalah pola serangan Rusia di Ukraina, yakni mengombinasikan rudal dan drone secara bersamaan untuk membuat sistem pertahanan udara lawan kewalahan.
Menurut laporan The New York Times, Selasa (11/8/2026), penerapan taktik tersebut terlihat dalam serangkaian serangan Iran terhadap tiga pangkalan militer AS di Yordania selama lima hari pada Juli 2026.
Iran meluncurkan sejumlah gelombang rudal dan drone, termasuk rudal canggih yang mampu mengubah arah secara tiba-tiba. Strategi tersebut dirancang untuk memperumit upaya sistem pertahanan AS dalam mendeteksi dan mencegat seluruh ancaman.
Baca Juga : Iran Klaim Bisa Perpanjang Perang hingga Trump Lengser
Pada hari kelima serangan, satu rudal berhasil menembus pertahanan AS. Rudal tersebut menghantam barak prefabrikasi di salah satu pangkalan pada 17 Juli, menewaskan tiga tentara AS dan menyebabkan lebih dari 100 orang terluka. Sejumlah pesawat juga dilaporkan mengalami kerusakan.
“Kami menembak jatuh hampir semua rudal. Satu berhasil lolos,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Iran Meniru Pola Serangan Rusia di Ukraina
Dalam perang Ukraina, Rusia menggunakan kombinasi rudal balistik dan rudal jelajah untuk mengalihkan perhatian sistem pertahanan udara sebelum melancarkan serangan drone. Iran kini menerapkan pendekatan serupa dalam menghadapi pertahanan AS.
Penggunaan berbagai jenis rudal dan drone secara bersamaan membuat pasukan AS harus melindungi banyak titik sekaligus. Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap sistem pertahanan yang harus menentukan ancaman mana yang perlu diprioritaskan.
Situasi semakin sulit karena persediaan rudal pencegat Patriot AS terus berkurang. Pentagon disebut telah menggunakan lebih dari 1.500 rudal pencegat Patriot selama konflik dan kini memiliki kurang dari 1.700 unit, berdasarkan keterangan dua sumber yang mengetahui persediaan tersebut.
AS memproduksi sekitar 600 rudal pencegat Patriot sepanjang 2025. Namun, dalam satu hari serangan di Yordania saja, pasukan AS di Timur Tengah menembakkan sekitar 50 rudal pencegat. Setiap rudal tersebut memiliki nilai sekitar US$4 juta atau sekitar Rp714 miliar.
Iran Belajar Menjatuhkan Jet Tempur AS
Adaptasi Iran terhadap taktik perang Ukraina sebelumnya juga terlihat pada April 2026. Ketika itu, Iran dilaporkan berhasil menembak jatuh jet tempur F-15E AS di wilayah selatan Iran menggunakan rudal pertahanan udara yang diluncurkan dari bahu.
Pilot dan perwira sistem persenjataan berhasil menyelamatkan diri dari pesawat. Namun, perwira tersebut baru ditemukan hampir dua hari kemudian.
Pejabat militer AS mengatakan Iran menggunakan gerombolan drone di wilayah yang dimasuki jet tempur AS. Drone tersebut membantu memberikan informasi kepada komandan Iran, termasuk koordinat GPS, kecepatan, dan arah pergerakan F-15E.
Informasi tersebut kemudian digunakan untuk menentukan sasaran. Sistem pertahanan pesawat hanya memberikan peringatan sekitar setengah detik sebelum jet tempur yang nilainya diperkirakan mencapai US$60 juta itu terkena serangan.
Setelah insiden tersebut, Presiden AS Donald Trump mengumumkan jeda pertempuran. Pejabat militer mengatakan pasukan AS membutuhkan waktu untuk beradaptasi terhadap perubahan taktik yang diterapkan Iran.
Pertahanan AS Makin Tertekan
Iran juga memperluas ancamannya dengan melibatkan kelompok Houthi di Yaman. Situasi ini membuat AS dan sekutunya harus menghadapi potensi serangan udara dari berbagai arah.
Di sisi lain, Iran menyembunyikan sebagian kemampuan militernya di fasilitas bawah tanah dan lokasi yang sulit dideteksi. Para pakar menilai kondisi tersebut semakin menyulitkan AS untuk menemukan dan menghancurkan seluruh kemampuan militer Iran.
Tekanan terhadap kemampuan militer AS juga mulai memberikan dampak diplomatik. Pada akhir Juli, Trump disebut sempat menanyakan kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengenai persediaan senjata AS yang terus berkurang.
Baca Juga : Kapal Dagang Pilih Jalur Iran, Trump Klaim Kuasai Hormuz
Pentagon membantah mengalami kekurangan amunisi. Namun, kemampuan Iran menembus sistem pertahanan AS serta tingginya penggunaan rudal pencegat menunjukkan bahwa konflik tersebut berlangsung lebih kompleks dan berkepanjangan dibandingkan perkiraan awal Washington.
Trump Batalkan Serangan di Tengah Tekanan Regional
Sekitar dua pekan lalu, Trump membatalkan rencana serangan udara terhadap Iran setelah para pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar mendorong Washington mengutamakan jalur diplomasi.
Ketiga negara tersebut khawatir serangan besar AS terhadap Iran dapat memicu aksi balasan terhadap fasilitas energi dan infrastruktur strategis di kawasan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa kemampuan Iran beradaptasi dengan taktik perang modern tidak hanya memberikan tantangan militer bagi AS, tetapi juga mempersempit ruang gerak Washington dalam menentukan langkah berikutnya.
