Iran Buka Peluang Diplomasi dengan AS, Tapi Minta Syarat Ini
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan peluang untuk kembali membuka jalur diplomasi dengan Amerika Serikat (AS) masih ada. Namun, menurutnya, hal tersebut bergantung pada kesediaan Washington untuk mengakui bahwa tekanan terhadap Teheran tidak membuahkan hasil.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi melalui unggahan di platform X. Ia mengatakan, hubungan diplomatik dapat kembali berjalan apabila AS membangun kepercayaan serta menghormati kepentingan Iran.
Baca Juga: Ada Misi Rahasia Bos CIA ke Rusia, Bawa Peringatan untuk Putin
“AS harus membangun kepercayaan, berbicara dengan penuh rasa hormat, mengakui hak-hak kami, dan mematuhi komitmen,” ujar Araghchi.
Araghchi juga mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan pembicaraan yang disebutnya sebagai “diskusi kreatif” dengan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani.
Qatar sebelumnya menjadi salah satu negara yang berperan dalam upaya komunikasi antara Iran dan pihak-pihak internasional di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Selain pernyataan dari Menteri Luar Negeri, Penjabat Menteri Pertahanan Iran Majid Ibn al-Reza juga menegaskan bahwa negaranya telah mengalami perubahan dalam peta kekuatan regional.
Menurutnya, Iran telah membuktikan bahwa ancaman maupun serangan terhadap negaranya tidak lagi dapat dilakukan dengan mudah.
“Pertunjukan media yang konyol tidak mengubah kenyataan di lapangan maupun pihak yang keluar sebagai pemenang,” kata Ibn al-Reza dalam unggahan di X yang kemudian dikutip kantor berita pemerintah Iran, IRNA.
Baca Juga: Sisa Tiga Negara, AS Cabut Status Sponsor Teror Suriah
Ia juga meminta pihak-pihak yang berseberangan dengan Iran untuk memahami sejarah panjang negara tersebut sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
Ibn al-Reza mengatakan, pihak yang memusuhi Iran harus memahami bahwa bangsa Iran hanya dapat diajak berkomunikasi melalui pendekatan yang menghormati.
Menurutnya, Iran tidak akan menerima tekanan sebagai cara untuk menyelesaikan konflik. Pernyataan tersebut muncul ketika hubungan Iran dan AS masih berada dalam kondisi penuh ketegangan akibat konflik serta tekanan ekonomi yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.
