Pakistan Siap Lindungi Arab Saudi Jika Diserang Houthi
Pemerintah Pakistan memperingatkan Iran agar segera mengendalikan kelompok Houthi di Yaman untuk mencegah konflik keamanan regional semakin meluas.
Peringatan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya serangan Houthi terhadap wilayah Arab Saudi.
Langkah Islamabad itu berkaitan dengan pakta pertahanan bersama yang mengikat Pakistan, Arab Saudi, dan Turkiye.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menegaskan, setiap agresi atau limpahan konflik ke wilayah Arab Saudi dapat mengaktifkan perjanjian keamanan ketiga negara tersebut.
Baca Juga: Tujuan Orang Kaya China Jadi Malaysia, Singapura Tetap Diminati
Pakistan Siap Aktifkan Pakta Pertahanan
“Agresi terhadap satu negara akan dianggap sebagai agresi terhadap ketiga negara,” ujar Asif dalam siaran televisi Pakistan, sebagaimana dilansir Reuters.
“Tidak ada ambiguitas atau keraguan. Agresi tanpa provokasi atau limpahan ke Arab Saudi dipastikan akan membuat perjanjian ini beroperasi,” lanjutnya.
Menurut sumber dari Pakistan, pejabat Arab Saudi telah bertemu dengan perwakilan militer Pakistan dan Turki di Riyadh untuk mengoordinasikan respons bersama.
Ketiga negara sepakat bahwa pasukan mereka tidak akan memasuki wilayah Yaman dan setiap tindakan balasan hanya dilakukan dari dalam wilayah Arab Saudi.
Peran militer Pakistan disebut bersifat defensif, yakni memberikan dukungan teknis, udara, maupun darat di wilayah Arab Saudi tanpa terlibat dalam operasi tempur di luar negeri.
Seorang diplomat senior kawasan mengatakan, pesan peringatan tersebut telah disampaikan kepada Teheran dalam 24 jam terakhir.
“Pakistan memiliki perjanjian dengan Arab Saudi, tetapi saya berharap situasinya tidak akan mencapai titik di mana Pakistan harus turun tangan secara praktis,” ujar diplomat tersebut.
Di sisi lain, pejabat senior Iran membenarkan telah menerima pesan dari Pakistan pada Selasa, tetapi menyatakan bahwa Iran tidak mengendalikan Houthi.
Meski demikian, dua sumber internal Iran mengungkapkan hal berbeda dengan menyebut Teheran telah memerintahkan Houthi pada pekan lalu untuk menyerang Arab Saudi dengan iming-iming tambahan dana dan senjata.
Beberapa komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) bahkan dilaporkan telah mengunjungi Yaman untuk membantu mengoordinasikan serangan tersebut.
Ketegangan meningkat setelah Houthi melancarkan serangan besar pada Selasa (8/9/2026) dengan menargetkan pangkalan udara di Khamis Mushait dan fasilitas minyak di kota-kota sekitarnya.
Serangan tersebut melukai 73 orang dan menjadi salah satu serangan terbesar terhadap Arab Saudi sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada Februari lalu.
Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan jet tempur Arab Saudi membalas dengan melancarkan 54 serangan udara di berbagai provinsi Yaman dalam kurun 12 jam.
Baca Juga: AS hendak Terus Serang Kapal Tanker Iran
Saree menegaskan serangan balasan tersebut tidak akan dibiarkan tanpa jawaban dan hukuman.
Meski krisis terus memanas dan mengancam pasokan energi global, respons militer Arab Saudi diperkirakan tetap berfokus pada Houthi, bukan menyerang Iran secara langsung.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump diperkirakan tetap melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sedangkan Qatar mulai menjajaki proposal baru untuk membawa kedua pihak kembali ke meja perundingan.
Seorang sumber kawasan menilai strategi tekanan Iran tidak akan mampu menghentikan langkah Washington.
“Pertanyaannya adalah seberapa besar rasa sakit yang bisa diserap Iran, dan untuk berapa lama. Trump tidak menginginkan solusi militer. Dia ingin menekan mereka melalui blokade,” tutur sumber tersebut.
