Drone Houthi Incar Mekkah, Arab Saudi Cegat Serangan
Kota suci Mekkah dilaporkan menjadi sasaran upaya serangan drone yang dilancarkan kelompok Houthi. Koalisi militer pimpinan Arab Saudi yang terlibat dalam konflik di Yaman menyebut drone tersebut berhasil dicegat sebelum memasuki wilayah udara terlarang di sekitar kota suci.
Juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, mengatakan sistem pertahanan udara Arab Saudi menghancurkan drone yang disebut diluncurkan oleh Houthi pada Rabu (16/9/2026).
“Pasukan Pertahanan Udara Kerajaan Arab Saudi mencegat dan menghancurkan sebuah drone bermusuhan yang diluncurkan oleh Milisi Teroris Houthi sebelum drone tersebut memasuki Wilayah Udara Terlarang Kota Suci ‘Makkah Al-Mukarramah’,” demikian pernyataan al-Maliki yang diunggah di platform X, dikutip AFP.
Ia menegaskan Arab Saudi akan mengambil langkah pencegahan untuk menjaga keamanan Mekkah dan para jemaah.
Baca Juga : Arab Saudi Dikabarkan Temukan 110 Juta Ton Bijih Mengandung Uranium
“Keamanan ‘Dua Masjid Suci’ dan para peziarah adalah garis merah, dan Komando Pasukan Gabungan Koalisi tidak akan ragu untuk mengambil tindakan yang diperlukan dan pencegahan terhadap Milisi Teroris Houthi,” tambahnya.
Peringatan Serangan Dikeluarkan Sehari Sebelumnya
Sehari sebelum laporan pencegatan drone tersebut, otoritas Arab Saudi telah mengeluarkan peringatan keamanan terkait kemungkinan serangan di Mekkah serta wilayah selatan kerajaan yang berbatasan langsung dengan Yaman.
Peringatan tersebut disebut menjadi salah satu peringatan pertama terkait Mekkah sejak perang Amerika Serikat (AS) dan Iran pecah pada Februari.
Peringatan muncul sehari setelah serangkaian serangan rudal balistik dan drone yang diluncurkan dari Yaman menyebabkan 13 orang terluka di Arab Saudi.
OKI Kecam Serangan Houthi
Situasi tersebut turut mendapat perhatian Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Blok yang beranggotakan 57 negara itu mengecam serangan yang dikaitkan dengan Houthi dan menyebutnya sebagai tindakan “keji”.
“Sekretariat Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengecam serangan keji yang dilakukan oleh kelompok Houthi terhadap kota Makkah dan wilayah Madinah, serta agresi berkelanjutan mereka terhadap Kerajaan Arab Saudi,” demikian pernyataan OKI yang diunggah di platform X.
Namun, tudingan bahwa Mekkah menjadi target serangan dibantah oleh pihak Houthi. Hazem al-Assad, pejabat dari biro politik Houthi, menyebut laporan tersebut sebagai klaim yang tidak benar.
“Klaim mengenai penargetan Mekkah adalah kebohongan usang yang pernah digunakan sebelumnya dan tidak lagi dapat memperdaya siapa pun,” tulis al-Assad melalui platform X.
Konflik Meluas ke Laut Merah
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat ketika konflik antara Houthi dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi kembali berlangsung.
Houthi yang mendapat dukungan Iran juga disebut meningkatkan tekanan terhadap Arab Saudi melalui aktivitas maritim di Laut Merah, termasuk menargetkan kapal-kapal yang terkait dengan kerajaan tersebut.
Pada akhir pekan, Houthi dilaporkan menguasai wilayah pesisir Laut Merah Yaman hingga kawasan Selat Bab al-Mandab. Jalur tersebut memiliki posisi penting bagi perdagangan dan pengiriman energi, terutama ketika gangguan di Selat Hormuz menghambat sejumlah rute pelayaran strategis.
Baca Juga : China Semakin Perketat Aturan, Warga Bisa Dilarang Keluar Negeri
Pada 10 September, East-West Pipeline milik Arab Saudi juga menjadi sasaran beberapa drone. Pipa tersebut kemudian ditutup sementara. Reuters melaporkan serangan itu memberikan dampak terhadap jalur ekspor minyak Saudi.
Ancaman ke Terusan Suez
Gangguan di Laut Merah juga berpotensi memberikan dampak terhadap Mesir. Jalur tersebut menjadi akses menuju Terusan Suez, yang selama ini menjadi salah satu sumber penting pendapatan devisa bagi Kairo.
Pendapatan Terusan Suez saat ini disebut hanya sekitar setengah dari level sebelum Houthi mulai menyerang kapal-kapal di Laut Merah pada 2023. Kelompok tersebut mengatakan serangan itu merupakan bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina di tengah perang Israel dan Hamas di Gaza.
Pada Selasa, Qatar turut memperingatkan dampak yang dapat muncul jika Selat Bab al-Mandab sampai ditutup. Doha menyebut penutupan jalur tersebut dapat membawa konsekuensi serius dan menjadi “bencana bagi seluruh dunia”.
