Biaya Perang AS di Iran Tembus Rp803 Triliun
Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) atau Pentagon melaporkan biaya perang dengan Iran telah mencapai 45,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp803,32 triliun.
Angka tersebut dihitung menggunakan asumsi kurs Rp17.812 per dollar AS.
Pentagon menyampaikan rincian biaya perang tersebut kepada anggota Kongres AS pada Jumat (18/9/2026).
Biaya tersebut terdiri dari 43,6 miliar dollar AS untuk perang hingga 3 September dan tambahan 1,5 miliar dollar AS untuk bahan bakar.
“Namun, perkiraan tersebut bukanlah perhitungan lengkap dari biaya perang,” sebagaimana dikutip dari CNN International, Minggu (20/9/2026).
Baca Juga: Dapur MBG hendak Kembali Dapat Insentif Rp6 Juta per Hari Lagi
Biaya Perang Diperkirakan Terus Bertambah
Laporan Pentagon tersebut belum mencakup biaya perbaikan pangkalan atau bangunan AS yang rusak akibat perang.
Pentagon juga belum memberikan rincian mendalam kepada Kongres mengenai biaya tidak langsung dari operasi militer, meskipun hal tersebut sebelumnya diminta oleh sejumlah anggota parlemen.
Meski demikian, nilai 45,1 miliar dollar AS yang dilaporkan Pentagon telah melampaui proyeksi Kantor Anggaran Kongres atau Congressional Budget Office (CBO).
CBO sebelumnya memperkirakan biaya perang mencapai 38 miliar dollar AS hingga 1 Agustus.
Angka terbaru Pentagon juga lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 37,5 miliar dollar AS yang disampaikan pada Juli.
CBO menyebut sebagian besar biaya perang berasal dari pengeluaran untuk amunisi.
Namun, proyeksi CBO juga belum memasukkan biaya perbaikan fasilitas AS yang rusak selama perang.
Baca Juga: BOJ Diproyeksi Naikkan Suku Bunga menjadi 1,25 Persen
CBO memperkirakan perang dengan Iran akan terus menghabiskan sekitar 2 miliar dollar AS hingga 3 miliar dollar AS per bulan setelah 1 Agustus.
Biaya tersebut diperkirakan meningkat jika intensitas pertempuran kembali naik.
Selain membebani anggaran AS, CBO memperkirakan perang dengan Iran juga dapat berdampak terhadap perekonomian domestik.
CBO memperkirakan perang akan meningkatkan inflasi AS pada kuartal I-2027.
Kenaikan inflasi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap biaya hidup ketika kekhawatiran masyarakat Amerika terhadap kondisi ekonomi masih tinggi.
