Korea Utara Kembali Tembakkan Rudal, Jadi yang Ke-14
Korea Utara kembali meluncurkan dua rudal balistik jarak pendek ke arah Laut Timur atau yang juga dikenal sebagai Laut Jepang pada Minggu (20/9/2026).
Menurut laporan Reuters dan Yonhap, dua rudal tersebut diluncurkan dari wilayah Wonsan dengan jarak waktu sekitar tiga jam. Rudal pertama ditembakkan sekitar pukul 15.00 waktu setempat dan terbang sekitar 450 kilometer. Sementara rudal kedua diluncurkan sekitar pukul 17.50 dan melaju lebih dari 600 kilometer.
Peluncuran tersebut menjadi uji coba rudal balistik ke-14 Korea Utara sepanjang 2026. Aksi ini juga menjadi peluncuran rudal balistik pertama Pyongyang dalam delapan hari setelah sebelumnya menembakkan beberapa rudal jarak pendek pada 12 September.
Rudal Diluncurkan dari Wonsan
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan atau JCS mengatakan pihaknya mendeteksi peluncuran pertama dari wilayah Wonsan pada Minggu sore.
Baca Juga : BOJ Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi Sejak 31 Tahun?
Militer Korea Selatan bersama otoritas intelijen AS langsung melakukan analisis untuk memastikan spesifikasi rudal. Informasi terkait peluncuran tersebut juga dibagikan kepada Jepang.
Peluncuran kedua terjadi sekitar tiga jam setelah rudal pertama. Kedua proyektil kemudian jatuh di perairan di luar zona ekonomi eksklusif Jepang.
Sebelumnya, pada 12 September, Korea Utara juga menembakkan sejumlah rudal balistik jarak pendek dari kawasan Wonsan menuju Laut Timur. Rudal-rudal tersebut dilaporkan menempuh jarak sekitar 250 kilometer.
Peluncuran pada 12 September dilakukan sehari setelah Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang menyelesaikan latihan militer trilateral Freedom Edge.
Korea Utara Kritik Latihan Militer AS, Korsel dan Jepang
Latihan Freedom Edge berlangsung selama lima hari dan berakhir pada Jumat (11/9/2026). Ketiga negara melakukan latihan bersama di sejumlah domain, termasuk udara, laut, dan siber.
Komando Pasifik AS sebelumnya menyebut latihan tersebut mencakup manuver maritim, pengisian bahan bakar di udara, koordinasi siber, serta latihan medis.
Militer Korea Selatan mengatakan latihan tersebut bersifat defensif dan ditujukan untuk meningkatkan kemampuan ketiga negara dalam merespons ancaman nuklir Korea Utara.
Pyongyang memandang latihan tersebut secara berbeda. Pejabat Korea Utara mengecam latihan gabungan AS, Korea Selatan, dan Jepang sebagai tindakan provokatif.
Korea Utara juga sebelumnya menyatakan akan mengambil langkah balasan terhadap aktivitas militer yang dianggap mengancam keamanan negaranya. Kim Yo Jong, saudara perempuan Kim Jong Un sekaligus pejabat senior Korea Utara, turut memperingatkan bahwa latihan militer tersebut dapat meningkatkan ketegangan di kawasan.
Korea Selatan dan AS Tingkatkan Pengawasan
Setelah peluncuran rudal terbaru, Korea Selatan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas militer Korea Utara.
Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Jepang juga melakukan komunikasi untuk bertukar informasi serta membahas respons terhadap peluncuran tersebut.
Dewan Keamanan Nasional Korea Selatan mengecam peluncuran rudal balistik tersebut karena dinilai bertentangan dengan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sementara itu, AS dan Jepang menyatakan keprihatinan atas peluncuran tersebut. Namun, tidak ada penilaian bahwa rudal tersebut menimbulkan ancaman langsung terhadap wilayah AS maupun sekutunya.
Kim Jong Un Perkuat Penangkal Nuklir
Peluncuran rudal terbaru terjadi ketika Kim Jong Un terus mendorong penguatan kemampuan nuklir Korea Utara.
Pada awal September, Kim mengatakan kapal perusak angkatan laut terbaru negaranya akan menjadi bagian dari sistem respons nuklir. Kapal tersebut disebut memiliki kemampuan untuk mendukung serangan balasan, meski laporan Reuters mencatat Korea Utara tidak menjelaskan apakah kapal itu benar-benar membawa senjata nuklir.
Baca Juga : China Minta Iran Redam Houthi, Permintaan Saudi?
Sementara itu, pejabat pertahanan Korea Utara pada pekan lalu kembali menegaskan bahwa status negaranya sebagai negara bersenjata nuklir tidak dapat diubah. Pyongyang juga menyatakan penguatan persenjataan nuklir diperlukan untuk menghadapi apa yang disebutnya sebagai peningkatan ancaman dari AS dan sekutunya.
Pengembangan program nuklir tersebut berlangsung setelah diplomasi tingkat tinggi antara Korea Utara dan AS terhenti menyusul kegagalan perundingan pada 2019.
Hubungan Korea Utara dengan Rusia dan China yang semakin erat juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam perkembangan keamanan di kawasan.
Di sisi lain, Trump sebelumnya memangkas latihan militer tahunan AS-Korea Selatan sebagai bagian dari upaya membuka kembali ruang diplomasi dengan Kim Jong Un. Namun, Pyongyang tetap mempertahankan tuntutannya agar AS mengubah kebijakan yang dianggap bermusuhan sebelum pembicaraan kembali dilakukan.
