Kepuasan pada Trump Turun Jadi 32 Persen, Terendah
Tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump turun menjadi 32 persen, angka terendah sepanjang karier politiknya.
Hasil tersebut berdasarkan jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dilakukan secara daring terhadap 1.277 orang dewasa di seluruh AS dan dirilis pada Senin (21/9/2026).
Angka kepuasan itu turun dari 35 persen dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos pada pekan sebelumnya.
Penurunan juga terjadi di kalangan pendukung Partai Republik, dengan tingkat kepuasan terhadap Trump turun dari 82 persen menjadi 73 persen.
Biaya Hidup Jadi Persoalan Utama
Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025 dengan janji menekan inflasi dan mengakhiri perang di luar negeri.
Dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dilakukan beberapa jam setelah Trump dilantik, tingkat kepuasannya mencapai 47 persen.
Namun, dalam jajak pendapat terbaru, hanya 17 persen responden yang menyatakan puas terhadap kinerja Trump dalam menangani biaya hidup.
Persoalan biaya hidup menjadi salah satu isu utama yang menurut warga AS akan menentukan pilihan mereka dalam pemilu sela pada November mendatang.
Ketidakpuasan terhadap penanganan inflasi juga meningkat di kalangan pendukung Partai Republik sejak Trump melancarkan perang terhadap Iran pada Februari.
Konflik tersebut turut membuat harga bensin dan solar naik tajam.
Untuk pertama kalinya, jumlah pemilih Partai Republik yang tidak puas terhadap penanganan biaya hidup oleh Trump lebih banyak dibandingkan yang puas.
Sebanyak 51 persen responden dari Partai Republik menyatakan tidak puas, sedangkan 44 persen menyatakan puas.
Tingkat kepuasan Trump dalam jajak pendapat terbaru tersebut juga lebih rendah dibandingkan angka terendah yang pernah dicatat mantan Presiden AS Joe Biden, yakni 35 persen pada akhir Oktober 2024.
Baca Juga: Krisis Listrik Libya Makin Parah, walau Negara Kaya Minyak
Perang Iran Jadi Pemicu
Jajak pendapat tersebut juga menunjukkan rendahnya dukungan publik terhadap serangan AS ke Iran.
Hanya 34 persen responden yang menyatakan menyetujui serangan tersebut.
Konflik itu telah mengurangi pasokan minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah ke pasar dunia serta berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi di AS dan negara lainnya.
Trump sebelumnya mengatakan konflik tersebut akan berlangsung selama beberapa pekan dan Iran perlu dibom untuk menghentikan pengembangan senjata nuklirnya.
Pada awal September, Trump berjanji perang akan berakhir “segera setelah” pemilu.
Namun, Iran belum menunjukkan tanda-tanda menyerah.
Teheran dan sekutunya dalam beberapa pekan terakhir juga mengancam akan mengganggu pasar minyak.
Sebanyak 82 persen responden dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos memperkirakan konflik tersebut akan berlangsung dalam waktu lama.
Angka tersebut mencakup sekitar sembilan dari 10 pendukung Partai Demokrat dan tiga perempat pendukung Partai Republik.
Baca Juga: Krisis Bisnis Amerika Serikat Disebut Lebih Parah dari Covid-19
Demokrat Unggul dalam Preferensi Pemilih
Jajak pendapat Reuters/Ipsos juga menunjukkan kecenderungan pemilih untuk mendukung Partai Demokrat dalam pemilu sela pada 3 November.
Pemilu tersebut akan menentukan partai yang mengendalikan Kongres AS selama dua tahun berikutnya.
Di antara pemilih terdaftar, 43 persen mengatakan akan memilih kandidat Partai Demokrat, sementara 35 persen memilih kandidat Partai Republik.
Selisih delapan poin persentase tersebut menjadi keunggulan terbesar Partai Demokrat dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos sepanjang tahun ini.
Kehilangan kendali atas salah satu kamar Kongres dapat mempersulit Trump menjalankan agendanya pada dua tahun terakhir masa jabatannya.
Di sisi lain, Trump masih mendapat dukungan kuat dari Partai Republik terkait kebijakan imigrasi.
Sebanyak 79 persen pendukung Partai Republik menyetujui pendekatan Trump terhadap isu tersebut.
Namun, secara keseluruhan, hanya 36 persen warga AS yang menyetujui pendekatan Trump terhadap imigrasi, sedangkan 55 persen menyatakan tidak setuju.
Sejumlah sekutu Partai Republik di Kongres memperingatkan bahwa kampanye deportasi terhadap orang yang berada di AS secara ilegal berisiko membuat sebagian pemilih menjauh.
Risiko tersebut termasuk terhadap warga yang memiliki anggota keluarga yang baru berimigrasi ke AS.
Sementara itu, untuk kebijakan pemberantasan kejahatan, sebanyak 35 persen responden menyatakan puas dengan pendekatan Trump.
Sebanyak 50 persen lainnya menyatakan tidak puas.
