Jepang Harap Trump Tegaskan Dukungan di Tengah Tekanan China
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dijadwalkan bertemu bilateral dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York pada Selasa (22/9/2026).
Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi Tokyo untuk meminta Washington mempertahankan komitmen aliansi keamanan di Asia Timur, termasuk keberadaan sekitar 50.000 prajurit AS di Jepang.
Diplomasi tersebut dilakukan ketika hubungan Jepang dan China memburuk akibat pernyataan Takaichi mengenai kemungkinan intervensi militer Jepang jika China menyerang Taiwan.
Beijing merespons sikap tersebut dengan sejumlah tekanan ekonomi dan membatasi saluran diplomatik dengan Tokyo.
Baca Juga: Bahlil Minta Warga Mampu Tidak Pakai BBM Subsidi
China Tekan Jepang Lewat Perdagangan dan Wisata
Hubungan Tokyo dan Beijing memburuk sejak November setelah Takaichi menyatakan kemungkinan Jepang melakukan intervensi militer jika China menyerang Taiwan.
China kemudian membatasi pasokan mineral penting, melarang impor produk laut Jepang, serta mendorong penurunan arus wisatawan China ke Jepang.
Kunjungan wisatawan China ke Jepang tercatat turun hingga 59 persen pada Agustus 2026.
“Takaichi ingin Presiden Trump mengirimkan sinyal yang sangat jelas kepada Xi Jinping bahwa tidak ada celah sedikit pun antara AS dan Jepang dalam merespons berbagai isu strategis di kawasan,” kata Ketua Bidang Jepang di Hudson Institute, Kenneth R Weinstein, dikutip dari New York Times.
Tekanan China juga berdampak pada sektor manufaktur dan teknologi tinggi Jepang akibat terganggunya pasokan mineral penting.
Data bea cukai menunjukkan ekspor magnet tanah jarang dari China ke Jepang turun 52 persen pada Juli dan 17 persen pada Agustus.
Untuk mencegah hubungan kedua negara semakin memburuk, pemerintah Takaichi mengirim delegasi lintas partai dan pemimpin bisnis ke Beijing.
Namun, China tetap meminta Jepang membatalkan secara resmi pernyataan Takaichi mengenai Taiwan sebelum dialog bilateral tingkat tinggi kembali digelar.
Asisten Menteri Luar Negeri China Liu Bin mengatakan pernyataan Tokyo menjadi penghambat utama pemulihan hubungan kedua negara.
“Pernyataan dan tindakan yang keliru dari pihak Jepang merupakan rintangan utama,” ujarnya.
“Jepang harus menunjukkan melalui aksi nyata bahwa mereka layak dipercaya oleh negara-negara tetangganya di Asia,” sambungnya.
Baca Juga: Trump Luncurkan Trump TV 24 Jam Usai Media Amerika Boikot
Takaichi Bahas Sanksi AS terhadap Hakim ICC
Selain persoalan Taiwan, Takaichi juga akan menyampaikan keberatan Jepang terhadap sanksi AS kepada Ketua Mahkamah Pidana Internasional (ICC), Tomoko Akane, yang merupakan hakim berkebangsaan Jepang.
Takaichi menyebut kebijakan sanksi Washington tersebut sebagai langkah yang sangat disayangkan.
Dalam pertemuan dengan Trump, Takaichi juga akan menegaskan kembali komitmen investasi Jepang senilai 550 miliar dollar AS.
Komitmen tersebut disampaikan untuk menghindari tekanan terhadap hubungan aliansi seperti yang dialami Korea Selatan.
Pertemuan Takaichi dan Trump berlangsung sehari sebelum Trump dijadwalkan menerima Presiden China Xi Jinping dalam kunjungan kenegaraan di Washington.
Hasil pertemuan di New York dinilai dapat memengaruhi arah hubungan strategis di kawasan Indo-Pasifik menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC di Shenzhen.
