Gebrak Meja, Macron Bantah Klaim Trump soal Gaza di Sidang PBB
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, melontarkan kritik terhadap klaim Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengenai situasi Gaza dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (22/9/2026).
Macron menolak gambaran Trump yang menyebut upayanya terkait Gaza sebagai keberhasilan diplomatik. Pernyataan tersebut disampaikan hanya beberapa jam setelah Trump berpidato di forum yang sama dan memaparkan pencapaiannya dalam mengakhiri perang di Gaza.
Menurut Macron, kondisi di Gaza belum menunjukkan situasi damai seperti yang digambarkan Trump. Ia justru menilai tragedi kemanusiaan masih berlangsung dan mempertanyakan respons dunia terhadap kondisi tersebut.
Baca Juga : 13 Pernyataan Presiden Iran di PBB, Soroti Trump?
Macron juga menyoroti belum dibukanya koridor kemanusiaan di Gaza sebagai salah satu persoalan utama.
“Kredibilitas apa yang kita miliki jika kita terus berdiam diri menghadapi situasi di Gaza? Beberapa pihak menyombongkan perdamaian yang seolah-olah terjadi. Namun, perdamaian itu tidak membuka kembali akses kemanusiaan sedetik pun. Apakah kita hanya akan berdiri dan menonton tontonan yang seharusnya mempermalukan kita semua ini?” tegas Macron.
Macron Soroti Kondisi Gaza dan Tepi Barat
Selain mempertanyakan klaim perdamaian di Gaza, Macron turut menyoroti perkembangan di Tepi Barat. Ia mengatakan kekerasan terhadap warga Palestina di wilayah tersebut juga menjadi persoalan yang tidak dapat diabaikan.
Sikap tersebut muncul di tengah kritik terhadap kebijakan Prancis mengenai Palestina. Macron sebelumnya mengakui Palestina sebagai negara pada September 2025, tetapi sejumlah politisi dan aktivis di Prancis menilai langkah tersebut belum diikuti tindakan yang cukup.
Menanggapi kritik itu, Macron mengingat kembali pernyataannya ketika berada di forum PBB setahun sebelumnya.
“Setahun yang lalu, di ruangan ini, sekitar selusin negara telah mengakui Palestina. Saya mendengar sinisme dari beberapa orang: ‘Pengakuan hanyalah secarik kertas, lihatlah kenyataannya’,” ungkap Macron.
Pemerintah Prancis dalam setahun terakhir juga mengambil sejumlah langkah terhadap kekerasan pemukim Israel terhadap warga Palestina, termasuk sanksi nasional serta upaya membatasi masuknya produk dari permukiman Israel di Tepi Barat.
Kebijakan tersebut ikut membuat hubungan Paris dan Tel Aviv semakin tegang. Macron kembali mempertanyakan kondisi yang berlangsung di Tepi Barat.
“Lihatlah apa yang terjadi di Tepi Barat, di mana setiap hari pelanggaran dilakukan. Atas nama siapa? Hamas tidak pernah beroperasi di Tepi Barat,” ujar sang presiden.
“Apa yang terjadi di sana hari demi hari sedang membangun ketidakmungkinan dari sebuah proyek yang seharusnya didasarkan pada penghormatan terhadap hak sah rakyat Palestina untuk eksis,” tambahnya.
Macron Peringatkan Dampak Kekerasan terhadap Keamanan Israel
Macron juga memperingatkan bahwa tindakan yang dianggap sebagai upaya menjaga keamanan Israel dengan mengorbankan kedaulatan negara lain justru dapat membawa dampak sebaliknya.
Menurutnya, pelanggaran terhadap kedaulatan negara-negara di kawasan tidak akan memperkuat keamanan Israel dalam jangka panjang.
“Mereka melemahkan keamanan Israel, baik hari ini maupun di masa depan,” katanya mengingatkan.
Pernyataan Macron tersebut disampaikan dalam pidato terakhirnya di Majelis Umum PBB sebagai presiden Prancis sebelum meninggalkan jabatannya tahun depan. Dalam pidatonya, ia juga menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional dan menyoroti sejumlah konflik global.
Gedung Putih Bela Klaim Trump soal Gaza
Kritik Macron kemudian mendapat respons dari Gedung Putih. Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly membela pencapaian Trump terkait perang Gaza dan implementasi rencana perdamaian yang diajukan pemerintah AS.
Baca Juga : Netanyahu dan Mamdani Dikabarkan Berseteru Jelang Pidato di PBB
“Presiden Trump mengakhiri perang antara Israel dan Hamas, membebaskan semua sandera yang masih hidup, mengembalikan jenazah para korban kepada orang-orang yang mereka cintai, dan kini memimpin implementasi Rencana Perdamaian 20 Poin di Gaza,” urai Kelly.
Trump sendiri dalam pidatonya di UNGA mengatakan perang Gaza telah berakhir dan seluruh sandera telah dikembalikan, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Ia juga menyebut Dewan Keamanan PBB telah mendukung rencana perdamaian 20 poin untuk Gaza.
“Sementara yang lain hanya bicara, Presiden ini menghadapi masalah kompleks tersebut secara langsung. Tidak ada yang berbuat lebih banyak untuk perdamaian dan stabilitas di kawasan ini,” lanjutnya.
