Iran Ancam Perluas Perang hingga Samudera Hindia
Iran mengeluarkan peringatan baru di tengah perang dengan Amerika Serikat (AS). Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, Yahya Rahim Safavi, mengatakan konflik berpotensi meluas hingga Samudera Hindia apabila AS atau Israel kembali melancarkan serangan.
Pernyataan tersebut disampaikan Safavi dalam sebuah video yang dirilis kantor berita Iran, Fars, Kamis (24/9/2026).
“Karena konflik telah menyebar dari Teluk Persia dan Selat Hormuz hingga Laut Merah, ada kemungkinan bahwa, sebagai respons terhadap perang yang lebih besar, front tersebut akan meluas lebih jauh lagi, mencapai Samudera Hindia dan mungkin lebih jauh lagi,” kata Safavi.
Baca Juga : Trump Undang Putin ke KTT G20 di Miami, Rubio Beberkan Alasan
Safavi juga mengatakan militer Iran telah menyiapkan sejumlah rencana untuk menghadapi kemungkinan terburuk jika serangan AS atau Israel kembali terjadi. Peringatan tersebut menunjukkan kemungkinan perluasan wilayah konflik, bukan konfirmasi bahwa Iran telah membuka front baru di Samudera Hindia.
Konflik Meluas dari Hormuz ke Laut Merah
Perang AS-Iran yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 telah berdampak pada jalur pelayaran dan energi global. Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama dalam konflik setelah Iran memberlakukan pembatasan terhadap jalur tersebut.
Di sisi lain, konflik juga meluas ke Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb. Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran baru-baru ini menguasai wilayah pesisir Laut Merah dan area strategis di sekitar Bab el-Mandeb.
Perkembangan tersebut menambah tekanan terhadap jalur perdagangan yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui Laut Merah serta Terusan Suez. AFP melaporkan penguasaan wilayah tersebut oleh Houthi meningkatkan kekhawatiran terhadap perdagangan dan pelayaran internasional.
Safavi sebelumnya juga memperingatkan bahwa apabila AS kembali menyerang, front baru dapat terbuka di sekitar Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb.
Dengan perkembangan itu, pernyataan mengenai Samudera Hindia menjadi perluasan geografis lebih jauh dari wilayah konflik yang sebelumnya berpusat di Teluk Persia, Selat Hormuz dan Laut Merah.
Ancaman Gangguan Jalur Energi Dunia
Konflik di sekitar Selat Hormuz turut menimbulkan tekanan terhadap pasar energi global. Selat tersebut merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Baca Juga : AS Walk Out, Presiden Iran Negaranya Korban Terorisme
Ketidakpastian mengenai kelangsungan pelayaran membuat harga minyak kembali bergerak naik. Pada Kamis (24/9/2026), harga minyak Brent sempat melonjak sekitar 3 persen menjadi sekitar US$106 per barel dalam perdagangan Asia.
Kondisi tersebut terjadi ketika upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik masih berlangsung. Sebelumnya, harapan terhadap tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali arus minyak dan gas melalui Selat Hormuz sempat menekan harga minyak.
Namun, perkembangan konflik dan minimnya kepastian mengenai penghentian perang kembali membuat pasar mempertimbangkan risiko gangguan pasokan energi.
