Trump Buka Peluang Keringanan Sanksi Iran, dengan Syarat
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut membuka peluang memberikan keringanan sanksi kepada Iran dan mengakses kembali dana Iran yang dibekukan sebagai bagian dari kesepakatan kedua negara.
Namun, menurut seorang pejabat AS pada Senin (28/9/2026), keringanan tersebut baru dapat diberikan jika Iran menunjukkan kemajuan konkret dalam persoalan nuklir.
Pejabat tersebut mengatakan AS saat ini melakukan pembicaraan yang dinilai positif dan konstruktif melalui mediator untuk membawa Washington dan Teheran kembali ke meja perundingan.
Meski demikian, pejabat itu menegaskan kesepakatan tidak akan tercapai apabila persoalan nuklir belum diselesaikan.
Baca Juga: Garda Revolusi Iran Klaim Sita Drone Bawah Laut AS di Hormuz
Trump Tolak Proposal Terbaru Iran
Sementara itu, Trump pada Sabtu (26/9/2026) menolak proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menyebut tawaran tersebut tidak dapat diterima.
Sehari kemudian, Trump mengatakan kepada Axios bahwa dirinya memperkirakan pembicaraan lebih lanjut dengan Iran akan berlangsung pada pekan ini.
Dari pihak AS, pembicaraan tersebut melibatkan Utusan Khusus Steve Witkoff, Jared Kushner, Wakil Presiden JD Vance, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Namun, Trump pada Senin membantah bahwa dirinya telah menawarkan konsesi kepada Iran.
Melalui Truth Social, Trump menulis bahwa dirinya tidak menawarkan apa pun kepada Teheran, dan penyangkalan tersebut kemudian dikonfirmasi dalam laporan Reuters.
“Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi itu bukan kesepakatan yang ingin saya buat,” kata Trump pada Minggu.
“Itu adalah kesepakatan yang mungkin sudah kami setujui setahun lalu. Mereka telah bertindak terlalu jauh,” lanjutnya.
Laporan menyebut peluang keringanan sanksi dan pelepasan dana beku tersebut berasal dari keterangan pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, sehingga terdapat perbedaan dengan pernyataan Trump.
Baca Juga: BPJS Kesehatan Dapat Suntikan Rp20 Triliun, Apa Sebabnya?
Iran Disebut Fleksibel soal Nuklir
Menurut pejabat AS tersebut, Iran telah menunjukkan fleksibilitas dalam persoalan nuklir.
Namun, kedua pihak masih belum mencapai kesepakatan mengenai waktu pelaksanaan komitmen masing-masing.
Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mike Waltz sebelumnya mengatakan Trump menolak proposal Iran karena tidak yakin Teheran bernegosiasi dengan itikad baik.
Dalam wawancara dengan CNN, Waltz mengatakan Iran dinilai meminta seluruh konsesi diberikan terlebih dahulu sebelum pembicaraan lebih lanjut.
“Intinya, mereka meminta semuanya di muka dengan janji bahwa mereka kemudian akan berbicara,” kata Waltz dalam program State of the Union.
Waltz kemudian mengatakan kepada NBC dalam program “Meet the Press” bahwa Trump tidak memiliki banyak kepercayaan terhadap proposal Iran tersebut.
Ia menyebut tawaran terbaru Teheran sebagai upaya “cukup sinis” untuk mengajukan sesuatu yang sudah mereka ketahui tidak dapat diterima oleh AS.
Pejabat AS tersebut juga mengulangi pernyataan Waltz bahwa Washington skeptis terhadap janji Iran.
Sikap tersebut, menurut pejabat itu, berkaitan dengan tuduhan bahwa Iran melanggar nota kesepahaman AS-Iran yang dicapai pada Juli dengan menembaki kapal-kapal komersial.
Di sisi lain, pejabat AS dan Iran pada Senin melakukan pembicaraan secara terpisah dengan mediator sebagai bagian dari upaya baru untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tujuh bulan.
